Ekonom  

Harga Pertamax Naik Tajam, Warga Pamekasan Beralih ke Pertalite dan Khawatir Stok Menipis

Pengendara mengantre mengisi Pertalite di SPBU Pamekasan usai kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter.
Aktivitas pengendara saat mengisi BBM Pertalite di salah satu SPBU di Kabupaten Pamekasan setelah kenaikan harga Pertamax.

PAMEKASAN – Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter memicu perubahan pola konsumsi bahan bakar masyarakat di Kabupaten Pamekasan. Banyak pengguna Pertamax mulai beralih ke Pertalite untuk mengurangi beban pengeluaran harian.

Ahmad Hasan, warga Kecamatan Tlanakan, mengaku memilih menggunakan Pertalite setelah harga Pertamax melonjak signifikan. Menurutnya, biaya operasional kendaraan menjadi lebih tinggi jika tetap menggunakan bahan bakar nonsubsidi tersebut.

“Yang beralih ke Pertalite bukan hanya saya. Banyak teman dan tetangga juga melakukan hal yang sama. Sekarang antrean di SPBU lebih banyak terjadi pada jalur pengisian Pertalite. Kekhawatiran soal kondisi kendaraan tentu ada, tetapi kenaikan harga Pertamax sangat memberatkan. Kami juga berharap tidak terjadi kelangkaan Pertalite ke depan,” ujarnya, Jumat (12/6/2026).

Peningkatan jumlah pengguna Pertalite membuat sebagian masyarakat mulai mencemaskan ketersediaan stok bahan bakar bersubsidi tersebut. Mereka khawatir lonjakan permintaan dapat memengaruhi distribusi dan pasokan di wilayah Pamekasan.

Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Pamekasan, Bachtiar Effendi, menjelaskan bahwa data yang diterimanya menunjukkan stok jenis bahan bakar khusus penugasan (JBKP) atau Pertalite mencapai 73.544 kiloliter (KL). Sementara itu, stok solar subsidi atau jenis bahan bakar tertentu (JBT) tercatat sebanyak 36.431 KL.

Meski demikian, Bachtiar belum dapat memastikan tingkat keamanan stok tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam beberapa waktu ke depan. Hingga kini, pemerintah daerah masih menunggu data realisasi distribusi bulanan dari Pertamina.

“Kami belum bisa menyimpulkan apakah jumlah stok itu aman atau tidak karena sampai sekarang belum menerima informasi realisasi penyaluran per bulan dari Pertamina,” katanya.

Bachtiar menambahkan, Pertamina umumnya telah menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi peningkatan kebutuhan BBM dengan menambah pasokan secara bertahap sesuai kondisi di lapangan.

Karena itu, pemerintah daerah meminta masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau panic buying. Warga juga perlu menggunakan bahan bakar secara lebih hemat dan bijak agar distribusi tetap berjalan normal.

Menurut Bachtiar, penyesuaian harga Pertamax merupakan bagian dari kebijakan pemerintah yang mengikuti perkembangan harga minyak dunia.
“Pemerintah menyesuaikan harga Pertamax dengan kondisi harga minyak dunia. Karena itu, masyarakat perlu menyikapi situasi ini secara bijak dan tidak melakukan panic buying,” pungkasnya.

Ikuti Kami Juga Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *