Bisnis  

Yulianto Buktikan Lahan Basah Sidoarjo Mampu Hasilkan Kelengkeng Berkualitas, Omzet Capai Rp250 Juta per Panen

Budidaya kelengkeng varietas New Crystal di lahan basah Tulangan Sidoarjo milik Yulianto menghasilkan panen hingga lima ton
Yulianto menunjukkan kebun kelengkeng varietas New Crystal di lahan basah Tulangan, Sidoarjo, yang mampu menghasilkan hingga lima ton buah per musim panen

SIDOARJO – Anggapan bahwa lahan basah tidak cocok untuk budidaya buah bernilai ekonomi tinggi berhasil dipatahkan oleh Yulianto, petani asal Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Melalui inovasi pengelolaan lahan dan sistem tanam yang tepat, ia sukses mengembangkan kebun kelengkeng seluas 1,2 hektare dengan produktivitas mencapai lima ton per musim panen.

Yulianto mengelola lahan yang memiliki karakteristik rawan genangan dan banjir. Untuk mengatasi tantangan tersebut, ia menerapkan sistem guludan atau timbunan tanah pada area tanam sehingga posisi akar tanaman berada lebih tinggi dan terhindar dari rendaman air.

Selain itu, ia terus meningkatkan kualitas saluran drainase di sekitar kebun agar air hujan maupun banjir dapat mengalir lebih cepat. Menurutnya, keberhasilan budidaya di lahan basah sangat bergantung pada kemampuan mengelola aliran air.

“Ketika banjir datang, yang terpenting adalah mempercepat surutnya air. Karena itu kami fokus membangun drainase yang baik dan menyesuaikan sistem tanam dengan kondisi lahan,” ujar Yulianto.

Saat ini, Yulianto menanam sekitar 300 pohon kelengkeng varietas New Crystal atau Kateki yang telah memiliki sertifikasi dan dikenal menghasilkan buah berkualitas unggul.
Setiap pohon mampu menghasilkan antara 30 hingga 50 kilogram buah dalam satu kali panen, tergantung usia dan ukuran tanaman. Dengan jumlah pohon yang ada, total produksi kebun mencapai sekitar 4 hingga 5 ton dalam satu musim panen.

Ia menjelaskan, proses dari pembosteran hingga panen memerlukan waktu sekitar enam bulan. Produktivitas masing-masing pohon berbeda-beda, namun rata-rata mampu memberikan hasil yang cukup tinggi.

Kesuksesan tersebut berawal dari rasa penasaran Yulianto sekitar satu dekade lalu. Saat membeli kelengkeng impor dengan harga yang relatif mahal, ia mempertanyakan mengapa Indonesia masih mengandalkan pasokan buah dari luar negeri padahal memiliki potensi lahan dan iklim yang mendukung.

Rasa ingin tahu itu mendorongnya mempelajari berbagai teknik budidaya kelengkeng dari petani, praktisi pertanian, hingga berbagai sumber referensi lainnya. Ia kemudian menerapkan ilmu yang diperoleh secara bertahap di lahan miliknya di Tulangan.

Yulianto juga menilai masih banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan antarvarietas kelengkeng. Padahal, setiap varietas memiliki karakteristik, kualitas buah, dan tingkat produktivitas yang berbeda.

Menurutnya, varietas New Crystal atau Kateki yang ia tanam memiliki kualitas buah yang baik dan sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia.

Selain menghadapi tantangan banjir, kebun tersebut juga kerap mendapat serangan hama, terutama kelelawar yang menyasar buah saat mendekati masa panen. Untuk mengurangi kerugian, Yulianto memasang jaring pelindung pada sejumlah area kebun.

Dari sisi ekonomi, usaha budidaya kelengkeng tersebut menunjukkan prospek yang menjanjikan. Dengan harga jual sekitar Rp50 ribu per kilogram, hasil panen 4 hingga 5 ton mampu menghasilkan omzet kotor antara Rp200 juta hingga Rp250 juta dalam satu musim.

Dalam satu tahun, kebun tersebut dapat menghasilkan panen sekitar 1,5 hingga 2 kali tergantung kondisi tanaman dan cuaca.

Meski demikian, Yulianto tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi. Ia mengembangkan kawasan tersebut sebagai pusat edukasi pertanian dan peternakan bagi masyarakat.

Di atas lahan seluas sekitar dua hektare, ia mengintegrasikan kebun kelengkeng dengan kolam, kandang kambing, peternakan, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Yulianto juga membuka kesempatan bagi pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang ingin mempelajari praktik pertanian secara langsung di lapangan.

Menurutnya, berbagi ilmu dan pengalaman menjadi bagian penting dari visi pengembangan kawasan tersebut.

Keberhasilan Yulianto membuktikan bahwa lahan basah yang selama ini dianggap kurang produktif dapat berubah menjadi sumber ekonomi baru yang bernilai tinggi. Dengan inovasi, manajemen air yang baik, serta pemilihan varietas unggul, budidaya kelengkeng di lahan basah mampu memberikan hasil yang menjanjikan sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.

Ikuti Kami Juga Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *