Sejarah Masjid Baiturrahmah dan MI Annibros 2 Giligenting, Jejak Pengabdian H. Muhdar

Masjid Baiturrahmah Dusun Julung Desa Galis Giligenting Sumenep yang dibangun atas gagasan H. Muhdar sebagai pusat ibadah dan pendidikan Islam
Masjid Baiturrahmah Setelah dilakukan Renovasi di Dusun Julung, Desa Galis, Giligenting, menjadi awal berkembangnya pendidikan Islam melalui berdirinya MI Annibros 2 dan Yayasan Annibros

SUMENEP – Perjalanan pembangunan lembaga keagamaan dan pendidikan di Dusun Julung, Desa Galis, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, tidak dapat dilepaskan dari sosok H. Muhdar, seorang tokoh masyarakat yang dikenal dermawan dan memiliki kepedulian besar terhadap kemajuan agama serta pendidikan.

Berdirinya Masjid Baiturrahmah

Sekitar tahun 1980 atau 1981, H. Muhdar menggagas pembangunan Masjid Baiturrahmah sebagai pusat ibadah dan kegiatan keagamaan masyarakat Julung. Saat itu, H. Muhdar berdomisili di Dusun Bundan Daja, Desa Galis, yang kini rumahnya berada tepat di sebelah barat Balai Desa Galis.

Pelaksanaan pembangunan masjid dipimpin oleh K. Muryam Nursalam selaku Ketua Panitia Pembangunan. Masjid Baiturrahmah didirikan di atas tanah wakaf milik Ibu Ruhma (Almh), yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan “Ghel Pelle“.

Selain menjadi penggagas pembangunan masjid, H. Muhdar juga berinisiatif memohon kepada K. Anwaruddin dari Desa Gedugan agar bersedia menjadi Pengelola Wakaf (Nadzir) dan turut berkontribusi dalam pengembangan syiar Islam di wilayah tersebut.

Pada suatu malam peringatan Isra’ Mi’raj, di akhir-akhir masa jabatan Kepala Desa Galis, Moh. Saleh Hadi (1973–1989), dilaksanakan penyerahan dan pengakuan kepada K. Rahani atau K. Anwaruddin sebagai sesepuh masyarakat Julung. Momentum tersebut menjadi simbol persatuan masyarakat agar senantiasa hidup rukun, damai, dan saling menghormati.

Awal Berdirinya MI Annibros 2

Sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan, pada tahun 1992 H. Muhdar mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Annibros 2. Pada awal berdirinya, madrasah ini hanya memiliki tiga ruang kelas.

Tenaga pendidik pertama yang mengabdikan diri di MI Annibros 2 antaranya:

  1. Fauzan, S.Pd.I. (Alm)
  2. Nuruddin (Alm)

Selanjutnya, sekitar tahun 1990-an, KH. Moh. Sholeh Hasan (Alm) turut mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik. Kemudian pada tahun 1999, Bapak Marguso bergabung sebagai guru untuk memperkuat proses pembelajaran.

Pada masa awal operasional, fasilitas belajar masih sangat terbatas. Bangku sekolah hanya tersedia untuk satu kelas sehingga muncul rencana memindahkan siswa kelas IV ke MI Annibros 1. Namun, para siswa menolak karena  tidak ingin meninggalkan sekolah di Julung. Bahkan mereka menyatakan lebih memilih berhenti sekolah daripada harus berpindah. Atas pertimbangan tersebut, kegiatan belajar tetap dilaksanakan di MI Annibros 2.

Perkembangan di Bawah Kepemimpinan KH. Zuhdi Salim

Pada tahun 1993, kepemimpinan madrasah diteruskan oleh KH. Zuhdi Salim sebagai kepala madrasah. Saat itu, MI Annibros 2 belum memiliki akreditasi sehingga belum berwenang menerbitkan ijazah sendiri. Oleh karena itu, pelaksanaan Ujian Akhir masih menginduk di MI Annibros 1 dengan di Kepalai H. Munali.

Di bawah kepemimpinan KH. Zuhdi Salim, jumlah peserta didik meningkat pesat. Meskipun demikian, kesejahteraan guru masih menjadi  tantangan karena belum tersedia honor tetap bagi tenaga pendidik.

Antara tahun 1993 hingga 2000, kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dalam dua sesi akibat keterbatasan ruang kelas, yaitu:

Pukul 07.00–10.00 WIB untuk siswa kelas I hingga III.

Setelah itu dilanjutkan oleh siswa kelas IV hingga VI.

Perjuangan Honor Guru dan Berdirinya Yayasan

Sekitar tahun 1999, honor guru mulai dapat direalisasikan. Pendanaannya berasal dari swadaya tokoh masyarakat, di antaranya:

  1. Zuhdi Salim
  2. Muhdar, melalui Pak Uwar, H. Mawardi dan Bapak Munali.

Sementara itu, Akta Notaris Yayasan Annibros (YASROS) resmi diterbitkan pada tahun 1996,  menjadi landasan hukum bagi pengelolaan lembaga pendidikan di bawah yayasan.

Meskipun demikian, bantuan honor guru dari Pemerintah Kabupaten Sumenep baru mulai diberikan pada tahun 2021 melalui program bantuan lokal.

Pengembangan Lembaga Pendidikan

Seiring berkembangnya kebutuhan pendidikan masyarakat, Yayasan Annibros terus memperluas layanan pendidikan.

Beberapa tonggak penting perkembangannya meliputi:

1992 : Berdirinya MI Annibros 2.

1996 : Yayasan Annibros (YASROS) memperoleh Akta Notaris.

2006 : Berdirinya Madrasah Tsanawiyah (MTs) Anwaruddin.

2016 : Berdirinya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Anwaruddin.

Pergantian Kepemimpinan

KH. Zuhdi Salim menjabat sebagai Kepala Madrasah sekaligus Ketua Yayasan selama kurang lebih delapan tahun. Namun, pada tahun 2021, berdasarkan ketentuan dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), kepala sekolah tidak lagi diperbolehkan merangkap jabatan sebagai ketua yayasan.

Sebagai tindak lanjut dari ketentuan tersebut, jabatan Kepala Madrasah kemudian diserahkan kepada K. Nasiruddin, sementara kepengurusan yayasan tetap diketuai oleh KH. Zuhdi Salim.

 

Sumber: KH. Zuhdi Salim (Takmir Masjid Baiturrahmah dan Ketua Yayasan Annibros), Bapak Marguso (Guru Bahasa Madura) dan Rasyidi (Alumni Pertama MI Annibros 2)

Ikuti Kami Juga Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *