SEMARANG – Arus investasi asing kembali mengalir ke Jawa Tengah. Investor asal Tiongkok menggelontorkan dana sekitar Rp15 triliun untuk mengembangkan industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Kawasan Industri Seafer (KIS), Kabupaten Kendal. Proyek tersebut diperkirakan mampu membuka sekitar 10 ribu lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
Realisasi investasi itu ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara PT KIA Kendal dan PT New Generation Mobility (NGM), serta kesepakatan antara PT NGM dan PT China State Construction Engineering Corporation (CSCEC). Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, dan Bupati Kendal Dyah Kartika Permatasari turut menyaksikan prosesi tersebut di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (15/6/2026).
Gubernur Ahmad Luthfi menilai masuknya investasi besar di sektor kendaraan listrik menunjukkan kepercayaan investor terhadap iklim usaha di Jawa Tengah. Menurutnya, pertumbuhan investasi tetap terjaga meski dunia menghadapi tantangan geopolitik dan tekanan ekonomi global.
“Investasi ini membuka peluang kerja yang luas sekaligus memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai pusat pertumbuhan industri masa depan,” ujar Luthfi.
Ia menjelaskan, proyek tersebut tidak hanya berfokus pada produksi kendaraan listrik, tetapi juga mengintegrasikan pengembangan energi terbarukan dalam kawasan industri. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun menyiapkan berbagai dukungan, termasuk insentif pajak bagi kawasan industri yang mengadopsi energi ramah lingkungan.
“Investasi ini sudah bergerak ke arah teknologi industri berkelanjutan. Kami akan memberikan insentif bagi kawasan industri yang menerapkan energi terbarukan,” katanya.
Direktur Utama PT Kawasan Industri Seafer Kendal, Bryan W Sudarwo, mengungkapkan bahwa investasi dari PT NGM dan PT CSCEC akan mempercepat pengembangan kawasan industri yang berfokus pada ekosistem kendaraan listrik secara terintegrasi.
Menurut Bryan, kawasan tersebut akan mengembangkan berbagai sektor pendukung kendaraan listrik, mulai dari industri baterai, ban, komponen kendaraan listrik komersial, hingga sepeda motor listrik.
“Kami membangun ekosistem industri kendaraan listrik yang saling terhubung. Pengembangan ini akan memperkuat pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas kesempatan kerja,” ujarnya.
Bryan memastikan perusahaan akan memprioritaskan tenaga kerja lokal dalam proses rekrutmen. Selain itu, pihaknya juga menyiapkan transfer teknologi untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di daerah.
“Kami mengutamakan tenaga kerja lokal. Selain membuka lapangan kerja, kami juga akan menghadirkan transfer teknologi dan mendorong penggunaan komponen dalam negeri dengan target TKDN di atas 50 persen,” tegasnya.
Sementara itu, perwakilan PT NGM, Hadi Hartanto, menjelaskan bahwa Jawa Tengah memiliki sejumlah keunggulan yang membuat investor memilih wilayah tersebut sebagai lokasi pengembangan industri kendaraan listrik.
Menurutnya, posisi strategis Jawa Tengah di Pulau Jawa, stabilitas sosial yang terjaga, kemudahan perizinan, serta keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal menjadi faktor utama yang menarik minat investor.
“Jawa Tengah memiliki lingkungan investasi yang kondusif, aman, dan didukung sistem perizinan yang baik. Faktor-faktor ini menjadi pertimbangan penting bagi investor,” kata Hadi.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik. Karena itu, pengembangan sektor EV harus berjalan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk penguatan industri motor listrik, sistem kelistrikan, dan baterai.














