SUMENEP – Kawasan pesisir barat bagian utara Madura Timur menyimpan berbagai peninggalan sejarah yang masih berdiri hingga kini. Salah satunya berada di Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, berupa bangunan viaduk peninggalan era kolonial yang menjadi jejak perjalanan kereta api masa lalu.
Bangunan yang berada di Dusun Blajud tersebut sekilas menyerupai jembatan layang atau flyover. Namun, viaduk memiliki fungsi dan karakter arsitektur yang berbeda karena sejak awal dirancang sebagai jalur penyeberangan kereta api untuk melewati medan yang memiliki rintangan luas, seperti lembah, sungai, maupun kawasan dengan kontur tidak rata.
Berbeda dengan flyover modern yang menggunakan konstruksi beton atau baja dengan jarak tiang penyangga lebih lebar, viaduk memiliki ciri khas berupa deretan lengkungan dan pilar penyangga yang tersusun rapat serta memanjang mengikuti jalur yang dilalui.
Baca juga: Gudang Kayu dan Toko Bangunan di Pamekasan Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp2 Miliar
Viaduk Karduluk kini berada dalam pengelolaan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Meski belum ditemukan catatan tertulis mengenai tahun pembangunannya, masyarakat memperkirakan bangunan tersebut telah berdiri sejak abad ke-20 Masehi ketika jalur transportasi kereta api masih berkembang di Pulau Madura.
Selain viaduk, kawasan Dusun Blajud juga menyimpan sejumlah peninggalan dan keunikan alam lain. Tidak jauh dari lokasi tersebut terdapat sebuah sumur mati peninggalan lama serta hamparan batu karang yang memiliki bentuk unik dan dikenal masyarakat setempat dengan nama Tosolong atau Bato Solong.
“Warga sejak dulu menyebutnya Tosolong atau Bato Solong,” ujar Apel Dusun Blajud, Abdul Hadi.
Baca juga: Bahlil Hormati Penyidikan Dugaan Korupsi Batu Bara PLTU, ESDM Siap Berikan Data ke Penyidik
Batu karang tersebut memiliki sejumlah rongga besar yang menyerupai lorong atau terowongan alami. Pengunjung yang datang ke lokasi ini perlu berhati-hati karena permukaan batu cukup tajam dan licin, terutama saat kondisi basah.
Di bagian atas kawasan batu karang juga terlihat dua bangunan menyerupai makam. Namun, menurut Abdul Hadi, bangunan tersebut bukan makam asli, melainkan dibuat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Pekerjaannya orang yang tidak bertanggung jawab. Jadi bukan makam sungguhan,” jelasnya.
Baca juga: BumDes Serunai Jingga Gandeng Karang Taruna Bringsang Buka Steam Motor, Buka Lapangan Kerja Pemuda
Untuk mencapai lokasi viaduk dan kawasan Tosolong, wisatawan harus melewati jalan kampung sekitar dua kilometer dari Balai Desa atau Kantor Kepala Desa Karduluk. Akses menuju lokasi cukup mudah dilalui saat kondisi cuaca mendukung.
Dari kawasan tersebut, pengunjung juga dapat menikmati pemandangan laut serta melihat hamparan daratan hingga pegunungan di wilayah timur Pulau Jawa ketika cuaca cerah.
Keberadaan viaduk Karduluk menjadi bukti bahwa Madura tidak hanya memiliki kekayaan budaya dan alam, tetapi juga menyimpan jejak sejarah infrastruktur masa kolonial yang menarik untuk terus dikaji dan dilestarikan.
















