Bawaslu Sidoarjo Edukasi Pemilih Pemula Lewat MPLS, Tanamkan Demokrasi dan Tolak Politik Uang

Ketua Bawaslu Sidoarjo memberikan edukasi demokrasi dan kepemiluan kepada pemilih pemula dalam program Bawaslu Goes to School saat MPLS 2026.
Ketua Bawaslu Kabupaten Sidoarjo memberikan materi kepemiluan kepada siswa baru dalam program Bawaslu Goes to School yang digelar selama MPLS 2026.

SIDOARJO – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Sidoarjo mengintensifkan pendidikan demokrasi bagi generasi muda melalui program Bawaslu Goes to School yang berlangsung selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Program tersebut membekali siswa baru SMA dan SMK dengan pemahaman mengenai kepemiluan, pengawasan partisipatif, serta pentingnya menolak politik uang dan disinformasi.
Bawaslu Kabupaten Sidoarjo menjalankan program tersebut di enam sekolah, yakni SMAN 1 Sidoarjo, SMAN 2 Sidoarjo, SMAN 3 Sidoarjo, SMAN 4 Sidoarjo, SMKN 1 Sidoarjo, dan SMKN 1 Buduran.
Ketua Bawaslu Kabupaten Sidoarjo, Agung Nugraha, menegaskan bahwa sekolah menjadi tempat yang strategis untuk membangun kesadaran demokrasi sejak dini. Menurutnya, para peserta MPLS saat ini merupakan calon pemilih pemula yang akan menggunakan hak pilihnya pada pemilu mendatang.

“Sebagian besar peserta MPLS hari ini merupakan calon pemilih pemula. Dalam beberapa tahun ke depan mereka akan menggunakan hak pilihnya untuk pertama kali. Karena itu, mereka perlu memahami bagaimana sistem pemilu berjalan, bagaimana tahapan penyelenggaraannya, serta mengapa integritas dan partisipasi masyarakat menjadi kunci terwujudnya pemilu yang demokratis,” ujar Agung, Rabu (15/7/2026).

Agung menjelaskan bahwa pendidikan kepemiluan tidak hanya bertujuan meningkatkan angka partisipasi pemilih. Bawaslu juga ingin membentuk karakter generasi muda agar mampu berpikir kritis, memilah informasi dengan bijak, serta menolak politik uang, ujaran kebencian, dan penyebaran hoaks yang dapat merusak kualitas demokrasi.
“Generasi muda harus menjadi pemilih yang cerdas, kritis, dan memiliki integritas. Mereka tidak boleh mudah terpengaruh politik uang maupun informasi yang belum tentu benar. Demokrasi yang berkualitas dimulai dari pemilih yang berkualitas,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Bawaslu menyampaikan materi tentang sejarah pemilu di Indonesia, sistem dan tahapan penyelenggaraan pemilu, hingga pentingnya pengawasan partisipatif. Para pemateri mengemas seluruh materi melalui diskusi interaktif, studi kasus, dan sesi tanya jawab sehingga peserta lebih mudah memahami substansi yang disampaikan.

Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Kabupaten Sidoarjo, Agisma D. Fastari, menjelaskan bahwa program Bawaslu Goes to School menjadi bagian dari strategi pencegahan pelanggaran pemilu melalui pendidikan politik sejak usia sekolah.

Menurut Agisma, pemilih pemula memiliki karakter aktif, kritis, dan akrab dengan teknologi informasi. Karena itu, Bawaslu ingin mengarahkan potensi tersebut menjadi kekuatan positif dalam mengawal demokrasi.

“Pemilih pemula memiliki karakter yang aktif, kritis, dan dekat dengan teknologi informasi. Potensi tersebut harus diarahkan menjadi kekuatan positif bagi demokrasi. Kami ingin mereka tidak hanya menjadi pemilih yang menggunakan hak pilihnya, tetapi juga menjadi agen pengawasan partisipatif yang berani menyampaikan informasi apabila menemukan dugaan pelanggaran pemilu di lingkungannya,” jelas Agisma.

Ia menambahkan, jumlah pemilih pemula terus meningkat pada setiap penyelenggaraan pemilu. Oleh sebab itu, pembekalan sejak bangku sekolah diharapkan mampu mencetak generasi yang menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab sekaligus ikut mengawal pelaksanaan pemilu yang jujur, adil, dan berintegritas.

Ikuti Kami Juga Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *