JAWA TENGAH – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mempercepat relokasi korban bencana tanah gerak yang terjadi di sejumlah wilayah. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 900 rumah rusak dan masuk daftar relokasi. Jumlah terbanyak berada di Kabupaten Tegal.
Selain Kabupaten Tegal, relokasi juga dilakukan di Kabupaten Purbalingga, Pemalang, dan Batang.
Menurut Luthfi, percepatan relokasi dilakukan demi keselamatan warga. Curah hujan yang masih tinggi meningkatkan risiko bencana susulan. Karena itu, warga tidak boleh terlalu lama tinggal di lokasi rawan.
“Kami sudah menginstruksikan para bupati. Lahan relokasi tersedia di wilayah Perhutani dan sudah melalui pengecekan. Hasilnya aman,” kata Luthfi, Rabu (11/2/2026).
Baca juga: Tanah Gerak Meluas di Pamekasan, Sembilan Rumah Warga Pasean Terancam Ambruk
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat 800 rumah terdampak berada di Desa Padasari, Kabupaten Tegal. Sementara itu, 50 rumah berada di Purbalingga, 30 rumah di Pemalang, dan 20 rumah di Batang.
Pemprov Jateng menargetkan warga segera pindah dari lokasi pengungsian ke Hunian Sementara (Huntara). Pemindahan dilakukan setelah lokasi relokasi ditetapkan secara resmi.
Luthfi memastikan pemerintah tidak hanya menyiapkan tempat tinggal yang aman. Akses pendidikan anak-anak dan keberlanjutan mata pencaharian warga juga menjadi perhatian utama.
Baca juga: Banjir Kali Ulu Rendam Permukiman Cikarang Utara, Brimob Polda Metro Jaya Evakuasi Warga
Pemerintah daerah mengakui masih ada warga yang belum bersedia pindah. Sebagian warga mempertimbangkan faktor pekerjaan. Ada juga yang khawatir kehilangan harta benda.
Untuk mempercepat relokasi, Pemprov Jateng menggandeng TNI dan Polri. Aparat diminta membantu edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Pemerintah kabupaten juga diminta melakukan pendekatan persuasif.
Selain itu, Dinas Sosial diminta melakukan pendataan menyeluruh. Pendataan mencakup identitas warga, pekerjaan, serta aset yang dimiliki.
“Pendataan harus lengkap agar tidak ada warga yang tercecer saat relokasi,” tegas Luthfi.
Saat ini, warga terdampak tanah gerak di Kabupaten Tegal masih berada di pengungsian. Pemerintah memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi.
Dapur umum dan posko kesehatan telah beroperasi. Layanan tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan kesehatan warga. Akses pendidikan anak-anak juga tetap berjalan selama masa pengungsian.
“Jika ada kekurangan, segera laporkan. Pangan dan kesehatan warga menjadi prioritas,” ujar Luthfi.
Luthfi juga meminta para bupati dan wali kota segera menetapkan status Tanggap Bencana Lokal jika terjadi bencana berbahaya. Penetapan status ini akan mempercepat intervensi dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
“Jika terjadi bencana, segera tetapkan tanggap bencana lokal. Provinsi akan langsung turun melakukan penanganan,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Luthfi mengimbau masyarakat Jawa Tengah tetap waspada terhadap longsor, banjir, rob, dan tanah gerak. Curah hujan yang masih tinggi berpotensi memicu bencana di sejumlah wilayah.














