Edu  

Festival Literasi Jateng 2026 Dorong Perpustakaan Bertransformasi di Era Digital

Festival Literasi Jateng 2026 di Semarang mendorong transformasi perpustakaan dan budaya membaca
Bunda Literasi Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin saat membuka Festival Literasi Jateng 2026 di Uptown Mall BSB Kota Semarang.

SEMARANG – Perkembangan teknologi digital mengubah cara masyarakat membaca dan memperoleh informasi. Kondisi tersebut mendorong Jawa Tengah memperkuat budaya literasi melalui Festival Literasi Jawa Tengah 2026 yang berlangsung di Uptown Mall BSB Kota Semarang, 11-13 September 2026.

Festival Literasi Jateng 2026 menghadirkan penulis, pustakawan, pegiat literasi, komunitas, pelajar, mahasiswa, serta berbagai unsur masyarakat dalam satu ruang interaksi. Pemerintah Jawa Tengah berharap kegiatan tersebut dapat kembali membangkitkan minat baca sekaligus memperkuat ekosistem literasi di daerah.

Panitia menghadirkan berbagai agenda selama festival, mulai dari bazar buku, bedah dan diskusi buku bersama penulis Tere Liye, pameran manuskrip digital, layanan perpustakaan keliling, lomba menulis, baca puisi, hingga lomba debat mahasiswa.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen bersama Bunda Literasi Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin membuka Festival Literasi Jateng 2026 pada Jumat (11/9/2026). Bunda Literasi atau perwakilan dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah juga turut menghadiri pembukaan.

Nawal Dorong Transformasi Budaya Literasi

Nawal Arafah Yasin mengatakan pemerintah perlu menyesuaikan gerakan literasi dengan perubahan perilaku masyarakat yang semakin dekat dengan teknologi digital.

“Setelah kegiatan ini harapannya bisa menguatkan komitmen daripada Bunda Literasi, untuk terus bersemangat meningkatkan budaya literasi di Jawa Tengah. Karena banyak perubahan, bahwa kita harus bertransformasi,” ujar Nawal saat membuka Festival Literasi Jateng 2026.

Menurut Nawal, perubahan zaman turut menggeser cara generasi muda menikmati buku dan mencari informasi. Generasi Z dan milenial, misalnya, cenderung mencari ruang yang memungkinkan mereka berinteraksi, berdiskusi, sekaligus menikmati suasana yang nyaman.

Karena itu, Nawal mendorong pengelola perpustakaan melakukan inovasi agar generasi muda tetap tertarik datang dan memanfaatkan fasilitas literasi.

“Generasi Z dan milenial saat ini lebih senang tempat yang bisa dia melakukan interaksi-interaksi. Kemudian dia bisa lebih nyaman dengan santai, sehingga jangan sampai perpustakaan itu ditinggalkan,” katanya.

Perpustakaan Perlu Jadi Ruang Interaksi

Nawal mencontohkan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah yang mengembangkan Aksara D’Caffe sebagai salah satu ruang yang menawarkan suasana lebih nyaman bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas literasi.

Menurutnya, transformasi perpustakaan tidak cukup hanya dengan mengubah tampilan fisik. Pengelola juga perlu menghadirkan berbagai kegiatan yang mampu mengundang masyarakat untuk datang, berinteraksi, berdiskusi, dan memperoleh pengalaman baru.

Perpustakaan dapat mengembangkan ruang diskusi, kegiatan membaca, pelatihan, maupun aktivitas kreatif lainnya. Dengan konsep tersebut, masyarakat tidak lagi melihat perpustakaan hanya sebagai tempat membaca atau meminjam buku.

Nawal juga mendorong pengelola perpustakaan membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk ikut menghidupkan ruang literasi.

“Kemudian kita juga buka misalnya seperti ada tempat-tempat untuk mereka juga belanja, misalnya dengan memanfaatkan adanya UMKM yang kita miliki,” tuturnya.

Festival Literasi Jateng Perkuat Ekosistem Membaca

Nawal menegaskan penguatan budaya literasi membutuhkan perubahan paradigma. Pemerintah dan pegiat literasi perlu menyesuaikan program dengan kebutuhan masyarakat tanpa menghilangkan tujuan utama gerakan literasi.

Literasi, kata dia, harus tetap diarahkan untuk membangun kebiasaan membaca, memperluas wawasan, meningkatkan pengetahuan, dan memperkuat kualitas sumber daya manusia.

“Jadi kita harus bertransformasi tentang paradigma, tentang budaya. Apa-apa yang menyekat pengembangan literasi kita harus berubah, kita harus menyesuaikan bagaimana kebutuhan masyarakat,” tegas Nawal.

Melalui Festival Literasi Jateng 2026, pemerintah berharap masyarakat dapat melihat literasi sebagai aktivitas yang menyenangkan, interaktif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Transformasi ruang dan kegiatan literasi pun menjadi salah satu strategi Jawa Tengah untuk menjaga budaya membaca di tengah derasnya arus informasi digital.

FALIHMEDIA.com berkomitmen memberikan berita terkini, lugas dan akurat. Dukung keberlanjutan jurnalisme dengan mengikuti kami di: Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *