SUMENEP – Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, menyimpan jejak sejarah panjang sekaligus potensi ekonomi yang menjanjikan. Wilayah pesisir utara Pulau Madura ini tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga memiliki warisan budaya yang terus dijaga masyarakat hingga kini.
Secara historis, Batuputih disebut pernah menjadi bagian dari wilayah keraton yang dipimpin Arya Wiraraja, tokoh yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Raja Sumenep. Nama Batuputih diperkirakan berasal dari kondisi geografis kawasan tersebut yang banyak ditemukan bebatuan berwarna putih di sekitar wilayah keraton.
Kini, Kecamatan Batuputih berkembang sebagai salah satu wilayah strategis di Kabupaten Sumenep dengan potensi unggulan di sektor kelautan, pertanian, pariwisata, hingga kebudayaan lokal.
Camat Batuputih Muhammad Suharjono mengatakan, posisi geografis Batuputih yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa menjadikan sektor kelautan sebagai salah satu penggerak utama perekonomian masyarakat.
“Selain aktivitas perikanan tangkap yang menghasilkan berbagai komoditas ikan segar, wilayah pesisir Kecamatan Batuputih juga memiliki peluang besar untuk mengembangkan budidaya laut serta industri pengolahan hasil laut berbasis UMKM, seperti produksi terasi dan ikan olahan,” ujar Suharjono, Rabu (29/7/2026).
Menurutnya, sektor pertanian dan perkebunan juga menjadi penopang ekonomi masyarakat Batuputih. Karakter tanah tegalan yang mendominasi wilayah tersebut mampu menghasilkan berbagai komoditas unggulan, terutama saat musim kemarau.
“Komoditas tembakau menjadi salah satu hasil pertanian unggulan Kecamatan Batuputih. Selain itu, masyarakat juga menghasilkan jagung, palawija, dan kelapa yang menjadi sumber penghasilan sehari-hari,” jelasnya.
Pantai Badur dan Potensi Ekowisata Batuputih
Tidak hanya mengandalkan sektor pertanian dan kelautan, Kecamatan Batuputih juga memiliki daya tarik wisata alam yang terus berkembang. Salah satu destinasi unggulan yakni Pantai Badur yang menawarkan perpaduan pasir putih, muara sungai, serta panorama tebing kapur khas kawasan pesisir utara Sumenep.
Suharjono menilai, potensi wisata alam tersebut dapat menjadi peluang besar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat melalui konsep ekowisata yang melibatkan warga lokal.
“Pengembangan wisata berbasis masyarakat akan membuka peluang usaha baru, terutama bagi pelaku UMKM dan sektor ekonomi kreatif,” katanya.
Tradisi Ojung, Warisan Budaya Khas Batuputih
Selain kekayaan alam, Batuputih juga dikenal sebagai salah satu daerah yang masih mempertahankan tradisi Ojung. Tradisi tersebut merupakan seni budaya khas Madura berupa pertandingan ketangkasan antara dua pria menggunakan rotan di sebuah arena.
Ojung pada awalnya menjadi bagian dari ritual rokatan atau doa masyarakat ketika menghadapi musim kemarau panjang. Tradisi tersebut menjadi bentuk permohonan kepada Tuhan agar hujan segera turun dan menyuburkan kembali tanah masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, para peserta Ojung bertanding dengan iringan musik tradisional saronen dan berada di bawah pengawasan wasit adat yang disebut Peputo.
Meski menampilkan aksi saling sabet menggunakan rotan, Ojung tetap menjunjung tinggi nilai sportivitas dan persaudaraan. Setelah pertandingan selesai, kedua peserta biasanya saling berpelukan sebagai simbol perdamaian dan penghormatan.
“Seiring perkembangan zaman, Ojung mengalami perubahan fungsi. Tradisi yang dahulu menjadi ritual meminta hujan kini berkembang menjadi pertunjukan seni budaya yang memiliki nilai sejarah dan daya tarik wisata,” ungkap Suharjono.
Menurutnya, keunikan Ojung Batuputih mampu menarik perhatian wisatawan karena menghadirkan perpaduan antara nilai budaya, keberanian, dan filosofi kehidupan masyarakat Madura.
Batuputih Berpeluang Jadi Pusat Ekonomi Baru Sumenep Utara
Suharjono optimistis Kecamatan Batuputih dapat tumbuh menjadi salah satu pusat ekonomi baru di wilayah utara Kabupaten Sumenep. Hal tersebut dapat terwujud melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, penguatan UMKM, pengembangan destinasi wisata, serta dukungan infrastruktur pemerintah daerah.
“Kecamatan Batuputih membuktikan bahwa kawasan dengan bentang alam kapur bukan menjadi hambatan, tetapi justru menjadi identitas dan kekuatan daerah. Dengan integrasi pariwisata bahari, pemberdayaan UMKM, dan dukungan infrastruktur, Batuputih memiliki peluang besar menjadi simpul ekonomi baru di koridor utara Kabupaten Sumenep,” pungkasnya.
















