Cerpen  

Seorang Bocah Setia Menunggu Ayah Pulang, Tanpa Mengetahui Sang Ayah Gugur Saat Bekerja

Bocah perempuan menunggu ayah pulang di depan rumah sederhana saat senja, ilustrasi kisah haru keluarga
Ilustrasi seorang anak perempuan duduk di depan rumah sederhana sambil menunggu ayahnya pulang kerja pada senja hari

Senja mulai menyelimuti langit dengan semburat jingga ketika Nisa, bocah perempuan berusia delapan tahun, duduk setia di depan pintu rumah sederhana milik keluarganya. Rumah berdinding anyaman bambu di ujung kampung itu menjadi saksi kesetiaan seorang anak yang menunggu sosok paling ia rindukan.

Di tangan mungilnya, Nisa menggenggam erat selembar gambar hasil lomba mewarnai di sekolah. Pada sudut kertas itu, ia menulis kalimat sederhana, “Untuk Ayah.” Ia berharap sang ayah segera pulang agar bisa melihat hasil kerja kerasnya.

Setiap sore, Nisa memiliki kebiasaan menyambut ayahnya yang bekerja sebagai buruh bangunan. Begitu mendengar suara sepeda motor memasuki gang, ia selalu berlari sambil tersenyum dan memanggil ayahnya dengan penuh semangat.

Namun sore itu berbeda. Gang kecil di depan rumah tetap lengang. Tak ada suara kendaraan yang biasa membawa sang ayah pulang.

Di dalam rumah, sang ibu berusaha menyembunyikan kesedihan. Air mata terus mengalir sejak kabar duka datang pada siang hari. Beberapa tetangga silih berganti mendatangi rumah mereka setelah mendengar kabar bahwa ayah Nisa meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat bekerja.

Meski demikian, tak seorang pun tega menyampaikan kenyataan pahit itu kepada Nisa.

“Biarkan dulu. Jangan sekarang,” pinta sang ibu kepada para tetangga dengan suara bergetar.

Hari berganti malam. Lampu-lampu rumah mulai menyala, sementara anak-anak lain sudah kembali ke rumah masing-masing. Nisa tetap duduk di depan pintu sambil memandangi ujung jalan.

“Bu, mungkin Ayah lembur, ya?” tanyanya polos.

Sang ibu hanya mampu menganggukkan kepala. Ia berusaha menahan tangis agar putrinya tidak mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.

Nisa pun tersenyum.

“Kalau Ayah pulang nanti, Nisa mau pijitin. Ayah pasti capek.”

Ucapan sederhana itu membuat hati sang ibu semakin hancur. Ia memalingkan wajah agar Nisa tidak melihat air matanya.

Malam semakin larut. Angin dingin berembus pelan, sementara suara jangkrik memenuhi kesunyian. Sesekali Nisa berdiri ketika mendengar suara kendaraan melintas, tetapi harapannya selalu pupus karena bukan ayahnya yang datang.

Tak lama kemudian, beberapa warga berjalan perlahan menuju rumah mereka. Mereka memikul sebuah tandu yang tertutup kain putih.

Suasana mendadak berubah hening.

Dengan wajah penuh harapan, Nisa berdiri lalu berkata, “Itu Ayah, ya Bu? Ayah pulang.”

Tak ada seorang pun yang mampu menjawab.

Seorang tetangga menghampiri Nisa, kemudian memeluknya erat.

“Nisa, Ayahmu sudah pulang. Tetapi kali ini, Ayah pulang untuk beristirahat selamanya.”

Nisa belum memahami maksud kalimat itu.

Ketika warga membuka kain putih secara perlahan, wajah ayahnya terlihat untuk terakhir kali. Senyum kecil di wajah Nisa perlahan memudar.

Ia menggenggam erat gambar yang sedari sore ingin ia berikan.

Dengan suara lirih, Nisa berkata, “Ayah… Nisa juara mewarnai.”

Tak ada jawaban.

Tak ada lagi senyum hangat ataupun tangan kasar yang biasa mengusap kepalanya.

Dengan tangan bergetar, Nisa meletakkan gambar itu di atas dada sang ayah.

“Katanya Ayah selalu pulang,” bisiknya pelan.

Tangis pun pecah memenuhi rumah sederhana itu. Tempat yang selama ini dipenuhi tawa berubah menjadi lautan duka.

Di depan pintu rumah, sepasang sandal usang milik sang ayah masih tergeletak. Sandal itu kini hanya menjadi kenangan tentang sosok kepala keluarga yang telah mengabdikan hidupnya demi keluarga.

Sejak malam itu, Nisa masih sering duduk di tempat yang sama. Namun, ia tak lagi menunggu ayahnya pulang. Ia datang untuk mengenang kasih sayang, kerja keras, dan pengorbanan seorang ayah yang akan selalu hidup dalam doa serta kenangan anaknya.

Sebab bagi seorang anak, cinta seorang ayah tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hadir melalui setiap doa, kenangan, dan kasih sayang yang tak akan pernah berakhir.

 

*) Oleh: Nia Aulia, SMP Semarang

Ikuti Kami Juga Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *