SUMENEP – Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, menyimpan bentang alam yang memadukan kawasan perbukitan dan pesisir. Kondisi geografis tersebut sejak masa lalu membuat Saronggi memiliki posisi strategis dalam jalur pengawasan wilayah Sumenep bagian timur.
Dari kawasan perbukitan, masyarakat pada masa lampau dapat memantau perairan Sumenep dan mengawasi pergerakan kapal asing yang berusaha memasuki wilayah pesisir melalui Pantai Saroka, yang pada masa itu dikenal sebagai kawasan Tanjung.
Kini, lanskap perbukitan tersebut berkembang menjadi salah satu daya tarik wisata. Salah satunya Bukit Tawaf yang berada di Desa Pagarbatu, Kecamatan Saronggi.
Nama Bukit Tawaf tidak berkaitan dengan ritual tawaf dalam ibadah haji. Sebutan itu muncul karena pengunjung perlu mengelilingi area bukit untuk menjangkau berbagai fasilitas dan titik rekreasi yang tersedia.
Pengunjung dapat menikmati sejumlah spot foto dengan latar pesisir dan laut. Pengelola juga menyediakan berbagai wahana permainan serta kolam renang yang menjadi bagian dari kawasan wisata tersebut.
Bukit Tawaf Masuk Madura Night Vaganza 2026
Potensi wisata Bukit Tawaf menjadi salah satu tema yang diangkat Kecamatan Saronggi dalam ajang Madura Night Vaganza 2026.
Camat Saronggi Arman Mustafa mengatakan pihaknya memilih Bukit Tawaf karena destinasi tersebut memiliki keterkaitan dengan karakter geografis sekaligus potensi wisata Kecamatan Saronggi.
Menurutnya, keikutsertaan dalam ajang tersebut tidak hanya bertujuan memperkenalkan destinasi wisata. Pemerintah kecamatan juga ingin mempertemukan potensi desa dengan masyarakat, wisatawan, serta jejaring usaha.
“Tentu saja juga sebagai ruang promosi untuk mempertemukan potensi desa dengan masyarakat luas, wisatawan, dan jejaring usaha,” kata Arman kepada Media Center Diskominfo Sumenep, Minggu (30/8/2026).
Arman menyebut pengelolaan Bukit Tawaf mendapat dukungan dari ratusan investor lokal. Ia mencatat jumlah investor yang terlibat mencapai lebih dari 600 orang.
“Lebih dari 600 investor lokal yang menopangnya. Alhamdulillah omzet tahun ini tembus Rp1,4 miliar,” ungkap Arman.
Menurutnya, pengelola menggunakan sebagian keuntungan untuk kembali memperkuat modal usaha, sementara sebagian lainnya dibagikan sesuai skema bagi hasil. Pola tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan pengembangan kawasan wisata.
Promosikan Produk UMKM Saronggi
Selain Bukit Tawaf, Kecamatan Saronggi memanfaatkan stand Madura Night Vaganza 2026 untuk memperkenalkan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
Berbagai produk kuliner khas Saronggi turut ditampilkan kepada pengunjung. Beberapa di antaranya berupa gettas, onde-onde, dan jindul.
Kehadiran produk UMKM tersebut melengkapi promosi sektor pariwisata yang dibawa Kecamatan Saronggi. Pemerintah setempat ingin memperlihatkan bahwa potensi ekonomi desa tidak hanya berasal dari sektor wisata, tetapi juga tumbuh melalui produk masyarakat.
Dengan menggabungkan promosi destinasi dan UMKM, Saronggi berupaya memperluas jangkauan pasar sekaligus membuka peluang kolaborasi antara pelaku usaha lokal, wisatawan, dan jejaring bisnis.
Bukit Tawaf dan produk UMKM Saronggi pun menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi lokal melalui Madura Night Vaganza 2026.
















