JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, terus mendapat perhatian. Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan meminta pemerintah memperkuat operasi pemadaman dengan teknologi, termasuk drone dan water bombing.
Daniel menilai kondisi medan di sejumlah titik kawasan Tengger menyulitkan petugas melakukan pemadaman secara langsung dari darat. Karena itu, dia mendorong pemerintah segera memaksimalkan operasi water bombing untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses.
“Kami memahami medan di beberapa titik Tengger sulit dijangkau tim darat, sehingga segera lakukan water bombing menjadi pilihan yang tepat. Saya mendorong agar operasi pemadaman dilakukan secara sistematis dan didukung penuh oleh teknologi,” kata Daniel kepada wartawan, Selasa (11/8/2026).
DPR Dorong Pemantauan Api dengan Drone
Daniel juga meminta petugas menggunakan drone untuk memantau pergerakan dan sebaran titik api secara real-time. Menurutnya, teknologi tersebut dapat membantu petugas menentukan lokasi prioritas sekaligus mengurangi risiko bagi personel yang bekerja di medan berbahaya.
“Pemantauan titik api secara real-time melalui drone untuk memetakan sebaran api secara akurat, sekaligus meminimalisir personel darat yang harus masuk ke titik-titik berisiko tinggi di medan berbahaya tersebut,” ujarnya.
Data hasil pemantauan drone, lanjut Daniel, dapat menjadi acuan bagi petugas dalam menentukan sasaran water bombing. Dengan pemetaan yang lebih akurat, operasi pemadaman diharapkan berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Daniel juga meminta pemerintah memperkuat koordinasi antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), TNI-Polri, serta relawan.
Menurut dia, koordinasi yang solid penting untuk mencegah tumpang-tindih penanganan sekaligus memastikan seluruh titik api mendapat penanganan.
“Kami Komisi IV juga meminta pemerintah pusat memastikan kecukupan anggaran serta dukungan logistik bagi personel di lapangan, mengingat keselamatan mereka harus jadi prioritas utama di medan seekstrem ini,” kata Daniel.
Karhutla Bromo Capai 520 Hektare
Daniel juga meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem mitigasi karhutla di kawasan konservasi. Dia mendorong pemerintah meningkatkan investasi pada sistem peringatan dini atau early warning system berbasis drone dan satelit.
Langkah tersebut, menurut Daniel, penting untuk mendeteksi kebakaran lebih cepat sehingga petugas dapat mengambil tindakan sebelum api meluas.
“Terutama tahun ini yang telah diprediksi El Nino yang panjang harus siap siaga atas dampaknya,” imbuhnya.
Sementara itu, petugas masih berupaya memadamkan karhutla di kawasan Gunung Bromo. Luas area yang terbakar diperkirakan telah mencapai sekitar 520 hektare.
Untuk mempercepat pemadaman, petugas mengerahkan tiga helikopter untuk menjalankan operasi water bombing di kawasan yang terdampak kebakaran.
Area yang terbakar didominasi padang rumput kering khas pegunungan. Api juga melalap sejumlah vegetasi dan bunga edelweiss yang tumbuh di kawasan Gunung Bromo.
Kondisi medan yang sulit serta material vegetasi yang mudah terbakar membuat petugas harus mengombinasikan penanganan dari darat dan udara untuk mengendalikan sebaran api.
















