BANDA ACEH – Baitul Mal Aceh (BMA) membuka peluang kolaborasi dengan dunia usaha dan sektor pariwisata untuk memperluas manfaat zakat, infak, dan wakaf sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kepala BMA Muhammad Yunus atau Abon Yunus menyampaikan peluang tersebut saat menerima audiensi Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Aceh, Miftahul Jannah, S.T., bersama jajaran di Aula BMA, Banda Aceh, Kamis (10/9/2026).
Dalam pertemuan itu, Abon Yunus mengatakan BMA membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk mengoptimalkan pengelolaan dana dan aset umat. Menurut dia, kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media, serta elemen lainnya dapat memperluas jangkauan program BMA.
“Baitul Mal tidak mungkin bekerja sendiri. Kami membutuhkan sinergi dengan masyarakat, pemerintah, media, serta berbagai pihak agar program yang dijalankan benar-benar tepat sasaran,” kata Abon Yunus.
BMA Dorong Pengembangan Wakaf Produktif
Abon Yunus menjelaskan, kewenangan BMA mencakup pengelolaan zakat, infak, wakaf, harta keagamaan lainnya, serta harta perwalian.
BMA secara khusus melihat wakaf sebagai salah satu instrumen yang memiliki potensi besar untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurut Abon Yunus, masyarakat dan pemerintah dapat mengembangkan aset wakaf yang belum termanfaatkan secara optimal menjadi aset produktif.
Pengembangan tersebut dapat menyasar berbagai bidang, seperti pendidikan, perkebunan, usaha masyarakat, hingga kegiatan ekonomi lainnya.
“Kita ingin mendorong gerakan wakaf produktif agar aset wakaf tidak hanya menjadi aset yang diam, tetapi mampu memberikan manfaat yang terus mengalir bagi umat dan generasi mendatang,” ujarnya.
Untuk merealisasikan gagasan itu, BMA mengajak pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pihak membangun kerja sama dalam mengembangkan wakaf produktif. BMA tetap menekankan pentingnya administrasi, tata kelola, dan kepatuhan terhadap ketentuan hukum dalam pengelolaan aset wakaf.
Selain mengelola wakaf, BMA menjalankan berbagai program sosial untuk membantu masyarakat. Program tersebut mencakup bantuan bagi fakir miskin, beasiswa dan dukungan pendidikan, bantuan bagi masyarakat sakit, bantuan sosial, hingga penanganan korban bencana dan kebakaran.
BMA Buka Ruang Kritik dan Kolaborasi dengan Media
Abon Yunus juga menyoroti peran media dalam membangun komunikasi antara BMA dan masyarakat. Ia menegaskan BMA terbuka terhadap kritik, saran, dan masukan selama penyampaiannya berdasarkan informasi yang jelas dan konstruktif.
Menurutnya, komunikasi yang baik dapat membantu masyarakat memahami program sekaligus mendorong pengelolaan dana umat secara lebih transparan dan tepat sasaran.
Sementara itu, Ketua DPD ASITA Aceh Miftahul Jannah mengatakan audiensi tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan organisasi sekaligus membuka peluang kerja sama dengan BMA.
ASITA Aceh melihat peluang kolaborasi dalam sejumlah bidang, termasuk perhotelan, pariwisata, kegiatan sosial, serta berbagai program yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Ketua ASITA Aceh Coba Bayar Infak via QRIS BMA
Dalam audiensi tersebut, Miftahul Jannah turut mencoba secara langsung kanal pembayaran infak digital melalui QRIS BMA. Ia melakukan transaksi infak senilai Rp1 juta.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengenalan penggunaan kanal pembayaran digital yang BMA sediakan untuk memudahkan masyarakat menyalurkan infak.
Pertemuan BMA dan ASITA Aceh menjadi langkah awal untuk memperkuat komunikasi dan membuka kerja sama yang lebih luas. Kolaborasi pengelolaan dana umat dengan sektor pariwisata juga berpeluang mendorong pemberdayaan ekonomi sekaligus memperkenalkan potensi Aceh kepada masyarakat yang lebih luas.
Dengan sinergi tersebut, BMA dan ASITA Aceh dapat membuka ruang bagi program sosial dan ekonomi yang tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga mendukung pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
















