SosBud  

Sejarah Bubur Suro dan Maknanya, Tradisi Muharam Penuh Syukur yang Masih Dilestarikan

Bubur Suro lengkap dengan telur rebus, ayam, serundeng, dan pelengkap lainnya sebagai hidangan tradisional saat menyambut Bulan Suro atau Muharam
Semangkuk Bubur Suro lengkap dengan aneka lauk tradisional yang disajikan sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan dalam menyambut Bulan Suro atau Muharam

FALIHMEDIA.COM – Bubur Suro menjadi salah satu kuliner tradisional yang tidak hanya dikenal karena cita rasanya, tetapi juga memiliki nilai budaya, sejarah, dan spiritual yang kuat. Masyarakat di berbagai daerah, khususnya di Pulau Jawa, masih melestarikan tradisi memasak Bubur Suro sebagai bagian dari peringatan datangnya Bulan Suro atau Muharam dalam kalender Hijriah.

Bagi sebagian masyarakat, Bubur Suro bukan sekadar hidangan, melainkan simbol rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus doa agar diberikan keselamatan, keberkahan, kesehatan, dan kehidupan yang lebih baik sepanjang tahun.

Sejarah Bubur Suro

Tradisi Bubur Suro telah berkembang sejak masa penyebaran Islam di Nusantara. Para ulama memadukan budaya lokal dengan nilai-nilai Islam sehingga lahirlah tradisi selamatan yang hingga kini masih dijalankan oleh masyarakat.

Bulan Suro dalam penanggalan Jawa bertepatan dengan bulan Muharam, salah satu bulan yang dimuliakan dalam ajaran Islam. Momentum tersebut kemudian dimanfaatkan masyarakat untuk memperbanyak doa, sedekah, dan berbagai kegiatan sosial sebagai bentuk rasa syukur.

Dalam berbagai tradisi masyarakat Jawa, Bubur Suro selalu hadir sebagai hidangan utama saat doa bersama atau kenduri yang digelar pada malam 1 Suro maupun tanggal 10 Muharam.

Selain berkembang dari tradisi Islam Nusantara, masyarakat juga mengenal kisah Bubur Suro yang dikaitkan dengan Nabi Nuh AS. Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, setelah banjir besar surut, sisa bahan makanan yang masih tersedia dikumpulkan lalu dimasak menjadi bubur sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT.

Meski cerita tersebut merupakan tradisi lisan dan tidak memiliki dasar riwayat yang kuat dalam literatur Islam, kisah tersebut tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Makna Filosofis Bubur Suro

Di balik kesederhanaannya, Bubur Suro menyimpan berbagai nilai kehidupan yang masih relevan hingga saat ini.

Beberapa makna yang terkandung dalam tradisi Bubur Suro antara lain:

Ungkapan rasa syukur atas nikmat, kesehatan, dan rezeki yang telah diberikan Allah SWT.

Doa memohon keselamatan agar terhindar dari berbagai musibah dan diberi kemudahan menjalani kehidupan.

Simbol kebersamaan, karena proses memasak hingga pembagian bubur biasanya dilakukan secara gotong royong.

Wujud kepedulian sosial, melalui tradisi berbagi makanan kepada tetangga, kerabat, dan masyarakat sekitar.

Harapan akan kehidupan yang lebih baik, penuh keberkahan, kedamaian, serta kesejahteraan.

Bahan dan Pelengkap Bubur Suro

Bubur Suro umumnya dibuat dari beras yang dimasak hingga menghasilkan tekstur lembut. Untuk menambah cita rasa, bubur disajikan bersama aneka lauk dan pelengkap.

Beberapa pelengkap yang sering digunakan meliputi:

Telur rebus

Ayam suwir atau ayam opor

Tempe

Tahu

Serundeng

Kacang tanah goreng

Sambal goreng

Bawang goreng

Kerupuk

Komposisi lauk dapat berbeda di setiap daerah sesuai tradisi lokal, namun filosofi kebersamaan dan rasa syukur tetap menjadi inti dari penyajiannya.

Tradisi yang Masih Bertahan hingga Kini

Hingga sekarang, tradisi memasak Bubur Suro masih terus dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, terutama di Pulau Jawa.

Setelah dimasak, Bubur Suro biasanya dibagikan kepada tetangga, kerabat, maupun jamaah usai doa bersama. Tradisi berbagi tersebut menjadi simbol kepedulian sosial sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Di tengah perkembangan zaman, Bubur Suro tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat yang mengajarkan pentingnya berbagi, bergotong royong, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

Warisan Budaya yang Patut Dilestarikan

Bubur Suro tidak hanya menjadi makanan tradisional, tetapi juga merupakan warisan budaya yang mengandung pesan moral dan nilai-nilai kehidupan.

Melestarikan tradisi Bubur Suro berarti menjaga kekayaan budaya Nusantara sekaligus mempertahankan nilai luhur berupa rasa syukur, kebersamaan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi kepada sesama yang diwariskan oleh para leluhur.

Ikuti Kami Juga Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *