FALIHMEDIA.COM – Wilayah pesisir selatan Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, saat ini menghadapi ancaman yang tidak boleh lagi dianggap sepele. Abrasi yang mulai menggerus sejumlah kawasan pantai menjadi tanda bahwa keseimbangan lingkungan pesisir sedang mengalami tekanan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya garis pantai yang perlahan hilang, tetapi juga masa depan ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada laut.
Selama ini, laut menjadi sumber kehidupan utama bagi masyarakat Giligenting. Nelayan, pencari hasil laut, hingga pelaku usaha perikanan menggantungkan penghasilan mereka dari kekayaan pesisir. Namun, ancaman abrasi yang terjadi secara perlahan dapat menjadi persoalan besar apabila tidak segera mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Pemerhati Pembangunan dan Lingkungan Hidup (DPD PPLHI) Kabupaten Sumenep, Abd. Rahman, menyebut sejumlah pantai di wilayah selatan Giligenting seperti Pantai Berru, Sumur Tumpang, Sokon, dan Gheleghe mulai mengalami abrasi. Persoalannya, perubahan tersebut sering kali tidak disadari masyarakat karena proses pengikisan pantai berlangsung secara bertahap.
Abrasi memang tidak selalu menghadirkan dampak secara langsung dalam hitungan hari atau bulan. Namun, justru karena bergerak perlahan, ancaman ini sering terlupakan. Ketika masyarakat mulai merasakan dampaknya, bisa jadi kerusakan yang terjadi sudah jauh lebih sulit untuk dipulihkan.
Pesisir bukan hanya sekadar batas antara daratan dan laut. Kawasan tersebut merupakan ruang hidup yang menyimpan berbagai fungsi ekologis. Kerusakan pantai dapat mengganggu habitat biota laut, mengurangi produktivitas perikanan, serta memperbesar risiko terhadap permukiman dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Dalam kondisi seperti ini, keberadaan hutan mangrove menjadi salah satu solusi alami yang sangat penting. Mangrove bukan hanya tanaman penghijau pantai, tetapi juga benteng ekologis yang mampu menahan gelombang, menangkap sedimen, serta menjaga kestabilan garis pantai.
Sayangnya, kesadaran terhadap pentingnya mangrove dan perlindungan pesisir sering kali muncul setelah kerusakan mulai terlihat. Padahal, upaya pencegahan jauh lebih baik dibandingkan melakukan pemulihan ketika kondisi sudah semakin parah.
Selain rehabilitasi mangrove, pembangunan tangkis laut pada kawasan yang memiliki tingkat abrasi tinggi juga perlu menjadi perhatian. Namun, pembangunan infrastruktur pesisir tidak boleh dilakukan secara asal. Dibutuhkan kajian teknis dan lingkungan agar solusi yang diterapkan benar-benar mampu melindungi pantai tanpa menimbulkan persoalan baru.
Pemerintah Kabupaten Sumenep bersama pemerintah desa dan masyarakat Giligenting perlu menjadikan persoalan abrasi sebagai agenda penting dalam pembangunan wilayah kepulauan. Perlindungan pesisir harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar program penanganan sementara.
Masyarakat juga memiliki peran besar dalam menjaga keberlangsungan lingkungan pesisir. Kesadaran untuk merawat mangrove, menjaga kebersihan laut, serta melaporkan perubahan kondisi pantai harus terus dibangun.
Giligenting memiliki potensi kelautan yang besar. Namun, potensi tersebut tidak akan bertahan apabila ekosistem pesisir terus mengalami kerusakan. Menjaga pantai berarti menjaga sumber kehidupan masyarakat.
Abrasi bukan hanya persoalan hilangnya daratan, tetapi juga persoalan hilangnya harapan bagi generasi mendatang. Karena itu, langkah nyata untuk melindungi pesisir Giligenting harus dilakukan mulai sekarang sebelum ancaman tersebut berubah menjadi kerugian yang lebih besar.
*) Oleh: Abd. Rahman : Ketua Dewan Pimpinan Daerah Pemerhati Pembangunan dan Lingkungan Hidup (DPD PPLHI) Kabupaten Sumenep
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi falihmedia.com
















