MALANG – Polemik mural bertuliskan “Malang The Glory Land” yang kemudian tertutup mural “Malang Menyala Bersama” di Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Malang, mendapat perhatian dari Aremania Utas. Mereka meminta seluruh pihak menyikapi persoalan tersebut secara dewasa dan tidak memperluas masalah hingga merugikan masyarakat.
Presidium Aremania Utas, Ali Rifki, mengatakan polemik mural tersebut seharusnya menjadi momentum bagi semua pihak untuk belajar menghargai karya, hak, serta ruang milik orang lain.
“Semoga apa yang terjadi ini sebagai pelajaran bagi siapa pun untuk bisa saling menghargai, saling mengoreksi diri dan menghargai apa yang menjadi hak atau hasil karya orang lain,” ujar Ali, Sabtu (22/8/2026).
Ali menilai komunikasi dan koordinasi perlu dilakukan sebelum seseorang atau kelompok mengambil tindakan terhadap sebuah karya. Menurutnya, jaringan organisasi dan komunitas Aremania sebenarnya dapat membantu mencari informasi mengenai pemilik maupun pembuat mural.
Aremania Utas, kata Ali, memiliki sejumlah korwil dan komunitas yang berada dalam naungan organisasi. Jaringan tersebut dapat menjadi sarana untuk menelusuri informasi terkait sebuah karya ketika muncul persoalan.
“Kalau tidak tahu pemilik mural tersebut, bisa mempertanyakan dulu. Kita juga punya organisasi. Kalau organisasi, insyaallah apa pun pasti dicarikan informasi. Ini milik siapa, milik si A, si B, atau si C,” katanya.
Aremania Soroti Dampak Polemik Mural terhadap UMKM
Ali mengingatkan agar polemik mural tidak berdampak kepada masyarakat yang tidak memiliki kaitan langsung dengan persoalan tersebut. Ia secara khusus menyoroti pelaku UMKM yang berjualan di sekitar Stadion Gajayana dalam rangkaian Festival Mbois 11.
Menurut Ali, para pedagang telah menyiapkan dagangan mereka untuk menyambut pengunjung. Karena itu, masyarakat tetap perlu meramaikan lokasi acara dan membeli produk UMKM.
“Kita jangan sampai merugikan UMKM yang ada. Dampak yang terjadi kepada UMKM yang berjualan di sekitar Stadion Gajayana hari ini harus kita ramaikan,” tegasnya.
Ali bahkan berencana mendatangi Stadion Gajayana untuk membeli produk UMKM sebagai bentuk dukungan kepada para pedagang.
“Saya besok juga akan hadir ke Stadion Gajayana untuk membeli sesuatu di UMKM tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap UMKM,” ujarnya.
Ajakan untuk menjaga UMKM juga datang dari warga Malang sekaligus Aremania, Andi F Sinyo. Ia meminta masyarakat memisahkan persoalan mural dari kepentingan masyarakat dan pelaku usaha kecil.
“Kalau terkait mural dan polemik kemarin, aku juga menyampaikan, kalau bisa masalah mural fokus di mural, enggak usah melebar ke mana-mana,” kata Sinyo.
Ia menyebut polemik tersebut mulai memberikan dampak kepada pelaku UMKM. Sinyo menyayangkan jika masyarakat yang tidak berkaitan dengan persoalan mural ikut menanggung dampaknya.
Menurut dia, seluruh pihak perlu mengedepankan kedewasaan. Ia juga menilai persoalan mural sudah memberikan pelajaran dan tidak perlu berkembang menjadi hukuman sosial bagi pihak lain.
“Cukuplah, kesalahan mural memang fatal. Tapi sebagai manusia dan sesama Arek Malang, ayo kita lebih dewasa lagi. Menyelesaikan masalah pada porsinya,” katanya.
Ajak Warga Belanja di UMKM Festival Mbois 11
Sinyo mengajak masyarakat memanfaatkan dua hari terakhir Festival Mbois 11 pada 22-23 Agustus 2026 untuk mendukung pelaku UMKM. Ia meminta warga datang dan berbelanja di stan yang tersedia di kawasan Stadion Gajayana.
“Terlepas dari masalah itu, ayo dua hari ini kita support UMKM yang ada di sana. Sepi banget, kasihan,” imbuhnya.
Sinyo juga menilai panitia Festival Mbois 11 telah menghadapi konsekuensi dari polemik mural tersebut. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak memperluas persoalan hingga menyeret pihak yang tidak memiliki hubungan dengan masalah tersebut.
“Pihak panitia juga pasti sudah merasakan hukuman dalam tanda kutip yang setimpal. Sudah sangat setimpal. Cukup, enggak usah dilebih-lebihkan lagi,” tegasnya.
Ia berharap perbedaan pandangan dan kekecewaan terhadap polemik mural tidak menghilangkan solidaritas warga Malang.
“Jangan sampai kita menjadi Tuhan yang harus menghukum sampai ke neraka. Lebih dewasa menyikapinya,” pungkasnya.
Ratusan UMKM Ramaikan Festival Mbois 11
Berdasarkan informasi yang diterima, Festival Mbois 11 – Malang Menyala menghadirkan sekitar 146 tenan UMKM. Para pelaku usaha tersebut bergerak di berbagai sektor, mulai dari makanan dan minuman (FnB), fashion, kriya hingga produk retro.
Panitia membagi lokasi tenan UMKM menjadi dua area, yakni bagian luar dan dalam Stadion Gajayana.
Area luar stadion menyediakan sekitar 80 tenan UMKM. Pengunjung tidak membutuhkan tiket untuk memasuki area tersebut. Pelaku UMKM membayar biaya sewa stan sekitar Rp3 juta untuk tiga hari.
Sementara itu, area dalam Stadion Gajayana menampung sekitar 52 tenan UMKM. Pengunjung perlu membeli tiket untuk memasuki area konser. Biaya sewa stan bagi pelaku UMKM di area tersebut mencapai sekitar Rp4,5 juta selama tiga hari.
Jika menghitung seluruh biaya sewa berdasarkan jumlah tenan dan tarif tersebut, potensi pemasukan dari penyewaan stan berada di kisaran Rp465 juta atau hampir setengah miliar rupiah.
Dengan kondisi tersebut, dukungan masyarakat menjadi penting agar pelaku UMKM tetap memperoleh omzet selama Festival Mbois 11 berlangsung. Warga dapat membantu dengan datang ke lokasi, membeli produk, dan tetap meramaikan area UMKM tanpa mencampurkan persoalan mural dengan aktivitas ekonomi para pedagang.














