JAKARTA – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh masyarakat Jawa Barat, baik yang memberikan dukungan maupun kritik terhadap kepemimpinannya. Menurutnya, dukungan dan kritik adalah dua elemen penting dalam proses demokrasi dan pembangunan daerah.
Hal tersebut disampaikan Dedi Mulyadi melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, Selasa (3/2/2026). Dalam pernyataannya, pria yang akrab disapa KDM itu mengucapkan terima kasih atas berbagai pandangan, gagasan, dan masukan dari masyarakat yang selama ini terus mengalir.
Dedi menilai dukungan publik menjadi energi besar baginya untuk tetap menjaga amanah sebagai Gubernur Jawa Barat. Ia bahkan menyebut, tanpa dukungan masyarakat, dirinya bukanlah siapa-siapa.
Tak hanya apresiasi terhadap pendukung, Dedi Mulyadi juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang kerap melontarkan kritik, baik yang disampaikan secara santun maupun tajam.
Menurutnya, kritik merupakan tanda bahwa masyarakat peduli terhadap jalannya pemerintahan dan pembangunan di Jawa Barat. Bahkan, Dedi memaknai kritik sebagai bentuk cinta kepada daerah, meskipun disampaikan dengan cara yang berbeda.
“Kritik dan dukungan itu sama-sama penting. Keduanya adalah sahabat saya. Demokrasi memang berisi perbedaan pandangan,” ujar Dedi.
Dedi Mulyadi menilai sisi positif dan negatif dalam dinamika demokrasi justru saling melengkapi dan mendorong evaluasi agar pembangunan di Jawa Barat terus membaik.
Pandangan tersebut juga berkaitan dengan sorotan publik terhadap aksinya yang turun langsung membantu evakuasi korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (24/1/2026).
Saat itu, Dedi Mulyadi ikut membantu Tim SAR gabungan TNI, Polri, dan relawan mengevakuasi korban yang terjepit batu dan pohon. Aksinya sempat menuai kritik dari sejumlah pemuda yang menilai evakuasi bukan tugas seorang gubernur.
Menanggapi kritik tersebut, Dedi kembali menyampaikan terima kasih. Ia menjelaskan bahwa kehadirannya di lokasi bencana bukan untuk pencitraan, melainkan sebagai bentuk empati dan dukungan moral bagi korban serta para petugas di lapangan.
Menurut Dedi, kehadiran pemimpin di tengah masyarakat saat bencana dapat memberikan semangat dan energi positif. Bahkan, ia mengaku kerap memberikan bantuan kecil kepada relawan sebagai bentuk apresiasi, karena di lapangan banyak hal tak terduga yang dihadapi para petugas.
Bagi Dedi Mulyadi, kepemimpinan bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal kehadiran, empati, dan keberpihakan pada kemanusiaan.











