JAKARTA – Vokalis band Kotak, Tantri Syalindri, akhirnya memberikan penjelasan mengenai dugaan penipuan investasi yang diduga dilakukan oleh salah seorang teman dekatnya. Kasus tersebut disebut menyebabkan kerugian hingga sekitar Rp10 miliar yang dialami Tantri bersama sejumlah teman sesama orang tua murid di sekolah anak mereka.
Dalam konferensi pers di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (29/6/2026), Tantri mengungkap alasan dirinya memutuskan berbicara secara terbuka melalui media sosial. Menurutnya, langkah itu dilakukan untuk mencegah munculnya korban baru.
Ia mengatakan banyak orang yang telah mengalami kerugian akibat dugaan investasi tersebut, termasuk beberapa teman dekatnya. Salah seorang korban bahkan menginvestasikan dana dengan harapan memperoleh keuntungan untuk membantu biaya pengobatan kanker.
Ungkap Kasus Demi Cegah Korban Bertambah
Tantri mengaku tidak ingin terus menyimpan persoalan tersebut karena khawatir pelaku kembali mencari korban lain. Ia pun memutuskan mengunggah identitas terduga pelaku melalui akun media sosial pribadinya.
Menurutnya, keputusan tersebut diambil setelah berdiskusi dengan para korban lain yang akhirnya sepakat untuk berbicara secara terbuka.
Sulit Percaya Dikhianati Teman
Tantri mengaku masih sulit menerima kenyataan bahwa orang yang diduga melakukan penipuan merupakan teman yang telah dikenalnya cukup lama.
Ia mengatakan selama beberapa hari terakhir masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Namun setelah berkomunikasi dengan korban lain, mereka memutuskan untuk mengambil sikap bersama.
Modus Berkedok Investasi
Tantri menjelaskan perkenalannya dengan terduga pelaku telah berlangsung sejak anak-anak mereka masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
Kepercayaan korban semakin besar karena terduga pelaku memiliki pekerjaan yang dinilai baik dan menawarkan investasi dengan alasan membutuhkan dukungan agar target pekerjaannya tercapai.
Seiring waktu, pelaku disebut mampu membangun kepercayaan para korban melalui pendekatan emosional hingga akhirnya banyak yang bersedia menanamkan dana.
Terduga Pelaku Menghilang
Kecurigaan mulai muncul ketika terduga pelaku tiba-tiba sulit dihubungi setelah menerima transfer dana terakhir dari para korban.
Tantri mengungkapkan seluruh akun media sosial terduga pelaku telah dihapus. Saat para korban mendatangi alamat rumahnya, keluarga pelaku mengaku tidak mengetahui keberadaannya.
Lebih Kecewa karena Dikhianati
Bagi Tantri, kerugian materi bukan menjadi hal yang paling menyakitkan. Ia mengaku lebih kecewa karena kepercayaan dalam hubungan pertemanan yang telah terjalin selama bertahun-tahun justru disalahgunakan.
Menurutnya, rasa dikhianati oleh teman sendiri menjadi luka yang hingga kini masih sulit diterima.
Pertimbangkan Langkah Hukum
Tantri mengatakan hingga kini para korban belum secara resmi membuat laporan ke kepolisian. Mereka masih berkoordinasi dengan kuasa hukum untuk menentukan langkah hukum yang akan ditempuh.
Ia berharap proses tersebut dapat memberikan kejelasan sekaligus menjadi pembelajaran agar masyarakat lebih berhati-hati sebelum memutuskan berinvestasi.
Dana Berasal dari Tabungan Masa Depan
Tantri menjelaskan dana yang ditempatkan dalam investasi tersebut merupakan hasil kerja kerasnya bersama sang suami selama berkarier di industri musik.
Sebagai pekerja seni yang tidak memiliki dana pensiun, mereka berupaya menyisihkan sebagian penghasilan untuk investasi demi kebutuhan masa depan.
Tetap Membuka Pintu Maaf
Meski mengaku kecewa, Tantri menyatakan tetap membuka pintu maaf apabila terduga pelaku bersedia bertanggung jawab atas perbuatannya.
Namun, ia menegaskan proses hukum dan bentuk pertanggungjawaban tetap harus dijalankan sesuai ketentuan yang berlaku sebagai konsekuensi atas tindakan yang diduga dilakukan.














