SUMENEP – Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, merespons serius tumpahan puluhan ton minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang mencemari pesisir utara Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Achmad Fauzi menegaskan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep segera melaporkan insiden tersebut kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur. Ia menjelaskan, kewenangan pengelolaan wilayah laut serta penanganan risiko pencemaran lingkungan berada di tingkat provinsi.
“Kami akan segera melaporkan kejadian ini ke DLH Provinsi Jawa Timur, karena kewenangan laut dan dampak pencemarannya menjadi tanggung jawab mereka,” ujar Fauzi di Sumenep, Jumat (23/1/2026).
Selain langkah pelaporan, Fauzi juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap dampak tumpahan minyak tersebut. Ia meminta warga pesisir dan nelayan menghindari area tercemar demi menjaga keselamatan dan kesehatan.
“Kami mengingatkan masyarakat untuk tidak mendekati lokasi tumpahan, setidaknya untuk sementara waktu, karena risikonya cukup besar,” katanya.
Menurut Fauzi, tumpahan CPO ke laut bukan persoalan sepele. Minyak sawit mentah yang mengapung di permukaan laut dapat menimbulkan pencemaran serius jika tidak tertangani dengan cepat dan tepat.
“Tumpahan CPO berpotensi merusak ekosistem laut, mencemari perairan, dan mengganggu mata pencaharian nelayan,” jelasnya.
Ia memaparkan, CPO yang mengapung dapat membentuk lapisan tebal di permukaan laut. Lapisan tersebut menghambat masuknya sinar matahari dan mengganggu pertukaran oksigen, sehingga berisiko menyebabkan hipoksia atau kekurangan oksigen bagi ikan, kerang, serta biota laut lainnya.
Tak hanya itu, minyak mentah juga dapat menempel pada akar mangrove dan merusak terumbu karang. Dampak lanjutan dari pencemaran ini berpotensi mengganggu sektor pariwisata pesisir dan perekonomian warga.
“Jika tidak segera ditangani, dampaknya bisa meluas, tidak hanya ke lingkungan laut, tetapi juga ke ekonomi masyarakat pesisir,” tegas Fauzi.
Sebelumnya, puluhan ton CPO tumpah ke perairan Sumenep setelah kapal tongkang Indo Oncean Marine yang mengangkut minyak sawit mentah mengalami kandas dan kebocoran di pesisir utara Pulau Gili Iyang. Hingga Jumat (23/1/2026), kapal tersebut masih tersangkut di atas karang, sehingga minyak terus keluar dari badan kapal.
Tumpahan CPO tidak hanya mencemari garis pantai, tetapi juga menggumpal di tengah laut. Memasuki hari kedua, gumpalan minyak terbawa arus dan angin laut, bergerak ke arah timur Pulau Gili Iyang dan memperluas area pencemaran.














