Sejarah Desa Galis Giligenting: Asal Usul, Pemerintahan, dan Perkembangan Pembangunan

Pendopo Balai Desa Galis Giligenting, saksi sejarah panjang pemerintahan dan perkembangan masyarakat di Pulau Giligenting, Kabupaten Sumenep
Pendopo Balai Desa Galis Giligenting, saksi sejarah panjang pemerintahan dan perkembangan masyarakat di Pulau Giligenting, Kabupaten Sumenep

FALIHMEDIA.COM | SUMENEP – Desa Galis merupakan salah satu desa yang berada di Pulau Giligenting, sebuah pulau kecil di selatan Kadipaten Sumenep, Madura. Pulau ini dikenal dengan tanahnya yang datar berbatu, dipenuhi pepohonan dan semak lebat. Sejak dahulu, masyarakat hidup sederhana dengan cara primitif namun tetap rukun dan damai.

Pulau Giligenting, yang tampak jelas dari daratan Kadipaten Sumenep, mulai dikenal karena letaknya yang strategis. Kehidupan masyarakat yang semula sederhana perlahan berkembang, ditandai dengan kemampuan bercocok tanam umbi-umbian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Karena lahan yang keras dan berbatu, masyarakat setempat kemudian disebut “Galis”, yang berarti tanah keras dan berbatu. Saat komunitas tersebut berkembang menjadi sebuah permukiman resmi, mereka sepakat menamai wilayahnya sebagai Desa Galis.

Sejarah Pemerintahan Desa Galis

Keberadaan Desa Galis sudah tercatat sejak masa Hindia Belanda sekitar tahun 1879, bahkan dalam peta resmi yang digunakan untuk penelitian geolistrik pada tahun 2001. Desa Galis sejak dulu terbagi dalam enam dusun, yaitu:

Dusun Bundan Daja

Dusun Julung Daja

Dusun Julung Lao’

Dusun Bundan Lao’

Dusun Bara’ Lao’

Dusun Galis Bara’

Dari dusun-dusun tersebut kemudian lahir berbagai kampung, di antaranya Kampung Duko, Mor Cabbi, Sapokang, Jember, Karang Bato, dan Galagga.

Pemimpin pertama Desa Galis adalah Kasir Santara, namun hanya bertahan enam bulan karena kurang mendapat dukungan masyarakat. Selanjutnya, pada tahun 1890, Kadipaten Sumenep menunjuk Abdul Aziz dari Desa Karang Duwak, Sumenep, sebagai kepala desa. Ia memimpin hingga 1920 dan menjadi sosok penting dalam sejarah Galis. Kisah cintanya dengan Halimah, seorang gadis desa setempat, melahirkan keturunan yang hingga kini masih menjadi bagian dari kepemimpinan desa.

Kepala desa berikutnya adalah Rabiuddin Singopakso (1920–1952), yang mulai memperkenalkan sistem pemilihan demokratis sederhana menggunakan potongan bambu. Setelah itu, kepemimpinan desa terus berlanjut secara demokratis dengan nama-nama berikut:

NoNama Kepala DesaTahun MenjabatJabatanKeterangan
1Kasir Santaras/d 1890Kades6 bulan
2Abdul Aziz1890 – 1922Kades32 tahun
3Rabiuddin Singopakso1922 – 1952Kades30 tahun
4Moh. Syafiuddin1952 – 1973Kades21 tahun
5Moh. Saleh Hadi1973 – 1989Kades16 tahun
6Sasro Amijoyo1989 – 1991Pj Kades6 bulan
7H. Abdul Kadir Jailani1991 – 1998Kades8 tahun
8Sasro Amijoyo1998 – 1999Pj Kades6 bulan
9A. Syaiful Hartono1999 – 2012Kades13 tahun
10Akhmad Safri Wiarda2013 – sekarangKades

Sejarah Pembangunan Desa Galis

Pada masa awal, pembangunan Desa Galis banyak bergantung pada swadaya masyarakat. Masjid dan Balai Desa lama merupakan bukti nyata semangat gotong royong setelah kemerdekaan.

Memasuki tahun 1960-an hingga 1970-an, akses jalan mulai diperbaiki secara swadaya, bahkan jalan desa yang sulit ditembus akhirnya diaspal meski hanya puluhan meter. Pada tahun 1971, Desa Galis berhasil meraih Juara Harapan I Lomba Desa tingkat Jawa Timur.

Era 2000-an membawa perubahan signifikan dengan hadirnya Dana Alokasi Umum (DAU) yang kemudian berkembang menjadi Alokasi Dana Desa (ADD). Meski masih terbatas, dana ini sangat membantu mendorong pembangunan infrastruktur dan layanan masyarakat di Desa Galis hingga sekarang.

Baca berita lainnya di Google News dan WhatsApp Channel
atau Telegram Channel

Anda dapat menyiarkan ulang, menulis ulang, dan atau menyalin konten ini dengan mencantumkan sumber falihmedia.com