FALIHMEDIA.COM – Platform media sosial Instagram tengah diterpa badai keluhan dari pengguna akibat pemblokiran akun secara massal yang disebut terjadi tanpa alasan yang jelas. Ramainya laporan ini pertama kali diungkap oleh TechCrunch, berdasarkan unggahan di Instagram, Reddit, dan platform X (sebelumnya Twitter).
Para pengguna mengaku tidak melakukan pelanggaran apa pun, namun tetap terkena suspensi akun. Ironisnya, saat mereka mengajukan banding, Meta (perusahaan induk Instagram) tidak memberikan respons sama sekali. Hal ini membuat banyak pengguna merasa frustrasi karena tidak memiliki jalur komunikasi yang jelas dengan pihak platform.
“Saya sudah berkali-kali mengirimkan banding dan dokumen identitas resmi. Tapi tidak ada tanggapan, seperti bicara ke ruang kosong,” tulis seorang pengguna Reddit yang akunnya diblokir.
Forum komunitas Instagram di Reddit pun penuh dengan laporan serupa. Di media sosial X, warganet ramai-ramai menyerbu akun resmi Instagram, menuntut penjelasan serta pembukaan blokir. Bahkan, sebagian mengancam membawa kasus ini ke ranah hukum.
Menurut laporan TechCrunch, insiden semacam ini biasa terjadi ketika sistem otomatis berbasis AI mengambil alih proses moderasi konten. Namun, jumlah pemblokiran yang melonjak belakangan ini memicu dugaan bahwa teknologi kecerdasan buatan mungkin telah salah mendeteksi aktivitas pengguna.
Kasus serupa juga sempat terjadi di Pinterest awal tahun ini, yang akhirnya mengakui adanya kesalahan sistem internal setelah mendapat tekanan publik.
Yang lebih mengkhawatirkan, beberapa pengguna Instagram mengaku kehilangan penghasilan karena akun yang diblokir merupakan sumber mata pencaharian utama mereka.
“Saya bekerja penuh waktu di Instagram. Ini benar-benar menghancurkan,” kata seorang pengguna lainnya.
Tak sedikit pula yang menyebut alasan pemblokiran sangat merusak reputasi. Misalnya, ada pengguna yang mendapatkan alasan “eksploitasi seksual anak” padahal merasa tidak melakukan pelanggaran. Tuduhan seperti ini tentu bisa menghancurkan karier dan nama baik seseorang secara permanen.
Situasi ini memperkuat kekhawatiran publik atas penggunaan AI dalam moderasi konten digital. Tanpa kejelasan proses banding yang transparan, pengguna terancam kehilangan akses atas akun mereka secara permanen meski tak melakukan pelanggaran sama sekali.














