Bisnis  

Misi Dagang Jatim–Jateng 2026 Cetak Transaksi Rp3,15 Triliun, Perkuat Integrasi Ekonomi Regional

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka Misi Dagang Jatim–Jateng 2026 yang mencatat transaksi Rp3,15 triliun.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat membuka Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur–Jawa Tengah Tahun 2026 di Semarang

SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengawali tahun 2026 dengan capaian signifikan melalui Misi Dagang dan Investasi Perdana Jawa Timur–Jawa Tengah. Kegiatan yang dipimpin langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa ini berhasil membukukan komitmen transaksi senilai Rp3,15 triliun.

Misi dagang tersebut digelar di Ballroom PO Hotel Semarang, Kamis (29/1/2026), dan menjadi momentum strategis untuk memperkuat konektivitas perdagangan, memperluas pasar domestik, serta mengintegrasikan rantai pasok antarwilayah.

Gubernur Khofifah menegaskan, pola transaksi dua arah antara Jawa Timur dan Jawa Tengah menunjukkan kebutuhan yang saling melengkapi. Melalui business matching, para pelaku usaha dari kedua provinsi berhasil menjalin kerja sama konkret yang berdampak langsung pada penguatan ekonomi regional.

Baca juga: Mendag Respons Keluhan Ongkir E-Commerce, Revisi Permendag 31/2023 Segera Rampung

“Terima kasih atas sinergi luar biasa ini. Dari proses business matching terlihat bahwa kebutuhan Jawa Timur dan Jawa Tengah bersifat komplementer. Hingga pukul 17.00 WIB, nilai transaksi telah melampaui Rp3,15 triliun,” ujar Khofifah.

Total komitmen transaksi tersebut terdiri dari:

Jatim Jual: Rp2,76 triliun, Jatim Beli: Rp296,86 miliar dan Jatim Investasi: Rp96 miliar.

Komoditas unggulan Jawa Timur yang diperdagangkan meliputi sektor peternakan, pangan, perikanan, industri pengolahan, perkebunan, hingga kehutanan. Di antaranya daging ayam dan sapi, susu, beras, gula kristal putih, kopi, pakan ikan dan udang, benih tebu, surimi, hingga produk perikanan dan hasil olahan lainnya.

Sementara itu, dalam skema Jatim Beli, Jawa Timur menyerap berbagai produk dari Jawa Tengah seperti kayu bulat, tembakau, cengkeh, telur ikan, tepung tapioka, gula merah tebu, sambal pecel, hingga kerajinan tas anyam. Pola muatan berangkat dan muatan balik ini dinilai mampu mengoptimalkan distribusi logistik antarwilayah.

Dalam misi dagang ini, tercatat 10 transaksi terbesar, salah satunya kerja sama Asosiasi Pelaku Usaha Peternakan Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan nilai Rp1,13 triliun per tahun. Kerja sama tersebut mencakup perdagangan daging unggas, sapi, susu, telur, DOC ayam, hingga ternak sapi.

Transaksi besar lainnya antara lain:

Perdagangan gula kristal putih senilai Rp300 miliar per tahun, Industri hasil tembakau Rp192 miliar per tahun, Penjualan surimi dan produk olahan Rp142,8 miliar per tahun, Perdagangan beras Rp126,5 miliar per tahun dan Penguatan Ekonomi Daerah

Baca juga: Khofifah Soroti Dampak Pemangkasan Dana Transfer ke Daerah, Usulkan Kenaikan DBHCHT untuk Jaga Fiskal Jatim

Khofifah menekankan bahwa penguatan perdagangan antarwilayah menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan ekonomi Jawa Timur.

“Pada Triwulan III-2025, ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,22 persen (y-on-y), melampaui rata-rata nasional,” paparnya.

Jawa Timur juga mencatat surplus perdagangan antarwilayah terbesar secara nasional sebesar Rp209 triliun, dengan surplus perdagangan terhadap Jawa Tengah mencapai Rp9,05 triliun.

Sejak 2019 hingga Januari 2026, Pemprov Jawa Timur telah menyelenggarakan 49 misi dagang domestik di 29 provinsi dengan total nilai komitmen Rp30,52 triliun, serta enam misi dagang luar negeri dengan potensi transaksi Rp5,89 triliun.

“Keberhasilan ini menunjukkan daya saing produk unggulan Jawa Timur. Kami berharap semangat kolaborasi ini terus terjalin bersama Jawa Tengah,” pungkas Khofifah.

Ikuti Kami Juga Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *