SUMENEP – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep bergerak cepat mengendalikan serangan bakteri layu pada tanaman cabai melalui Gerakan Pengendalian (Gerdal) di Kelompok Tani Bukem Jaya, Desa Sendir, Kecamatan Lenteng, Rabu (22/7/2026).
Langkah tersebut dilakukan setelah tim lapangan menemukan indikasi serangan bakteri layu pada sejumlah tanaman cabai. DKPP segera menggelar pengendalian untuk mencegah penyebaran penyakit semakin luas sekaligus menjaga produktivitas tanaman milik petani.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Sendir, Ariestiowati Wulandari, mengatakan kegiatan itu melibatkan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) bersama seluruh penyuluh pertanian di Kecamatan Lenteng. Mereka mendampingi petani agar menerapkan teknik pengendalian yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
Baca juga: DKPP Sumenep Salurkan Bibit Jagung Hibrida ke Kelompok Tani Giligenting, Dorong Produktivitas dan Ketahanan Pangan
“Hari ini di Desa Sendir, tepatnya di Kelompok Tani Bukem Jaya, kami melakukan gerakan pengendalian pada tanaman cabai. Berdasarkan hasil pengamatan sebelumnya ditemukan serangan bakteri layu, sehingga kami bersama POPT dan rekan-rekan PPL Kecamatan Lenteng mendampingi petani melakukan pengendalian,” ujar Ariestiowati.
Sementara itu, POPT Wilayah Kerja Kecamatan Lenteng, Dony Nurhidayat, menjelaskan bahwa tim menggunakan agen hayati sebagai metode pengendalian. Petugas mengaplikasikan bahan tersebut dengan cara mengocorkannya ke pangkal batang tanaman agar mampu menekan perkembangan bakteri penyebab penyakit.
Menurut Dony, petani dapat menggunakan agen hayati dengan dosis sekitar 5 hingga 10 cc per liter air, atau setara satu gelas untuk satu tangki semprot. Ia menyarankan petani melakukan aplikasi pada sore hari agar hasilnya lebih optimal.
Baca juga: Khofifah Perkuat Konektivitas Antar Daerah untuk Jaga Stabilitas Harga Pangan
Untuk tindakan pencegahan, aplikasi sebaiknya dilakukan setiap dua minggu sekali. Sementara pada tanaman yang telah menunjukkan gejala serangan bakteri layu, petani dianjurkan mengulang aplikasi setiap minggu menggunakan peralatan yang benar-benar bersih.
“Pengendalian menggunakan agen hayati dengan dosis sekitar lima hingga sepuluh cc per liter air atau satu gelas untuk satu tangki. Aplikasi paling efektif dilakukan pada sore hari dan diulang setiap dua minggu sebagai pencegahan. Untuk tanaman yang sudah terserang, sebaiknya dilakukan setiap minggu dengan menggunakan alat yang benar-benar bersih,” kata Dony.
Ia juga mengingatkan petani agar selalu memastikan seluruh alat semprot maupun peralatan pendukung dalam kondisi bersih. Langkah tersebut penting untuk menjaga efektivitas agen hayati sekaligus mencegah terjadinya kontaminasi silang yang dapat memperparah penyebaran penyakit.
Baca juga: Khofifah dan Bupati Bangkalan Tinjau Pasar Murah, Perkuat Pengendalian Inflasi dan Dukung UMKM
Melalui Gerakan Pengendalian ini, DKPP Sumenep berharap petani dapat menerapkan pengendalian secara rutin dan berkelanjutan. Dengan demikian, penyebaran bakteri layu dapat ditekan, produktivitas tanaman cabai tetap terjaga, serta hasil panen petani di Kecamatan Lenteng tidak mengalami penurunan.
















