Opini  

BRI Masifkan Ekspansi Kredit: Antara Peluang dan Ancaman Pelaku Usaha Pemula hingga Rakyat Kecil di Giligenting

Ekspansi kredit BRI untuk UMKM di wilayah kepulauan Giligenting mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat kecil
Aktivitas pelayanan kredit UMKM oleh BRI di wilayah kepulauan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat

FALIHMEDIA.COM – Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat kecil dan mendukung peningkatan produktifitas UMKM kepulauan seperti di Kecamatan Giligenting, Bank Rakyat Indonesia (BRI) melakukan ekspansi kredit yang lebih masif.

Namun, hal tersebut sangat memiliki resiko yang besar terhadap tekanan Likuiditas sebagai sebuah sarana pemenuhan segala macam pemenuhan kewajiban bank kepada pihak ketiga (DPK) sehingga menimbulkan suatu kekhawatiran terhadap gangguan stabilitas perekonomian nasabah yang sangat bergantung pada pembiayaan tersebut.

Direktur Utama BRI, Herry Gunardi menyampaikan bahwa Ekspansi kredit tersebut merupakan suatu langka strategi agresif BRI untuk menjaga terjadinya inflasi besar-besaran akibat ketidakpastian perekonomian global sebesar kisaran yang sedang ditargetkan Bank Indonesia saat ini.

“Secara keseluruhan, kombinasi inflasi yang terjaga, kebijakan moneter yang lebih longgar, dan ketahanan konsumsi domestik memberikan fondasi yang cukup kuat bagi ekonomi Indonesia ke depan,” ujar Hery. dilansir dari IpotNews, Sabtu (28/3/2026).

Dalam penyelenggaraan tersebut ditambah oleh dukungan BUMN dalam memperpanjang tempo penempatan saldo pemerintah yang berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) di 5 titik Bank di bawah pembinaan BUMN sebesar 200 Triliun.

Menurut pendapat Mentri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN pada Senin, 23 Februari 2026 bulan lalu. Sebenarnya kebijakan tersebut sudah diberlakukan sejak

13 Februari 2025 lalu yang akan jatuh tempo pada 13 Meret bulan ini namun kebijakan perpanjangan jatuh tersebut diperpanjang hingga bulan september kedepan.

“Kami bertemu Gubernur BI Jumat pekan lalu untuk konsolidasi kebijakan. Penempatan Rp200 triliun saat jatuh tempo di 13 Maret nanti akan langsung diperpanjang enam bulan ke depan,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN”, dilansir dari berita RRI.com.

Direktur Keuangan BRI, Farida Thamrin pihaknya menyambut baik kebijakan tersebut yang memiliki tujuan pro aktif terhadap meningkatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui program penyaluran kredit.

Menurutnya, dengan perpanjangan tempo tersebut, BRI menjadi semakin yakin bahwa stabilitas likuditas dari perbankan akan sangat terjaga. Dengan terjaganya stabilitas likuditasnya, maka transmisi kebijakan fiskal ke sektor rill juga akan semakin terjaga.

“Sebetulnya dana SAL keseluruhan, yang kita terima itu totalnya ada Rp 80 triliun, yang Rp 55 triliun itu menjadi bagian dari yang Rp 200 triliun secara keseluruhan Himbara, tapi kita pernah dapat juga yang fase kedua Rp 25 triliun tetapi itu lebih ke short term dan itu memang karena hanya short term jadi tidak diperpanjang,” tutur Farida.

Dari paparan diatas dapat kita ambil suatu kesimpulan bahwa masifnya penyaluran kredit tersebut bertujuan untuk meningkatkan suatu pertumbuhan ekonomi masyarakat serta memobilisasi stabilitas Intermediasi bank di priode berikutnya sehingga lembaga perbankan khususnya BRI tersebut bisa memaksimalkan suatu sektor Likuiditas yang lebih optimal dimasa yang akan datang.

Jika kita menganalisis secara mendalam dengan menggunakan suatu model teoritis Growth Engine yang di populerkan oleh tokoh ekonomi yang bernama Eric Ries menurutnya suatu pertumbuhan ekonomi bukan suatu hal yang datang secara kebutuhan namun sesuatu yang perlu melalui proses pengukuran, dirancang dan optimalkan.

Menurut teori tersebut langkah pertama yang  digunakan untuk memaksimalkan pertumbuhan ekonomi yaitu dengan mengasah kemampuan baik dibidang manajemen keuangan maupun manajemen marketing yang dilakukan sehingga ketika menggunakan fasilitas kredit tersebut dapat dikelola dengan baik.

Maka dari itu, suatu penyaluran kredit bukanlah satu-satunya media dalam menumbuhkan suatu perekonomian masyarakat karena dalam hal ini seorang pelaku usaha masih membutuhkan suatu pengetahuan yang matang terhadap mengukur kapasitas bisnisnya apakah bisnis dijalankan mampu memenuhi kewajiban ansuran kreditnya apa tidak?.

Setelah itu, perlu memperdalam suatu kemampuannya bagaimana caranya untuk lebih memahami produk apa saja yang sekiranya mampu memobilisasi calon pembeli agar dapat mencapai profibilitas yang diinginkan serta mampu dalam menganalisis seberapa persen yang akan didapatkan dalam menjalankan usahanya.

