Edu  

Mulai 2027, Batik Masuk Muatan Lokal Sekolah Negeri di Jawa Barat

Batik masuk muatan lokal sekolah negeri Jawa Barat mulai 2027
Pembelajaran batik disiapkan masuk muatan lokal kesenian bagi siswa SD dan SMP di sekolah negeri Jawa Barat mulai 2027.

BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan materi batik untuk masuk dalam pembelajaran sekolah negeri mulai 2027. Materi tersebut akan hadir melalui muatan lokal kesenian bagi siswa jenjang SD dan SMP.

Pendiri Batik Komar sekaligus akademisi dan praktisi batik Jawa Barat, Komarudin Kudiya, mengatakan pembelajaran batik dapat membantu anak mengembangkan kesabaran, ketelitian, dan keuletan. Nilai tersebut dinilai semakin penting di tengah kehidupan generasi muda yang serba cepat.
Komarudin menyebut gagasan tersebut muncul dari keinginan Gubernur Jawa Barat agar batik lebih dekat dengan kehidupan siswa.

“Awalnya Pak Gubernur yang menginginkan batik diajarkan. Karena kita lihat bahwa generasi muda sekarang psikologinya sering tidak stabil. Itu karena tidak pernah belajar sesuatu yang melatih kesabaran dan ketenangan,” kata Komarudin seusai kegiatan Batik Walk bersama Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) di Bank Indonesia Jawa Barat, Minggu (9/8/2026).

Siapkan Buku Ajar Batik untuk SD dan SMP
Komarudin bersama Pemprov Jawa Barat kini menyusun buku ajar sebagai panduan bagi sekolah negeri. Buku tersebut akan mengarahkan guru dalam mengenalkan batik melalui muatan lokal kesenian.

“Nanti akan masuk ke pelajaran kesenian lewat muatan lokalnya, dan sudah dapat dukungan penuh dari Gubernur Jawa Barat,” ujarnya.

Komarudin menjelaskan proses membatik memiliki nilai pendidikan yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan kain bermotif. Siswa dapat belajar mengendalikan diri, bekerja sama, serta menghargai orang lain melalui setiap tahapan membatik.

“Dalam proses membuat batik itu kan sangat diuji kesabarannya, sikap gotong royong dan saling menghargai,” katanya.

Tim penyusun saat ini masih mengembangkan buku tersebut. Rencananya, Pemprov Jawa Barat meluncurkan buku ajar batik dalam rangkaian Jambore Batik Jawa Barat yang mencapai puncak kegiatan pada 24-25 Oktober 2026.

Penyusun akan menyesuaikan materi dengan tingkat pendidikan siswa. Untuk SD, materi akan terbagi dalam tiga kelompok, yakni kelas 1-2, kelas 3-4, dan kelas 5-6. Setelah itu, pembelajaran berlanjut untuk siswa SMP.

“Buku itu akan diberlakukan berjenjang di sekolah dasar kelas 1-2, kelas 3-4, 5-6 dan SMP nantinya,” jelas Komarudin.

Komarudin menargetkan sekolah mulai menggunakan materi tersebut pada 2027. Karena itu, tim akan menyelesaikan buku ajar sepanjang 2026 agar peluncurannya dapat berlangsung sesuai rencana.

“Kalau bukunya kita rencananya di tahun ini. Ini sudah dalam proses dibuat, berarti efektifnya tahun depan,” ucapnya.

Batik Jadi Sarana Regenerasi Pembatik
Selain memberikan nilai pendidikan, Komarudin menilai pembelajaran batik di sekolah dapat memperkuat regenerasi pembatik di Jawa Barat.
Menurut dia, masyarakat tidak cukup menjaga warisan budaya batik hanya dengan mengenakan kain batik. Generasi muda juga perlu memahami proses pembuatan dan nilai budaya di baliknya.
“Belajar batik di sekolah juga penting untuk regenerasi. Kalau batik tidak dikenalkan sekarang pada anak-anak, mau kapan lagi. Dimulai saja dari hal yang paling sederhana,” katanya.

Komarudin melihat minat anak muda terhadap batik mulai tumbuh. Generasi baru tersebut juga membawa kreativitas dan inovasi yang dapat memperkaya perkembangan batik sesuai perubahan zaman.

“Ini perkembangan yang baik sekali. Anak muda dan siapapun yang punya kreativitas, punya inovasi untuk mengerjakan batik adalah hal yang positif dan harus terus didukung,” ujarnya.

Anak Muda Bisa Mulai dari Motif Sederhana
Komarudin mengatakan generasi muda tidak perlu langsung membuat motif batik yang rumit. Mereka dapat memulai dari pola sederhana sesuai selera dan kreativitas masing-masing.

“Pokoknya cintai batik sesuai dengan kesenangan kita. Jika senang dengan motif-motif yang sederhana, seperti bentuk-bentuk gambar dasar lingkaran, persegi, dan aksen-aksen geometri seperti itu, tidak masalah,” tuturnya.

Menurut dia, proses belajar dapat dimulai dari membuat sketsa sederhana, kemudian mencoba teknik batik cap hingga akhirnya menguasai batik tulis.

“Prosesnya pun bisa mulai dari coretan, batik cap, sampai akhirnya mampu produksi batik tulis,” lanjutnya.

Meski mendorong kreativitas, Komarudin mengingatkan generasi muda agar tetap memahami teknik pembuatan batik yang benar. Ia menyoroti penggunaan teknik printing pada motif yang sebelumnya masyarakat kerjakan menggunakan teknik batik.

“Yang penting batik itu harus dikerjakan dengan teknik batik yang sesuai. Perintangan warnanya harus menggunakan lilin panas, bukan printing,” pungkasnya.

FALIHMEDIA.com berkomitmen memberikan berita terkini, lugas dan akurat. Dukung keberlanjutan jurnalisme dengan mengikuti kami di: Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.