JAKARTA – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan keyakinannya bahwa nilai tukar rupiah memiliki peluang untuk kembali menguat dalam waktu dekat. Optimisme tersebut muncul di tengah tekanan yang masih membayangi mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Purbaya menegaskan pemerintah terus memantau perkembangan pasar keuangan dan menyerahkan upaya stabilisasi nilai tukar kepada Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.
“Kami berharap rupiah dapat menguat dalam waktu yang tidak terlalu lama. Bank Indonesia terus menjalankan tugasnya untuk menjaga stabilitas nilai tukar,” ujar Purbaya saat ditemui di Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Senin (9/6/2026).
Menurutnya, dinamika pasar saat ini masih berada pada fase awal sehingga pelaku ekonomi belum dapat memastikan titik keseimbangan baru nilai tukar rupiah. Namun, ia menilai peluang penguatan mata uang nasional masih terbuka.
Purbaya menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar selalu mengikuti kondisi ekonomi global dan sentimen pasar. Karena itu, ia meyakini rupiah tidak akan terus berada dalam tekanan tanpa menemukan level keseimbangan yang baru.
“Kondisi saat ini masih berkembang. Pasar nantinya akan menemukan titik stabilitas baru dan dari situ kita bisa melihat arah pengelolaan anggaran serta kondisi ekonomi ke depan,” katanya.
Rupiah Cetak Rekor Terendah Baru.
Optimisme pemerintah tersebut muncul setelah rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar AS pada perdagangan awal pekan. Pada penutupan pasar, nilai tukar rupiah melemah sekitar 0,89 persen dan menembus level Rp18.180 per dolar AS.
Level tersebut menjadi posisi terendah baru bagi mata uang Indonesia di tengah meningkatnya permintaan terhadap dolar AS di pasar global.
Analis menilai penguatan indeks dolar AS masih menjadi faktor utama yang membatasi ruang apresiasi berbagai mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah. Tingginya minat investor terhadap aset berdenominasi dolar membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang terus berlanjut.
Meski demikian, pemerintah dan Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, memperkuat kepercayaan investor, serta mengendalikan volatilitas nilai tukar agar tidak mengganggu fundamental ekonomi nasional.
BI Terus Perkuat Stabilitas Pasar
Bank Indonesia selama ini mengandalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk menjaga keseimbangan pasar valuta asing. Langkah tersebut mencakup intervensi di pasar valas, penguatan likuiditas, serta koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi makro.
Pemerintah berharap kondisi pasar keuangan global yang lebih kondusif ke depan dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih stabil dan kembali menguat terhadap dolar AS.
Di sisi lain, pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan suku bunga global, serta kondisi geopolitik yang turut memengaruhi pergerakan nilai tukar berbagai mata uang dunia.