Yang kedua, perlu adanya suatu pengetahuan dalam merancang anggaran dalam memenuhi kebutuhan usahanya seperti rancangan biaya operasional, biaya produksi, dan biaya distribusi serta biaya kewajiban yang wajib dipenuhi seperti pembayaran ansuran sehingga mampu memobilisasi usahanya.

Ada beberapa faktor yang perlu dipahami dalam perancangan anggaran usaha:

Setiap pembiayaan harus dapat berhubungan dengan

a. Sistem penarikan pelanggan baru (Akusisi pelanggan)

b. Sistem mempertahankan pelanggan

c. Sistem ilustrasi pertumbuhan usaha dimasa yang akan datang.

Ketiga, bagaimana pelaku usaha tersebut bisa mengoptimalkan dana kredit yang diperoleh untuk mengembangkan usahanya.

Dari sini pelaku usaha perlu juga menambah wawasannya sehingga bisnis apa yang akan dijalankan mampu menghasilkan output atau pendapatan.

Dalam hal ini, beban ansuran kredit tersebut akan memiliki nilai dalam menumbuhkan perekonomiannya seperti

Tracking Omzet yaitu menilai, mengukur suatu strategi yang akan dijalankan dan memastikan kemampuan kredit serta mengindentifikasi suatu tren terbaru di pasar uang Sesuai (Neache) dengan usaha yang dijalankan.

Disisi lain, pihak BRI juga tidak serta – mereka menyalurkan kredit bagi para pelaku usaha untuk memperluas jaringan pasar dalam mendorong perekonomian masyarakat kepulauan seperti di Giligenting.

Karena pada dasarnya mereka memiliki suatu prinsip yang dijalankan dan dikenal sebagai 5C yang meliputi:

Cracterter artinya pihak BRI ketika ada pelaku usaha yang mengajukan kredit masih melakukan suatu penilaian terhadap rekam jejak atau riwayat kreditnya.

Capacity  melakukan penilaian terhadap terdapat kemampuan membayarnya sehingga dilakukanlah survey terdapat usaha yang dijalankan.

Capital penilaian terhadap kemampuan modal kreditor tersebut seperti berapakah modal pribadi yang digunakan dalam usaha tersebut jika ditambah pendanaan dari bank maka berapa keuntungan periodenya.

Colleral, Penilaian kesesuaian Jaminan (agunan) yang diberikan karena penyaluran pendanaan akan disesuaikan dengan jaminan yang diserahkan ke BRI.

Condition, penilaian terhadap kondisi ekonomi orang yang mengajukan kredit dan kondisi ekonomi di wilayah domisilinya.

Maka dari analisis terhadaplah kita bisa menangkap sebuah kesimpulan bahwa masifnya ekspensi kredit yang dilakukan oleh BRI di tahun 2026 memiliki dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Bagi masyarakat kecil kepulauan seperti di Giligenting yang memiliki wawasan dan pengetahuan minim mengenai suatu dunia bisnis dan keuangan serta tidak memiliki suatu jaminan yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi cenderung akan menghadapi suatu ancaman yang serius sehingga mereka akan mengalami suatu kesulitan ekonomi ya,g sangat memprihatikan sehingga mereka tidak mampu lagi hidup dalam dunia bisnis sebagai sumber kehidupan mereka.

Karena hal masifnya penyaluran kredit yang dilakukan oleh pihak BRI hanya menyasar mereka yang memiliki riwayat baik dalam proses pengkreditan, memiliki pengetahuan dan yang handal dan kondisi ekonomi yang matang.

Sebagaimana kita ketahui di kecamatan Giligenting khusus di pulau Giligenting banyak sekali suatu peristiwa pernikahan dini, putusnya sekolah serta sebagian besar masyarakatnya memiliki tingkat perekonomian yang rendah hal tersebut menjadi latar belakang utama mengapa pertumbuhan ekonomi masyarakat di pesisir Giligenting ini masih dibawah rata-rata.

Dari hal tersebut, ekspensi kredit yang dilakukan oleh BRI pada saat ini belum sepenuhnya dapat menumbuhkan ekonomi masyarakat di kecamatan Giligenting.

Dari data yang penulis temukan dari beberapa sumber ilmiah pergerakan dan penyaluran kredit yang masif itu sangat mengancam bukan hanya di segi perekonomiannya saja namun hal tersebut juga berdampak nyata terhadap kondisi sosial yang akan menimbulkan kesenjangan ekonomi yang bisa dikatakan kronis.

Karena pada prakteknya sudah secara gamblang kita uraikan bahwa masyarakat yang masih terjebak kemiskinan dan mereka masih belajar untuk berbisnis akan kalah dengan mereka yang memiliki pengalaman yang cukup lama dalam dunia bisnis dan mereka yang memiliki tingkat ekonomi yang mampan karena mereka sudah memiliki kesempatan besar dalam memperoleh akses penyaluran modal yang cukup besar dalam menumbuhkan perekonomiannya.

Ancaman ini sangat ironis, dimana masyarakat kecil yang tidak memiliki akses keuangan dari negara harus mampu secara mandiri membangun usaha secara mandiri yang mereka ikhtiarkan dari sanak keluarga dan tetangga meskipun pada prakteknya juga mereka kurang dipercaya karena banyak stigma kekhawatiran terhadap ketidakpastian ekonomi saat ini.

 

*) Oleh: Riski Ermanda, S.Pd, M.Pd Analis Bisinis Ekonomi Pulau Giligenting| Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis UNIBA Madura

 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi falihmedia.com

Ikuti Kami Juga Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *