JAWA TENGAH – Gelombang arus balik Lebaran di Jawa Tengah mencapai puncaknya pada Minggu (29/3/2026). Sekitar 450 ribu kendaraan mulai meninggalkan wilayah ini menuju kawasan Jabodetabek.
Lonjakan volume kendaraan langsung memadati sejumlah jalur utama, mulai dari Tol Trans Jawa, jalur Pantura, hingga lintas selatan. Para pemudik juga menghadapi tantangan tambahan berupa cuaca ekstrem yang berpotensi mengganggu perjalanan.
Sejak Minggu pagi, kepadatan kendaraan terlihat di sejumlah titik krusial. Petugas memusatkan pengamanan di Gerbang Tol Kalikangkung dan Banyumanik, Semarang, yang menjadi simpul pertemuan arus kendaraan dari arah timur.
Pengelola jalan tol langsung mengoptimalkan layanan transaksi untuk mengurai antrean. Direktur Utama TMJ, Prajudi, memastikan pihaknya membuka hingga 25 gardu di GT Kalikangkung guna mempercepat arus kendaraan.
“Kami membuka maksimal gardu transaksi agar arus balik tetap lancar,” ujar Prajudi.
Hingga puncak arus balik, kepolisian mencatat kondisi lalu lintas masih relatif terkendali tanpa insiden besar. Sebanyak 2,7 juta kendaraan telah lebih dulu meninggalkan Jawa Tengah.
Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Tengah, Kombes M Pratama Adhyasastra, menegaskan seluruh personel tetap bersiaga hingga rekayasa lalu lintas berakhir.
Petugas terus mengandalkan sistem satu arah (one way) sebagai strategi utama untuk mengurai kepadatan di jalur tol menuju Jakarta.
“Kami siagakan personel penuh hingga penutupan one way malam ini. Pengendara harus tetap waspada terhadap kepadatan dan cuaca ekstrem,” tegasnya.
Selain kepadatan lalu lintas, pemudik juga menghadapi risiko cuaca ekstrem. BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang memprediksi hujan lebat disertai angin kencang dan petir di sejumlah wilayah Jawa Tengah.
Prakirawan BMKG, Noor Jannah Indriyani, meminta pemudik meningkatkan kewaspadaan karena cuaca dapat menurunkan jarak pandang dan membuat jalan licin.
“Kondisi cuaca ini berpotensi mengganggu perjalanan, jadi pengguna jalan harus lebih berhati-hati,” jelasnya.
Di sisi lain, wilayah pesisir utara juga menghadapi ancaman banjir rob. BMKG Maritim Tanjung Emas Semarang mencatat pasang air laut mencapai ketinggian hingga satu meter.
Prakirawan BMKG Maritim, Usman Effendi, menyebut rob berpotensi merendam puluhan desa serta mengganggu aktivitas transportasi dan ekonomi masyarakat pesisir.
Fenomena ini berisiko memengaruhi jalur Pantura, terutama di wilayah Tegal, Pekalongan, dan Demak.
Kondisi tersebut menuntut pemudik untuk lebih berhati-hati, mengingat kombinasi kepadatan lalu lintas dan potensi bencana hidrometeorologi dapat mengganggu perjalanan pulang.













