Harjakasi ke-208, Situbondo Susun Strategi Naik Kelas di Tengah Tantangan Fiskal

Rapat Paripurna Istimewa DPRD Situbondo dalam peringatan Harjakasi ke-208 tahun 2026
Ketua DPRD Situbondo Mahbub Junaidi memimpin Rapat Paripurna Istimewa DPRD dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-208 Kabupaten Situbondo, Sabtu (15/8/2026).

SITUBONDO – Peringatan Hari Jadi ke-208 Kabupaten Situbondo (Harjakasi) menjadi momentum bagi pemerintah daerah dan DPRD untuk menyusun arah pembangunan yang lebih progresif. Legislatif dan eksekutif menyatukan pandangan dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Situbondo, Sabtu (15/8/2026).

Ketua DPRD Situbondo Mahbub Junaidi mengatakan capaian ekonomi dan pembangunan sepanjang 2025 menunjukkan perkembangan positif. Namun, ia meminta pemerintah daerah tidak cepat berpuas diri karena Situbondo masih menghadapi sejumlah tantangan struktural.
Mahbub menyebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Situbondo mencapai 71,87, lebih tinggi dari target 71,49. Pertumbuhan ekonomi juga mencapai 5,25 persen. Bahkan, pada triwulan III 2025, pertumbuhan ekonomi Situbondo sempat mencapai 6,16 persen dan menjadi yang tertinggi di kawasan Sekarkijang.
Perkembangan tersebut berjalan beriringan dengan penurunan angka kemiskinan menjadi 11,17 persen. Sementara itu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) berhasil mencapai Rp320,97 miliar.
Meski mencatat sejumlah indikator positif, Mahbub mengingatkan pemerintah daerah agar tidak hanya melihat keberhasilan melalui angka makroekonomi.
Menurut dia, Situbondo masih menghadapi ketergantungan yang tinggi terhadap anggaran pemerintah pusat. Kondisi tersebut menjadi tantangan semakin besar karena pemerintah memproyeksikan penurunan dana transfer pada 2026 sebesar Rp198,75 miliar.
Sektor ketenagakerjaan juga membutuhkan perhatian serius. Mahbub mencatat sekitar 71,49 persen pekerja di Situbondo masih mengandalkan sektor informal.
DPRD Susun Delapan Agenda Strategis
Menghadapi kondisi tersebut, DPRD Situbondo menyiapkan delapan agenda strategis pembangunan. Agenda itu mencakup percepatan pengentasan kemiskinan permanen, hilirisasi potensi ekonomi lokal, reformasi pelayanan publik berbasis teknologi, serta penguatan karakter Situbondo sebagai Kota Santri.
Mahbub mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah mengedepankan kolaborasi dalam menjalankan agenda pembangunan.
“Mari kita bangun Situbondo dengan semangat ‘Tak Atokaran’ atau tidak bertengkar. Kita boleh berbeda strategi, tetapi harus satu tujuan: Situbondo yang lebih maju, adil, sejahtera, dan mandiri,” kata Mahbub.
Bupati Dorong Perubahan Pola Pikir
Bupati Situbondo, yang akrab disapa Mas Rio, menilai pembangunan daerah membutuhkan perubahan pola pikir, terutama dari generasi muda. Menurutnya, Situbondo tidak akan mencapai kemajuan maksimal jika masyarakat masih terjebak dalam kepentingan kelompok dan sikap sektarian.
“Kita terlalu lama terjebak dalam situasi yang terlalu keakuan dan sektarian, dan itu terbukti tidak menolong Situbondo,” ujarnya.
Mas Rio juga mengingatkan sejarah Besuki dan Panarukan yang pernah memiliki peran besar dalam perkembangan kawasan. Namun, saat ini Situbondo menghadapi kenyataan sebagai daerah dengan skala ekonomi terkecil di antara lima kabupaten dalam kawasan Sekarkijang.
Karena itu, ia mengajak generasi muda mengubah cara pandang dari kepentingan pribadi menuju kepentingan bersama.
“Pesan saya untuk anak-anak muda Situbondo: kita harus memiliki komitmen moral bahwa ‘aku’ harus kalah oleh ‘kita’,” tegasnya.
Besuki Jadi Fokus Pengembangan Pariwisata
Dalam strategi pemerataan pembangunan, pemerintah daerah akan mengembangkan potensi setiap kawasan berdasarkan keunggulannya.
Mas Rio menyebut wilayah barat, khususnya Besuki, memiliki modal sejarah dan kekayaan heritage yang kuat. Pemerintah akan mengoptimalkan potensi tersebut untuk mendorong Besuki sebagai salah satu pusat kebudayaan dan pariwisata Situbondo.
Sementara itu, wilayah timur yang telah berkembang sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi akan memperoleh formulasi kebijakan khusus dalam perencanaan pembangunan pada tahun-tahun mendatang.
Kolaborasi antara DPRD dan pemerintah daerah tersebut diharapkan mampu memperkuat fondasi pembangunan Situbondo. Pemerintah dan legislatif ingin membawa daerah itu keluar dari zona nyaman melalui penguatan ekonomi, pemerataan pembangunan, transformasi pelayanan publik, serta perubahan mentalitas masyarakat.
Momentum Harjakasi ke-208 pun menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada capaian ekonomi, tetapi juga pada kemampuan seluruh elemen daerah menyatukan tujuan untuk menjadikan Situbondo lebih maju, mandiri, dan sejahtera.

FALIHMEDIA.com berkomitmen memberikan berita terkini, lugas dan akurat. Dukung keberlanjutan jurnalisme dengan mengikuti kami di: Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.