Sore itu, di sebuah jalan kecil yang dipenuhi pepohonan akasia, Arga menunggu dengan resah. Ia menatap ke kiri dan kanan, berharap sosok yang selalu ia rindukan muncul dari balik pagar kayu tua. Angin membawa aroma bunga melati, aroma yang sering dipakai Nadira, gadis yang telah menawan hatinya sejak pertama kali mereka berjumpa di perpustakaan sekolah.
“Maaf membuatmu menunggu,” suara lembut Nadira terdengar, disertai napas tergesa. Rambutnya tergerai, sebagian menutupi wajahnya yang pucat.
Arga tersenyum lega. “Tak apa. Asal aku bisa melihatmu, meski sebentar.”
Mereka berjalan berdampingan menyusuri sawah yang mulai menguning. Senja menorehkan cahaya emas di wajah Nadira, membuatnya terlihat seperti mimpi yang terlalu indah untuk disentuh. Namun, mimpi itu nyaris selalu disertai duri kenyataan.
“Orang tuaku semakin keras, Ga,” ucap Nadira lirih. “Mereka bilang aku hanya mempermalukan keluarga jika terus bersamamu. Aku bahkan dilarang keluar rumah sendirian.”
Arga berhenti melangkah, menatapnya penuh luka. “Apa mereka pikir cintaku tak cukup murni hanya karena aku bukan siapa-siapa? Nadira, aku bersumpah, aku akan membahagiakanmu. Aku hanya butuh kau percaya padaku.”
Nadira menunduk, matanya berkaca-kaca. “Aku percaya. Tapi restu orang tuaku seperti dinding batu. Aku tersiksa di antara dua dunia—cinta dan darah.”
Arga menggenggam tangannya erat. “Kalau dunia menolak kita, maka kita akan berjalan bersama. Meski harus hingga ke ujung dunia sekalipun.”
Nadira tersenyum tipis, meski air matanya jatuh. “Kau selalu membuatku kuat, Ga.”
Hari-hari setelah itu berubah jadi penantian panjang. Arga hanya bisa menitipkan surat-surat kecil lewat sahabat Nadira, Amira. Di setiap surat, Arga menulis janji-janji sederhana: tentang rumah kecil yang akan mereka bangun, tentang kebun bunga yang ingin ia tanamkan untuk Nadira, tentang kebebasan.
Namun balasan Nadira makin lama makin penuh kelelahan.
“Ga, aku tidak lagi bisa keluar kamar. Mereka mengunciku. Aku hanya bisa menatap bulan dari jendela, membayangkan kau ada di bawah langit yang sama.”
“Ga, tubuhku semakin lemah. Aku tidak tahu apakah ini sakit atau sekadar patah hati yang tak lagi bisa kuobati.”
Malam itu, di bawah cahaya rembulan, Arga memberanikan diri berdiri di depan rumah besar bercat putih milik keluarga Nadira. Ia mengetuk pintu keras-keras, hingga ayah Nadira muncul dengan wajah marah.
“Pak, izinkan saya bicara sekali saja dengan Nadira. Hanya sebentar.”
Ayah Nadira menatapnya dingin. “Kau tak tahu tempatmu, Nak. Dunia kami bukan untukmu. Jangan lagi mengganggu putriku.”
“Pak, saya mencintainya dengan tulus! Saya tidak butuh harta, tidak butuh status. Saya hanya ingin bersamanya—”
“Cukup!” bentak ayah Nadira. “Cinta tidak cukup untuk memberi masa depan. Jangan datang lagi.”
Pintu itu ditutup keras, meninggalkan Arga dalam keheningan malam.
Beberapa minggu kemudian, Amira datang dengan wajah muram. Ia menyerahkan secarik kertas. Tulisan Nadira di situ bergetar, seolah ditulis dengan sisa tenaga terakhir.
“Arga, maafkan aku. Sayapku patah. Aku ingin terbang bersamamu, tapi aku tidak lagi kuat. Jika suatu hari aku berhenti menulis, jangan ingat aku sebagai gadis yang menyerah. Ingatlah aku sebagai cinta yang pernah berani melawan. Aku mencintaimu… hingga ke ujung dunia.”
Arga merasakan dadanya diremuk. Ia berlari menuju rumah Nadira, tapi terlambat. Dari celah pagar, ia melihat iring-iringan keluarga yang membawa tubuh lemah Nadira ke rumah sakit. Beberapa hari kemudian, kabar itu sampai—Nadira telah tiada.
Di pemakaman, Arga berdiri jauh di balik kerumunan. Ia tidak berhak berdiri di sisi keluarga. Ia hanya bisa menatap tanah merah menutup perlahan tubuh gadis yang seharusnya hidup bersamanya.
Air mata jatuh tanpa henti, dan di antara isak yang tertahan, ia berbisik:
“Nadira, kau pergi terlalu cepat. Tapi kau tidak benar-benar hilang. Aku akan mencarimu, dalam doa, dalam langit, dalam angin. Aku akan berjalan terus, meski harus sendirian. Dan jika dunia ini tak cukup luas untuk kita… aku akan tetap mencintaimu, hingga ke ujung dunia.”
Angin sore berhembus pelan, seolah membawa bisikan lembut—jawaban dari jiwa yang kini telah bebas dari segala kekangan.
Lima tahun telah berlalu sejak kepergian Nadira. Hidup Arga berubah, namun hatinya tetap sama: terikat pada janji yang pernah ia ucapkan di bawah langit senja.
Kini ia tinggal di sebuah kota kecil di tepi laut, jauh dari hiruk-pikuk masa lalu. Setiap sore, ia berjalan ke dermaga, duduk memandang cakrawala yang seakan tak bertepi. Di sampingnya selalu ada buku catatan lusuh berisi surat-surat yang tak pernah terkirim. Surat-surat untuk Nadira.
“Dir,” bisiknya suatu sore, sambil menatap matahari tenggelam, “aku masih di sini. Masih menuliskan mimpi-mimpi kita. Kau pernah ingin melihat laut tanpa batas, ingat? Maka aku membawamu ke sini, dalam caraku sendiri.”
Orang-orang di kota mengenalnya sebagai pemuda pendiam yang gemar menanam bunga di halaman rumah kecilnya. Tidak ada yang tahu, bunga-bunga itu adalah melati—bunga kesukaan Nadira. Setiap kali mekar, harum melatinya memenuhi udara, seolah menghadirkan kembali senyum lembut yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatan.
Malam hari, ketika bintang bertaburan, Arga sering duduk di beranda rumah. Ia memandang langit, lalu tersenyum kecil. “Aku tidak lagi sendiri, Dir. Kau selalu ada di setiap angin, di setiap bunga, di setiap detak nafasku. Hingga suatu hari nanti, aku akan benar-benar menyusulmu. Dan saat itu tiba, aku akan menggenggam tanganmu lagi… hingga ke ujung dunia.”
Angin laut berhembus pelan, membawa aroma melati dari halaman rumahnya. Seakan Nadira menjawab, dengan cara yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang pernah mencinta.
*) Oleh: Tim Falih Media







