Dalam Doa, Masih Ada Kita
Katanya waktu akan menyembuhkan.
Tapi mengapa
setelah sekian lama,
namamu masih menjadi luka
yang paling sering kurindukan?
Aku sudah mencoba berjalan,
meski langkahku tertatih.
Sudah mencoba melupakan,
meski kenangan selalu menemukan jalan
untuk kembali.
Aku masih ingat
caramu dulu berkata,
“Jangan lupa berdoa,
semoga pada akhir cerita
kita tetap bersama.”
Dan lucunya…
Aku masih melakukan itu.
Bukan karena aku tak bisa menerima kenyataan,
tapi karena sampai hari ini
aku masih percaya,
mungkin Tuhan belum benar-benar selesai
menulis cerita kita.
Kini kita sudah sejauh ini.
Tak lagi saling menyapa,
tak lagi berbagi cerita,
bahkan mungkin
kau sudah bahagia
tanpa pernah mengingatku.
Sedangkan aku…
Masih menyimpan namamu
di tempat paling sunyi
yang hanya Tuhan tahu.
Setiap rindu datang,
aku tak mencarimu.
Aku hanya berdoa.
“Tuhan,
kalau memang dia bukan lagi untukku,
aku ikhlas…”
“Tapi jika masih ada sedikit ruang
di dalam takdir-Mu untuk kami,
pertemukanlah kami sekali saja.”
Tak perlu kembali bersama.
Tak perlu mengulang semuanya.
Aku hanya ingin
sekali lagi melihat matanya,
mendengar suaranya,
dan merasakan bahwa
orang yang selama ini kurindukan
ternyata masih nyata.
Biarkan pertemuan itu
hanya berlangsung sesaat.
Sebab mungkin,
yang kubutuhkan bukan kembali memiliki…
Tapi hanya sebuah pertemuan
untuk menyembuhkan
rindu yang terlalu lama
kupeluk sendirian.
Dan jika setelah itu
kita kembali menjadi asing,
tak apa.
Setidaknya aku pernah melihatmu lagi.
Setidaknya hatiku tahu
bahwa doaku
pernah sampai kepada Tuhan.
Sebab sampai hari ini…
Aku mungkin sudah kehilanganmu,
tapi aku belum pernah kehilangan
doaku tentangmu.
Dan entah sampai kapan…
dalam setiap doaku,
masih ada kita.
Oleh: DMC
















