Cerpen  

Surat untuk Sang Pemimpin: Kisah Perempuan Renta Kehilangan Rumah Bantuan Akibat Korupsi

Perempuan renta miskin duduk di puing rumah bantuan yang runtuh akibat dugaan korupsi bahan bangunan
Perempuan renta miskin duduk di puing rumah bantuan yang runtuh akibat dugaan korupsi bahan bangunan

Pagi itu hujan turun pelan di sebuah desa kecil yang nyaris luput dari peta. Di sana tinggal seorang perempuan renta bernama Mak Raminah, berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Tubuhnya kurus, punggungnya membungkuk, dan langkahnya tertatih. Sejak suaminya meninggal belasan tahun lalu, Mak Raminah hidup seorang diri, mengandalkan belas kasih tetangga dan sisa tenaga untuk bertahan.

Rumah Mak Raminah dulu hanyalah gubuk kayu reyot. Dindingnya berlubang, atapnya bocor, dan lantainya masih tanah. Setiap hujan datang, ia harus duduk memeluk lutut, menunggu air surut sambil berdoa agar malam cepat berlalu.

Suatu hari, kabar baik datang ke desa itu. Pemerintah mengumumkan program bantuan rumah untuk warga miskin. Nama Mak Raminah tercantum sebagai salah satu penerima. Air matanya menetes saat petugas desa menyerahkan surat pemberitahuan.

“Alhamdulillah,” ucapnya lirih.

Untuk pertama kalinya, ia membayangkan tidur tanpa rasa takut, tanpa bocor, tanpa angin dingin.

Pembangunan rumah dimulai beberapa minggu kemudian. Mak Raminah menyaksikan dengan penuh harap. Namun, sejak awal ia merasa ada yang janggal. Semen yang digunakan terlalu sedikit, pasirnya bercampur tanah, dan besi penyangga tampak tipis serta berkarat.

“Beginikah rumah bantuan itu?” tanya Mak Raminah polos.

Tak ada yang menjawab. Para pekerja hanya tersenyum singkat, lalu melanjutkan pekerjaan mereka.

Rumah itu akhirnya berdiri. Kecil, sederhana, namun bagi Mak Raminah, itulah istana. Ia masuk dengan langkah gemetar, menyentuh dindingnya, lalu bersujud syukur di lantai semen yang masih kasar.

Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama.

Beberapa bulan kemudian, hujan deras mengguyur desa tanpa henti. Malam itu, angin kencang menerpa rumah-rumah warga. Mak Raminah duduk sendirian di dalam rumah bantuannya, memeluk kain lusuh peninggalan suaminya.

Tiba-tiba terdengar suara retakan.

Krak…

Krak…

Sebelum ia sempat berdiri, dinding rumah roboh. Atap ambruk, tiang penyangga patah seperti ranting kering. Mak Raminah terjatuh, tertimpa puing, namun Tuhan masih memberinya umur panjang. Ia selamat, tapi rumah itu hancur tak bersisa.

Pagi harinya, warga menemukan Mak Raminah duduk di bawah pohon, tubuhnya basah dan gemetar. Rumah bantuan yang dijanjikan sebagai jalan keluar dari kemiskinan, kini hanya puing-puing tak berguna.

“Katanya rumah bantuan,” ucap seorang warga lirih.

“Bahannya seperti bukan untuk rumah,” sahut yang lain.

Mak Raminah tak marah. Ia juga tak berteriak. Ia hanya terdiam.

Beberapa hari kemudian, dengan sisa tenaga yang ada, Mak Raminah menulis sebuah surat. Tangannya gemetar, tulisannya tak lagi rapi. Surat itu ia titipkan kepada seorang relawan yang sering datang ke desa.

Surat itu berjudul: Surat untuk Sang Pemimpin.

Pemimpin yang saya hormati,

Saya orang miskin. Saya tidak mengerti soal anggaran, proyek, atau laporan.

Saya hanya tahu, rumah bantuan saya runtuh karena bahannya rapuh.

Jika memang ada rezeki saya yang diambil di tengah jalan, tolong kembalikan kepada orang-orang miskin seperti saya.

Kami tidak butuh rumah mewah. Kami hanya butuh tempat berlindung.

Sekarang saya tidur di bawah langit. Jika surat ini sampai, semoga hati Bapak masih mendengar.

Hari ini, Mak Raminah kembali hidup tanpa rumah. Setiap malam ia tidur menumpang di teras tetangga, memandangi langit dengan mata yang lelah.

Rumahnya runtuh.

Harapannya nyaris roboh.

Namun surat itu masih berjalan, mencari hati nurani, mencari keadilan, dan menunggu apakah sang pemimpin benar-benar membaca jeritan seorang perempuan renta yang kehilangan segalanya karena korupsi yang tak terlihat, namun sangat terasa.

 

*) Oleh: LAILI, S.Pd

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.