JAKARTA – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menyampaikan pidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Amerika Serikat. Dalam kesempatan tersebut, Sugiono mengawali pidatonya dengan menyampaikan salam lintas agama yang lazim digunakan dalam berbagai kegiatan di Indonesia.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, shalom, salve, Om swastiastu, namo Buddhaya, rahayu, semoga damai menyertai kita semua,” ujar Sugiono dalam pidatonya yang disiarkan melalui akun YouTube resmi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Minggu (27/9/2026).
Salam tersebut mendapat sambutan tepuk tangan dari para delegasi negara yang menghadiri Sidang Majelis Umum PBB.
Dalam pidatonya, Sugiono kemudian mengulas perjalanan dunia sejak berakhirnya Perang Dunia II. Ia menyoroti berbagai perubahan besar yang terjadi selama delapan dekade terakhir, termasuk berakhirnya kolonialisme, perkembangan globalisasi dan teknologi, krisis keuangan, pandemi, perubahan iklim, hingga konflik geopolitik.
Menurut Sugiono, berbagai perubahan dan krisis tersebut memberikan pelajaran penting bagi dunia. Ia menilai masyarakat internasional perlu terus menjaga perdamaian dan kemakmuran melalui multilateralisme yang mampu beradaptasi serta menghasilkan manfaat nyata.
Sugiono menekankan pentingnya membangun kepercayaan masyarakat terhadap kerja sama multilateral. Menurut dia, multilateralisme yang tidak mampu memberikan hasil nyata berisiko kehilangan kepercayaan publik.
“Karena multilateralisme yang gagal memberikan hasil nyata akan kehilangan kepercayaan masyarakat. Dan tanpa kepercayaan, multilateralisme tidak akan dapat bertahan,” kata Sugiono.
Ia kemudian mengaitkan ketahanan multilateralisme dengan kekuatan setiap negara. Sugiono mengatakan Indonesia telah mempelajari pentingnya membangun ketahanan nasional melalui perjalanan panjang bangsa selama puluhan tahun.
Sugiono Soroti Keberagaman Indonesia
Di hadapan para delegasi dunia, Sugiono juga menjelaskan pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, Indonesia menghadapi keragaman masyarakat sebagai bagian dari kekuatan nasional.
Sugiono menegaskan bahwa Indonesia tidak memandang keberagaman sebagai sesuatu yang harus dihilangkan. Sebaliknya, Indonesia berupaya mengelola dan menghormati perbedaan agar dapat memperkuat persatuan.
“Melalui partisipasi demokratis, dialog, dan penghormatan terhadap perbedaan, kita menjaga persatuan kita,” ujarnya.
Sugiono menggambarkan luasnya keberagaman Indonesia dari Aceh hingga Papua serta dari Miangas hingga Rote. Ia menegaskan bahwa seluruh wilayah tersebut membentuk satu kesatuan bangsa Indonesia.
Selain menjaga persatuan, pemerintah juga terus mendorong pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia (HAM). Menurut Sugiono, Indonesia menjalankan komitmen tersebut melalui mekanisme nasional sekaligus memenuhi kewajiban HAM di tingkat internasional.
HAM dan Ketahanan Nasional
Sugiono mengatakan upaya memperkuat HAM berjalan seiring dengan pembangunan ketahanan nasional Indonesia. Ia menilai pemenuhan HAM tidak hanya berkaitan dengan upaya mencegah kekerasan, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap kebutuhan dasar.
Akses terhadap pangan, pendidikan, dan layanan kesehatan, menurut Sugiono, menjadi bagian penting dalam pemenuhan hak masyarakat.
“Kepada para tetangga, sahabat, dan mitra kami, janganlah ada keraguan. Indonesia berdiri teguh hari ini, berlandaskan demokrasi, hak asasi manusia, dan supremasi hukum,” tegas Sugiono.
Melalui pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB ke-81, Sugiono kembali menegaskan posisi Indonesia yang mendorong penguatan kerja sama multilateral, penghormatan terhadap HAM, serta pembangunan perdamaian dan kemakmuran dunia.











