Tekno  

Snapchat Hentikan Reward untuk Video AI Murni, Prioritaskan Konten Kreator Manusia di Spotlight

Aplikasi Snapchat menerapkan kebijakan baru terkait video AI di fitur Spotlight.
Ilustrasi aplikasi Snapchat yang memperbarui kebijakan Spotlight dengan menghentikan reward untuk video yang sepenuhnya dibuat menggunakan AI.

JAKARTA – Snapchat resmi mengubah kebijakan sistem penghargaan di fitur Spotlight dengan menghentikan pemberian reward untuk video yang sepenuhnya dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Kebijakan baru tersebut menjadi langkah Snapchat untuk memperkuat posisi konten kreator manusia dan memastikan Spotlight tetap menjadi ruang bagi karya yang dianggap lebih autentik.

Melalui kebijakan terbaru ini, sistem rekomendasi Snapchat akan menyesuaikan mekanismenya sehingga hanya video yang dibuat oleh pengguna nyata yang berpeluang mendapatkan rekomendasi utama di Spotlight.

Snapchat Dorong Kreativitas Asli Pengguna

Snapchat menyatakan bahwa Spotlight dirancang sebagai tempat bagi pengguna untuk membagikan cerita, pengalaman, dan kreativitas personal.

Perusahaan menilai konten yang berasal dari pengalaman langsung manusia memiliki nilai lebih dibandingkan video yang sepenuhnya dibuat oleh mesin.

Snapchat tetap membuka peluang penggunaan teknologi AI, tetapi hanya sebagai alat pendukung kreativitas. Pengguna masih dapat memanfaatkan fitur AI untuk membantu proses pengeditan, penyempurnaan visual, maupun pengembangan ide konten.

Dengan demikian, AI diposisikan sebagai pendamping kreator, bukan pengganti proses kreatif manusia.

Bagian dari Upaya Bersihkan Konten Berkualitas Rendah

Langkah Snapchat ini menjadi bagian dari tren industri media sosial yang mulai memperketat aturan terhadap konten AI berkualitas rendah atau yang sering disebut sebagai AI slop.

Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai platform digital menghadapi tantangan akibat meningkatnya jumlah konten otomatis yang dinilai kurang memiliki nilai tambah bagi pengguna.

Snapchat sebelumnya juga telah memberikan sinyal akan mengurangi jumlah konten berbasis AI di platformnya. Kebijakan penghentian reward untuk video AI murni menjadi tindak lanjut dari upaya tersebut.

Platform Besar Mulai Batasi Konten AI

Snapchat bukan satu-satunya platform yang mulai memperketat aturan terhadap konten buatan AI.

Sejumlah perusahaan teknologi lain juga melakukan pendekatan berbeda untuk menghadapi peningkatan konten sintetis.

Beberapa platform mulai menyediakan fitur pelaporan maupun pendeteksi konten yang diduga dibuat menggunakan AI. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas interaksi pengguna di dunia digital.

Sementara itu, sejumlah layanan video juga memperbarui aturan monetisasi dengan membatasi konten yang dianggap tidak autentik, repetitif, atau dibuat secara massal menggunakan teknologi otomatis.

Kreator AI Tetap Bisa Berkarya, tetapi Harus Memiliki Unsur Manusia

Dengan kebijakan baru ini, kreator yang selama ini mengandalkan AI sepenuhnya untuk membuat video perlu mengubah strategi produksi kontennya.

Snapchat tidak melarang penggunaan AI secara keseluruhan. Namun, konten yang hanya mengandalkan mesin tanpa kontribusi kreatif manusia tidak lagi mendapatkan perlakuan yang sama dalam sistem penghargaan Spotlight.

Kreator tetap dapat menggunakan AI untuk membantu mencari ide, melakukan penyuntingan, membuat efek visual, maupun mempercepat proses produksi.

Namun, unsur cerita, pengalaman pribadi, dan kreativitas manusia tetap menjadi faktor utama.

Snapchat Perkuat Perlindungan Pengguna Muda

Selain kebijakan terkait AI, Snapchat juga memperkenalkan sejumlah perubahan untuk meningkatkan keamanan pengguna berusia muda.

Salah satunya adalah pembatasan berbagi konten Spotlight bagi pengguna usia 13 hingga 15 tahun. Pengguna dalam rentang usia tersebut hanya dapat membagikan postingan kepada orang yang sudah mengikuti mereka kembali.

Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi risiko penyalahgunaan informasi pribadi atau tindakan seperti doxxing.

Era Baru Konten Digital

Keputusan Snapchat menunjukkan adanya perubahan arah dalam industri media sosial. Jika sebelumnya platform berlomba memanfaatkan AI untuk memperbanyak konten, kini sejumlah perusahaan mulai mencari keseimbangan antara teknologi dan kreativitas manusia.

Bagi Snapchat, langkah ini menjadi strategi untuk memperkuat Spotlight sebagai ruang yang menampilkan karya asli pengguna.

Dengan semakin banyak platform yang memperketat aturan konten AI, masa depan media sosial diperkirakan akan lebih mengutamakan kombinasi antara inovasi teknologi dan nilai kreativitas manusia.

FALIHMEDIA.com berkomitmen memberikan berita terkini, lugas dan akurat. Dukung keberlanjutan jurnalisme dengan mengikuti kami di: Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *