BANDA ACEH – Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh yang berlangsung di pusat Kota Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), berubah menjadi kericuhan. Bentrokan pecah di sekitar Masjid Raya Baiturrahman dan sejumlah titik lain setelah massa terlibat aksi saling lempar dengan aparat keamanan.
Kericuhan tersebut menimbulkan korban luka dari kalangan warga sipil dan aparat. Sejumlah kendaraan serta fasilitas di sekitar lokasi juga mengalami kerusakan akibat aksi massa.
Ribuan warga sebelumnya memadati kawasan Masjid Raya Baiturrahman untuk mengikuti zikir dan doa tolak bala dalam rangka memperingati 21 tahun perdamaian Aceh. Namun, suasana berubah tegang setelah muncul simbol dan seruan politik di tengah kerumunan.
Dua Warga Aceh Timur Terluka
Dua warga asal Kabupaten Aceh Timur, Ismail (43) dan Makmur, harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Kesdam Aceh setelah terkena lemparan batu.
Keduanya mengalami luka pada bagian kepala ketika berusaha menyelamatkan diri dari kerumunan yang mulai ricuh di sekitar Taman Adi Pura.
Ismail mengatakan dirinya bersama Makmur datang ke kawasan Masjid Raya Baiturrahman untuk mengikuti zikir dan doa. Keduanya bekerja sebagai pekerja bangunan dan sudah lama tinggal di Banda Aceh.
“Saat ribut, kami lari ke sekitar Taman Adi Pura. Di situ ada yang melempar, kena kepala,” ujar Ismail saat memberikan keterangan di RS Kesdam Aceh.
Menurut Ismail, mereka tidak menyangka kegiatan keagamaan tersebut berkembang menjadi kerusuhan.
“Kami ikut untuk zikir dan doa tolak bala. Kami tidak tahu bakal berakhir begini. Ada juga peserta aksi damai yang ditangkap,” katanya.
Anggota TNI Juga Jadi Korban
Kericuhan juga melibatkan aparat keamanan. Seorang anggota TNI dari jajaran Kodam Iskandar Muda mengalami pengeroyokan ketika menjalankan tugas pengamanan di sekitar taman Masjid Raya Baiturrahman.
Rekaman video amatir yang beredar di sejumlah grup WhatsApp dan media sosial memperlihatkan sejumlah orang mengejar serta melakukan kekerasan terhadap anggota TNI tersebut.
Hingga berita ini ditulis, jajaran Kodam Iskandar Muda belum menyampaikan keterangan resmi mengenai kondisi anggotanya.
Bendera Bintang Bulan Picu Ketegangan
Situasi mulai memanas setelah massa mengibarkan bendera Bintang Bulan di sekitar kawasan Masjid Raya Baiturrahman. Massa kemudian menyampaikan sejumlah aspirasi politik dan meneriakkan seruan “merdeka”.
Konsentrasi massa meluas dari kawasan Masjid Raya Baiturrahman menuju Taman Sari hingga sekitar Pendopo Gubernur Aceh.
Aparat keamanan kemudian menghadapi massa yang melakukan pelemparan batu. Petugas juga melepaskan tembakan peringatan untuk mengendalikan situasi.
Kericuhan turut merusak sejumlah kendaraan yang berada di sekitar lokasi. Massa membakar beberapa sepeda motor dan mobil sehingga asap serta puing pembakaran mengganggu akses jalan utama di pusat kota.
Aktivitas Kota Banda Aceh Sempat Terganggu
Kerusuhan membuat aktivitas masyarakat di sejumlah ruas jalan pusat Banda Aceh terganggu selama beberapa jam. Massa dan puing kendaraan yang terbakar menutup akses di sejumlah titik.
Sejumlah wisatawan yang berada di kawasan tersebut juga ikut terdampak dan kesulitan keluar dari lokasi ketika kericuhan berlangsung.
Menjelang sore, sebagian peserta aksi meninggalkan kawasan Masjid Raya Baiturrahman. Namun, situasi belum sepenuhnya kondusif karena sebagian massa bergerak menuju kawasan pemerintahan, termasuk Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dan Kantor Gubernur Aceh.
Aparat gabungan tetap berjaga di sejumlah jalur protokol untuk mencegah aksi susulan.
Pihak berwenang masih mendata jumlah korban luka dan kerugian akibat kericuhan. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat menjaga ketenangan serta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum memiliki sumber jelas.
Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh yang semestinya menjadi momentum refleksi dan persatuan itu akhirnya menyisakan catatan kelam setelah bentrokan terjadi di jantung Kota Banda Aceh.5
















