AS dan Iran Bersitegang di Dewan Keamanan PBB soal Gelombang Unjuk Rasa

Ketegangan Amerika Serikat dan Iran dalam sidang Dewan Keamanan PBB membahas unjuk rasa di Iran
Duta Besar Amerika Serikat dan Iran menyampaikan pernyataan dalam sidang Dewan Keamanan PBB terkait situasi unjuk rasa di Iran

JAKARTA – Amerika Serikat dan Iran terlibat adu argumen panas dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat membahas situasi unjuk rasa besar-besaran yang mengguncang Iran.

Washington dengan tegas membantah tudingan Teheran yang menyebut demonstrasi tersebut sebagai hasil konspirasi asing yang melibatkan AS.

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz, menilai tuduhan Iran tersebut sebagai upaya menutupi lemahnya posisi pemerintah di hadapan gelombang protes rakyat.

Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB, Waltz menyebut bahwa rezim Iran kini berada dalam kondisi paling rapuh dan takut menghadapi kekuatan rakyatnya sendiri.

Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat berdiri di sisi warga Iran yang melakukan aksi protes dan menuntut perubahan.

Waltz juga menyinggung sikap Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyatakan bahwa seluruh opsi masih terbuka untuk menghentikan kekerasan terhadap demonstran.

Trump diketahui sempat melontarkan ancaman intervensi demi mendukung para pengunjuk rasa, menyusul laporan ribuan korban tewas akibat penindakan aparat keamanan Iran.

Namun, dalam pernyataan terbarunya, Trump memilih bersikap lebih hati-hati dengan menyatakan bahwa tingkat kekerasan dilaporkan mulai menurun dan belum ada indikasi eksekusi massal dalam waktu dekat.

Di sisi lain, Iran membalas dengan menuding AS menyebarkan kebohongan dan memelintir fakta untuk menyamarkan keterlibatan langsung dalam kerusuhan di wilayahnya. Tuduhan tersebut diperkuat oleh Rusia yang ikut bersuara dalam forum PBB.

Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, menilai AS sengaja mendorong digelarnya rapat Dewan Keamanan untuk membenarkan intervensi terhadap negara berdaulat.

Ia juga menuding Washington kerap menggunakan pendekatan militer guna menggulingkan pemerintahan yang tidak sejalan dengan kepentingannya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan agar seluruh pihak menahan diri. Ia mengingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut berpotensi menimbulkan korban jiwa tambahan dan memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.