SUMENEP – Kecamatan Kalianget dikenal sebagai salah satu kawasan bersejarah di wilayah timur Madura. Sebelum Indonesia merdeka, kawasan ini berkembang sebagai kota modern dengan berbagai infrastruktur penting, mulai dari pabrik dan kantor perusahaan garam, instansi pemerintah, stasiun pengamatan cuaca, hingga pelabuhan. Kalianget juga pernah memiliki hotel lama, sekolah, dan benteng yang menjadi bagian dari jejak sejarahnya.
Kini, Kalianget berstatus sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Sumenep. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep dalam publikasi Kecamatan Kalianget dalam Angka 2026, wilayah ini terdiri atas tujuh desa, 33 dusun, 32 rukun warga (RW), dan 167 rukun tetangga (RT).
Salah satu desa di kecamatan tersebut adalah Kertasada. Terletak di bagian paling barat dari pusat Kecamatan Kalianget, Kertasada memiliki luas wilayah 1,73 kilometer persegi. Luas tersebut menjadikannya desa terkecil dibandingkan enam desa lainnya di Kecamatan Kalianget.
Secara administratif, Desa Kertasada terbagi menjadi empat dusun, yakni Dusun Boom, Dusun Kerkop, Dusun Penatu, dan Dusun Baru. Namun, pembagian wilayah tersebut tidak terbentuk sekaligus.
Sekretaris Desa Kertasada, Hasan, menjelaskan bahwa pada awalnya desa tersebut hanya memiliki tiga dusun. Dusun Baru kemudian dibentuk pada masa kepemimpinan Kepala Desa Amiruddin.
“Awalnya, Kertasada hanya ada tiga dusun, yaitu Boom, Kerkop, dan Penatu. Baru di era Kepala Desa Amiruddin, dimekarkan lagi menjadi empat, yaitu ditambah Dusun Baru,” kata Hasan, Selasa (20/10/2026).
Selain memiliki pembagian wilayah administratif, Kertasada juga menyimpan cerita turun-temurun mengenai asal-usul namanya. Secara etimologis, nama Kertasada diduga berasal dari gabungan kata kerta dan sada.
Dalam bahasa Jawa Kuno, kerta memiliki makna makmur dan berkaitan dengan kata Sanskerta kṛta, yang merujuk pada hasil atau pencapaian. Sementara itu, sada atau sodo dikenal sebagai sebutan untuk lidi.
Namun, menurut Hasan, masyarakat setempat memiliki kisah tersendiri mengenai asal-usul nama Kertasada. Cerita tersebut diwariskan secara turun-temurun dan kini turut dicantumkan dalam profil desa.
Hasan mengatakan, hingga saat ini belum ditemukan catatan sejarah resmi yang memastikan proses terbentuknya Desa Kertasada. Meski demikian, terdapat peninggalan yang dipercaya berkaitan dengan masa kerajaan terdahulu, yakni sebuah masjid yang dahulu dikenal dengan nama Masjid Ke Jala.
“Pada dasarnya sejarah terbentuknya Desa Kertasada secara pasti sampai saat ini tidak ada catatan sejarah yang resmi, namun hanya ada suatu peninggalan raja terdahulu yang tersisa, yaitu sebuah masjid yang bernama Masjid Ke Jala. Masjid tersebut konon merupakan tempat persinggahan raja apabila mau melakukan perjalanan lewat perairan yang melalui pelabuhan Boom di kawasan desa ini,” kisahnya.
Seiring berjalannya waktu, masjid tersebut berganti nama menjadi Musalla Al-Ma’arif. Menurut Hasan, tempat ibadah itu masih digunakan untuk kegiatan keagamaan, termasuk sebagai tempat seorang mubalig mengajari anak-anak mengaji di lingkungan sekitar.
Kisah mengenai asal-usul nama Kertasada juga berkaitan dengan sosok raja yang disebut dalam cerita lisan para sesepuh desa. Dalam penuturan tersebut, kata kerto dimaknai sebagai raja, sedangkan sodo berarti lidi. Gabungan keduanya kemudian diartikan sebagai “Raja Lidi”.
“Kata Kertasada konon berasal dari bahasa Jawa, yaitu kerto dan sodo, yang maknanya kerto ialah raja dan sodo yaitu lidi. Makna keseluruhannya yaitu Raja Lidi, dan menurut tutur pinisepuh Desa Kertasada, dahulu raja tersebut mempunyai senjata ampuh berupa sebuah lidi atau sodo yang dapat membunuh musuh apabila tersentuh sodo tersebut,” ungkap Hasan.
Kisah Raja Lidi tersebut menjadi bagian dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat Kertasada. Meski belum didukung catatan sejarah resmi, cerita itu memperlihatkan bagaimana masyarakat setempat mewariskan ingatan kolektif mengenai asal-usul desa dan peninggalan masa lalu.
Di tengah perkembangan Kecamatan Kalianget, Kertasada tidak hanya dikenal karena luas wilayahnya yang relatif kecil, tetapi juga karena kisah lokal yang menyertai nama dan sejarahnya. Cerita tentang Masjid Ke Jala dan Raja Lidi menjadi bagian dari kekayaan tradisi lisan yang masih dikenang masyarakat setempat.















