Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat (AS) meminta warganya yang berada di luar kawasan Timur Tengah mempertimbangkan kembali rencana perjalanan menuju atau melintasi kawasan tersebut. Imbauan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di Timur Tengah.
Departemen Luar Negeri AS menyampaikan peringatan tersebut melalui akun Travel.Gov di media sosial. Pemerintah AS meminta warga negaranya yang berada di kawasan Timur Tengah meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan situasi keamanan.
AS juga meminta warganya mengantisipasi kemungkinan gangguan perjalanan. Gangguan tersebut dapat berupa pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, hingga perubahan operasional bandara dan maskapai.
“Akibat ketegangan di Timur Tengah, situasi keamanan tetap kompleks dengan potensi eskalasi yang tak terduga,” demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS, seperti dikutip Anadolu, Minggu (20/9/2026).
Departemen Luar Negeri AS turut menyoroti aktivitas kelompok Houthi yang mendapat dukungan Iran. Dalam peringatannya, AS menyebut kelompok tersebut telah melakukan sejumlah tindakan permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan yang berkaitan dengan fasilitas bandara sipil.
AS menilai situasi konflik dapat berubah dengan cepat. Karena itu, warga Amerika yang bepergian menuju maupun meninggalkan kawasan Timur Tengah diminta terus memantau informasi terbaru dari bandara dan maskapai penerbangan.
Pemerintah AS juga mengingatkan warganya mengenai potensi ancaman terhadap fasilitas diplomatik Amerika Serikat. Dalam peringatan tersebut disebutkan bahwa sejumlah fasilitas diplomatik AS, termasuk yang berada di luar kawasan Timur Tengah, telah menjadi sasaran.
AS menyebut Iran dan kelompok yang berafiliasi dengannya berpotensi menargetkan kepentingan Amerika di luar negeri. Sasaran tersebut dapat mencakup fasilitas yang berkaitan dengan pemerintah AS dan warga negaranya, termasuk perusahaan serta institusi Amerika di berbagai negara.
Peringatan perjalanan itu muncul setelah kembali terjadi serangan yang melibatkan kelompok Houthi serta meningkatnya ketegangan antara kelompok tersebut dan Arab Saudi.
Riyadh Kembali Menghadapi Ancaman Serangan Houthi
Sebelumnya, warga Riyadh mendengar sejumlah ledakan pada Sabtu (19/9/2026). Otoritas Arab Saudi kemudian mengeluarkan peringatan serangan udara setelah menerima ancaman serangan dari kelompok Houthi yang berbasis di Yaman.
“Wilayah ini berada di bawah ancaman udara musuh,” demikian isi pesan peringatan yang diterima warga di ibu kota Arab Saudi, seperti dilaporkan AFP.
Insiden tersebut menjadi perhatian karena Riyadh kembali menghadapi ancaman langsung setelah konflik di Yaman kembali memanas pada Juli 2026.
Kelompok Houthi pada Jumat (18/9/2026) menuduh Arab Saudi melancarkan 26 serangan terhadap wilayah yang berada di bawah kendali mereka dalam kurun waktu 24 jam.
Houthi juga mengklaim Arab Saudi telah melancarkan sekitar 300 serangan ke wilayah yang mereka kuasai selama sepekan terakhir. Kelompok tersebut menyebut serangan itu terjadi di tengah meningkatnya bentrokan antara pasukan Houthi dan pemerintah Yaman yang mendapat dukungan Riyadh.
Situasi tersebut membuat ketegangan regional kembali meningkat. Kondisi ini juga mendorong sejumlah negara, termasuk AS, memperbarui peringatan keamanan bagi warga negaranya yang berada di Timur Tengah maupun yang memiliki rencana perjalanan ke kawasan tersebut.



