JAKARTA – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menyebarluaskan informasi, khususnya terkait insiden kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan KRL/CommuterLine.
Ia menegaskan, peristiwa kecelakaan tersebut merupakan musibah yang tidak seharusnya dimanfaatkan untuk kepentingan yang tidak bertanggung jawab, terlebih dengan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Ini musibah yang sangat menyedihkan, baik bagi keluarga korban maupun kita semua. Karena itu, kami mengimbau agar tidak ada pihak yang memanfaatkan peristiwa ini secara tidak bertanggung jawab,” ujarnya di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, penyebaran informasi yang belum terkonfirmasi dapat menimbulkan dampak psikologis, terutama bagi keluarga korban dan penyintas. Oleh sebab itu, masyarakat diminta untuk menghentikan praktik penyebaran konten yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
“Jika informasi itu tidak benar lalu terus disebarluaskan, hal tersebut bisa menimbulkan trauma psikis bagi keluarga korban maupun korban itu sendiri,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menyebarkan konten visual atau informasi terkait kecelakaan secara berlebihan, apalagi jika tidak memiliki nilai informasi yang jelas.
Lebih lanjut, Meutya menyampaikan bahwa pihaknya masih akan membahas langkah lanjutan terkait penanganan informasi hoaks bersama jajaran terkait. Namun, ia menekankan bahwa pendekatan kemanusiaan menjadi hal utama dalam menyikapi situasi ini.
“Kami sedang berdiskusi dengan Dirjen terkait langkah yang diperlukan. Namun yang paling penting saat ini adalah kesadaran bersama untuk tidak menyebarkan misinformasi dan menjaga empati,” jelasnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk mengedepankan nilai kemanusiaan serta tanggung jawab dalam menggunakan media sosial, terutama dalam situasi duka seperti kecelakaan tersebut.














