Asal-usul Desa Tenonan Sumenep, Legenda Banjir Laut dan Pertapa

Desa Tenonan Kecamatan Manding Sumenep dan legenda asal-usul namanya
Desa Tenonan di Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep, menyimpan cerita tutur mengenai asal-usul nama wilayah yang dikaitkan dengan legenda luapan air laut dan aktivitas menenun

SUMENEP – Desa Tenonan merupakan salah satu wilayah yang berada di Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Di balik kehidupan masyarakatnya saat ini, desa tersebut menyimpan cerita tutur mengenai asal-usul nama wilayah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Cerita tersebut mengisahkan luapan air laut, seekor ikan besar bernama Raja Mina, sebuah goa, hingga seorang pertapa yang berdoa sambil menenun benang.

Kisah asal-usul Tenonan itu berkembang sebagai folklor masyarakat. Sekretaris Desa Tenonan, Hasan, mengatakan cerita tersebut bersumber dari penuturan para tetua desa sejak masa lalu.

Tenonan Berada di Kecamatan Manding

Secara administratif, Kecamatan Manding berada di bagian utara Kabupaten Sumenep dan membawahi 11 desa.

Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep yang dikutip dalam naskah profil wilayah, Kecamatan Manding memiliki luas sekitar 68,88 kilometer persegi.

Nama Manding juga melekat pada tiga desa, yakni Manding Laok, Manding Daya, dan Manding Timur.

Sementara itu, Desa Tenonan berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat Kecamatan Manding dan sekitar 5 kilometer dari pusat Kabupaten Sumenep.

Wilayah Tenonan berbatasan dengan Desa Giring di sebelah utara, Desa Lanjuk di sebelah timur, Desa Lalangon di sebelah barat, serta Desa Kebunan, Desa Bangkal, dan Desa Parsanga di bagian selatan.

Namun, di balik gambaran administratif tersebut, masyarakat Tenonan menyimpan kisah yang jauh lebih tua mengenai asal-usul nama desa.

Legenda Luapan Air Laut

Hasan mengatakan cerita yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa kisah tersebut terjadi sekitar abad ke-14 Masehi.

Pada masa itu, masyarakat konon menghadapi luapan air laut yang sangat besar. Air disebut terus meninggi hingga mengancam wilayah bagian utara Sumenep.

Kisah tutur tersebut bahkan menyebut seekor ikan berukuran besar bernama Raja Mina ikut berpindah akibat naiknya air laut.

Raja Mina kemudian dipercaya menghuni sebuah goa yang oleh masyarakat disebut Goa Tonongkol.

“Goa tersebut bernama Goa Tonongkol. Menurut sumber yang dapat dipercaya, goa tersebut berhubungan langsung dengan goa yang terletak di sebuah tempat di Pamolokan,” tutur Hasan.

Cerita tersebut menjadi bagian dari folklore yang diwariskan masyarakat Tenonan. Hingga kini, kisah mengenai Goa Tonongkol dan Raja Mina masih menjadi bagian dari cerita lokal yang menarik perhatian masyarakat.

Pertapa Berdoa Sambil Menenun

Dalam legenda tersebut, kondisi masyarakat semakin mencemaskan. Air laut terus meninggi hingga tempat yang dianggap paling tinggi sekalipun nyaris terendam.

Di tengah situasi itu, muncul seorang pertapa yang tidak diketahui asal-usulnya.

Menurut cerita yang berkembang, pertapa tersebut kemudian memohon kepada Tuhan agar air laut tidak terus menggenangi wilayah tersebut.

Ia berdzikir sambil menenun benang.

Kisah tersebut kemudian memasuki bagian penting yang dipercaya masyarakat sebagai awal mula penamaan Tenonan.

Permohonan sang pertapa konon terkabul. Air laut perlahan surut. Bersamaan dengan surutnya air, ikan-ikan yang sebelumnya berpindah ke daratan mulai kembali ke laut.

Masyarakat pun kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya.

Nama Tenonan Dikaitkan dengan Aktivitas Menenun

Setelah kondisi wilayah kembali normal, tempat yang menjadi lokasi sang pertapa berdoa sambil menenun kemudian dipercaya masyarakat memperoleh nama Tenonan.

Nama tersebut dikaitkan dengan kata “tenun”, yakni aktivitas yang dilakukan sang pertapa dalam cerita tersebut.

“Dari asal kata tenun,” kata Hasan saat menjelaskan kisah yang diwariskan para tetua desa.

Cerita tersebut hingga kini menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Tenonan.

Folklor Menjadi Bagian dari Identitas Desa

Kisah asal-usul Tenonan menunjukkan bagaimana masyarakat di berbagai daerah menyimpan sejarah lokal melalui tradisi lisan.

Tidak semua cerita rakyat memiliki bukti sejarah tertulis yang dapat memverifikasi setiap detail peristiwa. Namun, cerita semacam ini tetap memiliki nilai budaya karena menggambarkan cara masyarakat masa lalu memahami lingkungan, tempat, dan identitas wilayahnya.

Legenda tentang luapan air laut, Raja Mina, Goa Tonongkol, serta pertapa yang menenun menjadi bagian dari warisan tutur yang memperkaya cerita tentang desa-desa di Kabupaten Sumenep.

Bagi generasi sekarang, kisah tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih jauh sejarah lokal, tradisi lisan, serta kekayaan budaya masyarakat Kecamatan Manding.

Karena itu, dokumentasi cerita rakyat menjadi penting agar pengetahuan yang selama ini diwariskan secara lisan tidak hilang seiring perubahan zaman.

FALIHMEDIA.com berkomitmen memberikan berita terkini, lugas dan akurat. Dukung keberlanjutan jurnalisme dengan mengikuti kami di: Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *