Asal-usul Nama Torbang Sumenep dan Kisah Bindara Saot

Avatar of Falih Media
Asal-usul nama Torbang dan tradisi Tatorbangan di Kecamatan Batuan, Sumenep
Cerita asal-usul nama Desa Torbang yang berkembang dalam tradisi lisan masyarakat.

SUMENEP – Desa Torbang, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep, menyimpan cerita sejarah yang diyakini masyarakat berkaitan dengan kisah Bindara Saot, salah satu tokoh legendaris dalam sejarah Keraton Sumenep. Cerita tersebut dipercaya menjadi salah satu asal-usul penamaan Torbang dan hingga kini dikenang melalui tradisi tahunan Tatorbangan.

Kepala Desa Torbang, Muzanni, menjelaskan bahwa berdasarkan cerita yang diwariskan para sesepuh, wilayah Torbang menjadi tempat penyambutan Bindara Saot ketika hendak menjadi suami Ratu Tirtanegara, penguasa Sumenep pada pertengahan abad ke-18.

Kerjasama Media

“Disambut dengan terbang kata warga di sini, seperti hadrah,” ujar Muzanni kepada Media Center, Kamis (22/10/2026).

Menurut cerita yang berkembang, penyambutan tersebut diiringi bunyi terbang, alat musik yang digunakan dalam kesenian tradisional. Seiring berjalannya waktu, kata terbang diyakini mengalami perubahan pelafalan hingga menjadi Torbang.

Muzanni menyebut, sebelum dikenal dengan nama Torbang, wilayah tersebut merupakan bagian dari kawasan Desa Gelugur. Salah satu petunjuk yang menurutnya menguatkan cerita itu adalah keberadaan situs makam Kiai Gunung Gelugur yang secara administratif saat ini berada di Desa Torbang.

“Hal itu bisa dibuktikan dengan keberadaan situs makam Kiai Gunung Gelugur, yang secara administratif saat ini berada di Desa Torbang. Artinya juga, lebih dulu nama Gelugur dibanding Torbang,” imbuhnya.

Selain kisah penyambutan Bindara Saot, terdapat pula versi lain yang berkembang di tengah masyarakat mengenai asal-usul nama Torbang. Versi tersebut menghubungkan nama Torbang dengan ungkapan dalam bahasa Madura, yakni cator se rebbang.

Kata cator atau caca kurang lebih bermakna bicara, pembicaraan, ucapan, atau perkataan. Sementara itu, rebbang disebut memiliki makna yang berkaitan dengan sesuatu yang menyala, seperti bara api, atau hangus.

Namun, Muzanni menilai versi tersebut belum memiliki sumber cerita yang jelas. Karena itu, pemerintah desa berupaya menelusuri dan mengkaji berbagai cerita yang berkembang untuk memahami asal-usul nama desanya.

“Tapi hal itu bisa dikatakan tidak jelas sumbernya. Dan konotasinya juga terkesan kurang baik. Sehingga kita juga melakukan penelusuran sekaligus kajian, dan versi yang lebih jelas sumbernya ialah asal-usul Torbang dari kisah penyambutan Bindara Saot itu, terbang; tor-ator se etembangagi,” ungkap Muzanni.

Cerita tentang asal-usul nama Torbang tersebut kini turut dikenang melalui tradisi Tatorbangan. Kegiatan ini diisi dengan zikir dan selawat serta dimeriahkan penampilan kesenian tradisional, termasuk tembang macapat.

“Tatorbangan dilaksanakan setiap tahun, setiap tanggal 9 bulan 9 (September; red),” tutup Muzanni.

Desa Torbang sendiri merupakan salah satu desa di Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep. Kecamatan Batuan terbentuk melalui pemekaran wilayah dari Kecamatan Kota Sumenep pada 2004 dan diresmikan pada 31 Januari 2005. Pada periode yang sama, Kecamatan Kangayan juga diresmikan sebagai hasil pemekaran dari Kecamatan Arjasa.

Berdasarkan data Kecamatan Batuan dalam Angka 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep, Kecamatan Batuan memiliki luas sekitar 27,11 kilometer persegi. Wilayah ini terdiri atas tujuh desa, 23 dusun, 85 rukun tetangga (RT), dan 25 rukun warga (RW).

Secara geografis, Kecamatan Batuan berbatasan dengan Kecamatan Rubaru di sebelah utara, Kecamatan Saronggi di sebelah selatan, Kecamatan Kota Sumenep di sebelah timur, serta Kecamatan Lenteng di sebelah barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *