Di sebuah desa bernama Suka Makmur, hiduplah seorang kepala desa bernama Darto. Namanya selalu dielu-elukan di papan pengumuman kantor desa, tapi di hati warganya, nama itu menjadi momok. Sejak menjabat, Darto selalu menjanjikan kemakmuran merata. Namun, janji itu hanya sebatas kata-kata yang tersapu angin.
Dusun Pusaka, yang terletak di ujung desa, menjadi saksi ketidakadilan itu. Jalannya masih berupa tanah becek, berlubang-lubang seperti wajah tua yang keriput. Jika hujan datang, jalan itu berubah menjadi lautan lumpur. Anak-anak harus melepas sepatu dan menggulung celana hingga lutut demi bisa ke sekolah. Lampu penerangan? Jangan harap. Malam di dusun itu seperti menelan seluruh cahaya, hanya ditemani kunang-kunang yang sesekali lewat.
Berbeda dengan dusun tengah, tempat rumah Darto berdiri megah. Jalannya mulus, dipenuhi lampu LED yang bersinar terang. Bahkan, sebuah taman dengan air mancur buatan berdiri di depan balai desa. Warga yang datang dari dusun Pusaka hanya bisa menelan ludah ketika melihatnya.
“Pak Kades sibuk bangun tempatnya sendiri,” keluh Pak Rono, seorang petani tua, sambil memandang jalan becek di depan rumahnya.
“Iya, kalau pemilihan datang, janji-janji manis keluar lagi,” sahut istrinya, Bu Warti, dengan nada getir.
Di balik semua itu, Darto punya hitung-hitungan sendiri. Anggaran desa yang seharusnya untuk pembangunan jalan dusun Pusaka, ia alihkan untuk proyek taman, demi memikat investor yang katanya akan membawa kemajuan. Padahal, sebagian dana itu mengalir ke kantong pribadinya.
Namun, roda kehidupan tak pernah berhenti berputar. Pada suatu musim hujan, banjir besar melanda dusun Pusaka. Sawah gagal panen, rumah-rumah rusak, dan warga berbondong-bondong meminta bantuan ke balai desa. Darto menolak dengan alasan anggaran sudah habis. Kemarahan warga memuncak. Mereka datang beramai-ramai, membawa obor dan poster bertuliskan “Kami Juga Warga Desa Ini!”
Di hadapan kerumunan itu, Darto gemetar. Untuk pertama kalinya, ia merasakan tatapan marah puluhan pasang mata yang selama ini ia abaikan. Taman megah yang ia banggakan kini tampak seperti ejekan, karena air mancurnya terus memancur ketika warga di ujung dusun tak punya air bersih.
Sejak hari itu, Darto bukan lagi pemimpin yang dielu-elukan. Ia hanyalah bayang-bayang dari kekuasaan yang dulu ia banggakan. Desa Suka Makmur belajar dengan cara pahit: kemakmuran tak akan pernah datang dari janji, tapi dari keadilan yang ditegakkan.
*) Oleh: LAILI, S.Pd Alumni IAIN Madura














