Cerpen  

Pesan Terakhir di Ponsel: Cerpen Thriller Misteri yang Bikin Merinding

Pemuda memegang ponsel bekas dengan pesan misterius di layar dalam suasana gelap dan menegangkan
Seorang pemuda menatap ponsel bekas dengan pesan misterius yang mengubah hidupnya

Hujan turun tipis di sore itu ketika Raka berhenti di sebuah kios kecil di sudut jalan. Ia sebenarnya hanya ingin membeli charger, tapi matanya tertarik pada deretan ponsel bekas yang dipajang di etalase kaca.

“Murah, Mas. Masih bagus semua,” kata penjual sambil tersenyum.

Raka mengangguk, lalu mengambil salah satu ponsel berwarna hitam. Layarnya sedikit tergores, tapi masih menyala dengan baik. Tanpa banyak berpikir, ia membelinya. Ponselnya yang lama memang sudah sering mati sendiri.

Malam itu, di kamar kosnya yang sempit, Raka mulai memindahkan kartu SIM dan mengecek isi ponsel barunya. Sebagian besar data sudah dihapus, seperti yang dijanjikan penjual. Tidak ada foto, tidak ada kontak.

Namun, saat ia membuka aplikasi pesan, ada satu draft yang belum terkirim.

Isinya singkat:

“Tolong aku… di gudang tua belakang pelabuhan. Mereka akan datang malam ini.”

Raka mengerutkan kening. Tidak ada nama penerima, tidak ada tanggal yang jelas. Hanya pesan itu, seolah ditinggalkan begitu saja.

“Iseng banget,” gumamnya.

Namun entah kenapa, ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa mengabaikan pesan itu. Ia mencoba melihat detail lain. Nomor pengirim masih tersimpan di log panggilan lama.

Raka ragu sejenak, lalu memutuskan untuk mencari tahu.

Keesokan harinya, rasa penasaran itu belum hilang. Ia mencoba mengetik nomor tersebut di mesin pencari. Tidak banyak hasil, hanya beberapa forum yang menyebutkan nomor itu sempat aktif beberapa minggu lalu.

Ia kemudian memberanikan diri menghubungi nomor itu.

Tidak aktif.

Semakin aneh.

Sore harinya, Raka pergi ke pelabuhan. Tempat itu tidak terlalu jauh dari kosnya. Deretan gudang tua berdiri berjajar, sebagian sudah terbengkalai. Angin laut membawa aroma asin yang menusuk.

Ia menemukan satu gudang yang terlihat paling tua—pintu besinya berkarat, catnya mengelupas.

Raka berdiri di depan pintu, jantungnya berdegup lebih cepat.

“Cuma lihat-lihat,” bisiknya pada diri sendiri.

Ia mendorong pintu itu. Berderit panjang.

Di dalam, gelap dan berdebu. Beberapa kotak kayu berserakan. Tidak ada siapa-siapa.

Namun, di sudut ruangan, ia melihat sesuatu—sehelai kain robek… dan noda yang tampak seperti darah kering.

Raka menelan ludah.

Malam itu, ia tidak bisa tidur. Bayangan gudang itu terus menghantui pikirannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk melapor ke polisi.

Awalnya, petugas terlihat ragu.

“Mas cuma nemu pesan draft?” tanya salah satu polisi.

“Iya, Pak. Tapi di gudang itu ada bekas… kayaknya bukan hal biasa.”

Setelah didesak, polisi akhirnya setuju untuk mengecek lokasi.

Keesokan harinya, mereka datang ke gudang itu bersama Raka.

Penyelidikan dilakukan lebih serius. Beberapa bagian lantai dibongkar. Dan di situlah semuanya terungkap.

Mereka menemukan jejak yang mengarah pada kasus orang hilang—seorang pria yang dilaporkan hilang dua minggu lalu. Identitasnya cocok dengan nomor yang ada di ponsel tersebut.

Kasus itu berkembang cepat. Polisi menemukan bukti bahwa pria itu diculik oleh sekelompok pelaku kriminal yang menggunakan gudang tersebut sebagai tempat penyekapan.

Beberapa hari kemudian, pelaku berhasil ditangkap.

“Kalau bukan karena laporan kamu, mungkin kasus ini nggak akan terungkap secepat ini,” kata seorang polisi kepada Raka.

Raka hanya mengangguk pelan. Ia tidak tahu harus merasa lega atau justru semakin takut.

Seminggu berlalu.

Hidup Raka mulai kembali normal. Ia mencoba melupakan semua kejadian itu.

Malam itu, ia sedang duduk sendirian di kamar kosnya, memainkan ponsel yang dulu ia beli.

Tiba-tiba, layar ponsel menyala.

Satu pesan masuk.

Nomor tidak dikenal.

Raka membuka pesan itu dengan tangan sedikit gemetar.

“Kamu berikutnya.”

Jantungnya seakan berhenti.

Ia buru-buru mencoba membalas.

Tidak terkirim.

Ia mencoba menelepon.

Nomor tidak aktif.

Raka menatap layar ponsel itu lama. Hening. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan.

Namun, di sudut layar…

Ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Sebuah draft baru… muncul dengan sendirinya.

“Tolong aku…”

 

*) Oleh: Amelia

Ikuti Kami Juga Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *