SURABAYA – Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara sektor industri dan pertanian untuk memperkuat ketahanan ekonomi Jawa Timur di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Khofifah menyampaikan hal tersebut saat menjadi keynote speaker dalam forum East Java Economic Forum 2026 yang mengusung tema penguatan daya saing melalui hilirisasi komoditas unggulan dan iklim investasi berkelanjutan, Rabu (1/4/2026).
Ia menekankan bahwa pemerintah daerah harus mampu menjaga stabilitas produksi meskipun harus melakukan penyesuaian kebijakan, terutama terkait tata ruang dan perlindungan lahan pertanian.
Baca juga: Pemerintah Pastikan BBM Subsidi Tetap, Harga Nonsubsidi Tunggu Pengumuman 1 April 2026
Menurut Khofifah, perubahan status Lahan Sawah Dilindungi (LSD) di lapangan sering memicu kendala serius bagi pelaku usaha. Ia menyebut banyak investor menghadapi hambatan ekspansi karena perubahan status lahan yang terjadi setelah proses pembelian.
“Kondisi ini menciptakan ketidakpastian investasi dan menghambat pengembangan industri,” ujar Khofifah.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, lanjut dia, terus menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) berbasis pemetaan digital hingga tingkat kecamatan. Langkah ini bertujuan memberikan kepastian ruang bagi investasi tanpa mengorbankan sektor pertanian.
Khofifah juga mendorong agar industrialisasi dan pertanian berjalan beriringan. Ia menilai kedua sektor tersebut harus saling menguatkan untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Baca juga: Pemerintah Pastikan BBM Subsidi Tetap, Harga Nonsubsidi Tunggu Pengumuman 1 April 2026
Selain itu, ia mengingatkan bahwa upaya menurunkan angka kemiskinan harus sejalan dengan pengurangan tingkat pengangguran. Karena itu, pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang fleksibel agar mampu merespons dinamika ekonomi secara cepat.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menyoroti peran strategis Jawa Timur sebagai hub distribusi nasional, khususnya untuk wilayah Indonesia Timur. Ia melihat peluang besar dari optimalisasi jalur Tol Laut, mengingat masih banyak kapal yang kembali tanpa muatan.
“Distribusi dari Indonesia Timur ke pasar domestik harus kita maksimalkan, mengingat potensi pasar nasional sangat besar,” katanya.
Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 280 juta jiwa, Khofifah menilai pasar domestik menjadi kekuatan utama yang harus dioptimalkan, tidak hanya bergantung pada ekspor.
Untuk menjaga daya saing industri, Pemprov Jatim juga mendorong efisiensi energi, baik listrik maupun BBM. Kebijakan ini diarahkan untuk menekan biaya produksi sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi.
Khofifah menambahkan, kinerja ekspor Jawa Timur sepanjang 2025 menunjukkan tren positif dibandingkan tahun sebelumnya. Ia melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk terus meningkatkan daya saing di tengah tekanan global.
Namun, ia mengakui bahwa realisasi investasi tidak hanya bergantung pada kesiapan daerah. Keputusan akhir investor juga dipengaruhi kebijakan strategis di tingkat nasional.
“Kami sudah menyiapkan lahan dan perizinan, tetapi keputusan investasi tetap dipengaruhi banyak faktor lintas sektor,” ujarnya.
Karena itu, Khofifah mendorong sinergi lebih kuat antara pemerintah pusat, daerah, akademisi, dan pelaku usaha untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Sementara itu, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Surabaya Koordinator Jawa Timur, Soni Harsono, menyebut antusiasme terhadap forum EJAVEC terus meningkat setiap tahun.
Ia menilai tingginya partisipasi akademisi dan praktisi menunjukkan bahwa forum tersebut menjadi wadah strategis untuk menghimpun gagasan dalam memperkuat daya saing ekonomi daerah.
Melalui forum ini, berbagai rekomendasi diharapkan mampu menjadi rujukan dalam merumuskan kebijakan yang adaptif, sehingga Jawa Timur dapat menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.














