UMKM  

Apen Rainbow Desa Parsanga Sumenep, Kuliner Turun-Temurun yang Bertahan dengan Bahan Alami

Apen Rainbow khas Desa Parsanga Kabupaten Sumenep dengan varian warna alami hasil produksi UMKM lokal
Ibu Kus Suryati saat bersama mahasiswa magang Uniba Sumenep

SUMENEP – Jajanan tradisional apen tetap menjadi salah satu kuliner khas yang melekat dengan Desa Parsanga, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep. Di tengah berkembangnya beragam makanan modern, UMKM Apen Rainbow berhasil mempertahankan resep warisan keluarga sekaligus menghadirkan inovasi yang menarik minat konsumen.

Pemilik Apen Rainbow, Kus Suryati, mengatakan usaha yang dikelolanya merupakan warisan keluarga yang telah berlangsung selama beberapa generasi. Ia meneruskan usaha tersebut pada awal tahun 2000-an setelah sebelumnya dirintis oleh sang nenek, Mbah Atik, yang telah lama dikenal sebagai penjual apen tradisional di Desa Parsanga.

“Saya tidak mengetahui secara pasti kapan usaha ini berdiri, karena sejak saya kecil nenek sudah berjualan apen. Baru pada tahun 2000-an saya melanjutkan usaha ini hingga sekarang,” ujar Kus bersama mahasiswa magang Uniba Sumenep, Selasa (21/7/2026).

Perjalanan usaha Apen Rainbow semakin berkembang setelah Kus mengikuti lomba kuliner Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Penghargaan yang diraih saat itu menjadi motivasi untuk terus melestarikan sekaligus mengembangkan jajanan tradisional khas Sumenep.

Meski mempertahankan cita rasa asli sebagai identitas utama, Kus juga melakukan inovasi dengan menghadirkan Apen Rainbow. Produk ini menawarkan beragam warna dan rasa yang seluruhnya berasal dari bahan-bahan alami tanpa tambahan pewarna sintetis.

Ia menjelaskan warna kuning diperoleh dari telur ayam kampung, warna hijau berasal dari daun pandan dan daun suji, sedangkan warna merah menggunakan sari buah naga.

“Kami sengaja menggunakan bahan alami agar cita rasa tetap terjaga sekaligus memberikan nilai tambah bagi konsumen,” jelasnya.

Apen original dipasarkan dengan harga Rp12.000 per kemasan, sedangkan Apen Rainbow dijual seharga Rp15.000 per kemasan berisi sepuluh potong. Selain apen, UMKM tersebut juga memproduksi serabi manis dan serabi kuah sebagai pilihan tambahan bagi pelanggan.

Dalam memasarkan produknya, Kus masih mengandalkan telepon seluler dan WhatsApp, khususnya melalui fitur status. Selain itu, produk juga dipasarkan melalui pedagang pasar yang mengambil langsung dari lokasi produksi untuk dijual kembali kepada masyarakat.

Menurutnya, pola pemasaran tersebut masih efektif karena sebagian besar produk yang dipasarkan di pasar selalu habis terjual pada pagi hari.

Penjualan Apen Rainbow juga menunjukkan tren yang stabil. Pada hari biasa, omzet usaha mencapai sekitar Rp500 ribu per hari. Sementara saat momen tertentu seperti Hari Raya Idulfitri, reuni, maupun kegiatan instansi pemerintah, omzet dapat meningkat hingga Rp800 ribu bahkan lebih dari Rp1 juta per hari.

Kus menambahkan, usahanya juga beberapa kali menerima pesanan dari berbagai instansi sebagai sajian rapat maupun kegiatan resmi. Untuk memenuhi permintaan tersebut, jumlah tenaga kerja disesuaikan dengan banyaknya pesanan agar seluruh produk dapat diselesaikan tepat waktu.

Di tengah persaingan usaha kuliner tradisional, Kus tetap optimistis. Ia menilai kepercayaan pelanggan yang telah terbangun selama bertahun-tahun menjadi modal utama dalam mempertahankan usahanya.

“Alhamdulillah, pelanggan sudah mengenal kualitas dan cita rasa khas apen yang kami buat, sehingga mereka terus memberikan kepercayaan kepada kami,” katanya.

Dengan menjaga resep turun-temurun, mempertahankan kualitas produk, serta menggunakan bahan-bahan alami, UMKM Apen Rainbow terus berkomitmen melestarikan salah satu warisan kuliner khas Kabupaten Sumenep sekaligus memperkuat daya saing produk lokal di tengah perkembangan industri kuliner.

Ikuti Kami Juga Google Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *