FALIHMEDIA.COM – Masyarakat pesisir Madura mempertahankan tradisi Rokat Tase’ sebagai ritual budaya dan keagamaan yang diwariskan turun-temurun. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil laut, keselamatan, serta kelancaran rezeki para nelayan.
Dalam pelaksanaannya, warga memulai ritual dengan pembacaan istighotsah dan tahlil yang dipimpin tokoh agama setempat. Setelah doa bersama, masyarakat melarung sesaji ke laut sebagai simbol syukur dan harapan perlindungan.
Makna dan Prosesi Ritual
Sesaji yang dilarung berisi ketan warna-warni, tumpeng, ikan, serta berbagai hasil bumi. Wadah sesaji berbentuk perahu kecil yang disebut bitek dihias dan diisi benda yang mewakili kepemilikan nelayan, seperti kain, hasil pertanian, dan makanan.
Warga menempatkan bitek di dermaga (jaghangan) selama dua malam sebelum pelarungan. Tradisi ini memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menitipkan sesaji secara sukarela, biasanya berupa uang atau bahan makanan. Dalam beberapa pelaksanaan, kepala kambing menjadi bagian utama sesaji.
Dilakukan Saat Panen Laut Melimpah
Nelayan biasanya menggelar Rokat Tase’ ketika memperoleh hasil tangkapan melimpah sebagai ungkapan syukur. Namun, sebagian desa melaksanakan ritual ini secara berkala setiap tahun, menyesuaikan kondisi masyarakat.
Selain sebagai ungkapan syukur, warga juga meyakini ritual ini sebagai upaya tolak bala dan doa untuk keselamatan saat melaut.
Perpaduan Budaya dan Nilai Keagamaan
Tradisi Rokat Tase’ mencerminkan perpaduan budaya lokal dan nilai-nilai Islami. Doa bersama menjadi bentuk ketakwaan kepada Allah SWT, sementara pelarungan sesaji menjadi simbol penghormatan terhadap alam dan rasa syukur atas karunia-Nya.
Sebagian masyarakat memandang ritual ini sebagai budaya religius, meski ada pula pandangan yang mengkritisi unsur sesaji. Namun, bagi masyarakat pesisir Madura, tradisi ini tetap memiliki nilai sakral dan sosial.
Mempererat Solidaritas Sosial
Rokat Tase’ tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga memperkuat kebersamaan warga. Masyarakat menyiapkan hidangan untuk tamu dan kerabat yang hadir, menjadikan ritual ini sebagai ajang silaturahmi dan gotong royong.
Melalui tradisi ini, warga menjaga keharmonisan sosial sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur.
Tradisi yang Tetap Hidup di Perantauan
Warga Madura yang merantau tetap memegang nilai tradisi Rokat Tase’. Mereka berusaha melaksanakan ritual tersebut di tempat baru, meskipun keterbatasan fasilitas dan dukungan masyarakat setempat sering menjadi kendala.
Meski tidak selalu terlaksana, nilai spiritual dan budaya dari tradisi ini tetap mereka pertahankan.
Nilai Budaya Rokat Tase’
Wujud syukur kepada Tuhan
Permohonan keselamatan dan rezeki
Tradisi warisan leluhur
Sarana mempererat solidaritas sosial
Upaya tolak bala menurut kepercayaan masyarakat














