SUMENEP – Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Sumenep menggelar Karang Pamitran bagi Pembina Pramuka Penggalang tahun 2026 dengan menekankan pentingnya pembinaan yang humanis, aman, dan bebas dari kekerasan serta perundungan (bullying).
Kegiatan tersebut diikuti 77 pembina Pramuka dari berbagai gugus depan (Gudep) di Kabupaten Sumenep, terdiri atas 41 pembina putra dan 36 pembina putri. Karang Pamitran ini menjadi wadah bagi para pembina untuk bertukar pengalaman, meningkatkan kompetensi, serta memperkuat kualitas pendidikan kepramukaan.
Ketua Kwarcab Sumenep, Wahyu Kurniawan Pribadi, dalam sambutannya pada Sabtu (17/10/2026), menegaskan bahwa Karang Pamitran harus dimanfaatkan sebagai ruang belajar bersama untuk meningkatkan kemampuan pembina dalam mendampingi peserta didik.
Menurutnya, pembina Pramuka perlu terus mengembangkan diri agar kegiatan kepramukaan semakin menarik, relevan, dan mampu menjawab kebutuhan generasi muda.
“Melalui Karang Pamitran Kwarcab Sumenep, kita berharap ini menjadi tempat untuk saling belajar para pembina Pramuka Penggalang dalam mengasah diri dan mengasah kegiatan Pramuka,” ujar Wahyu.
Kwarcab Sumenep Tekankan Pembinaan Pramuka Bebas Perundungan
Salah satu perhatian utama dalam Karang Pamitran 2026 adalah penerapan pendekatan humanis dalam kegiatan kepramukaan. Wahyu menegaskan bahwa seluruh pembinaan harus mengutamakan keselamatan, kenyamanan, dan perlindungan peserta didik.
Ia mengingatkan bahwa praktik kekerasan dan perundungan tidak boleh mendapat tempat dalam kegiatan Pramuka. Sebaliknya, pembina harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan karakter, kedisiplinan, dan kemandirian peserta didik.
“Dalam isu terbaru, bagaimana pembinaan Pramuka menghindari dari kekerasan, perundungan dan harus humanis. Kita harus memberikan kepada adik-adik kegiatan yang aman, nyaman, bebas dari perundungan. Generasi Z dan Alpha harus didekati dengan pendekatan humanis,” tegasnya.
Menurut Wahyu, pendekatan terhadap Generasi Z dan Generasi Alpha perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan mereka. Dengan demikian, kegiatan kepramukaan tidak hanya berorientasi pada keterampilan dan kedisiplinan, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang positif.
Penekanan tersebut sejalan dengan materi Safe From Harm yang menjadi salah satu pembahasan utama dalam kegiatan Karang Pamitran kali ini.
Pembina Didorong Kembangkan Pramuka Produktif
Selain perlindungan peserta didik, Wahyu Kurniawan Pribadi juga mendorong para pembina untuk mengembangkan semangat Pramuka Produktif melalui kegiatan yang memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai kegiatan kepramukaan memiliki peluang besar untuk menanamkan keterampilan praktis, termasuk mendukung ketahanan pangan dan membangun kemandirian sejak dini.
Menurutnya, Syarat Kecakapan Umum (SKU) dapat dimanfaatkan untuk mendorong peserta didik terlibat dalam kegiatan produktif, seperti menanam sayuran, beternak, dan aktivitas lain yang sesuai dengan tingkat perkembangan mereka.
“Pengisian SKU bisa mengakomodir semangat Pramuka produktif, seperti melakukan kegiatan ketahanan pangan, menanam sayur, beternak, dan sebagainya. SKU seharusnya mengakomodir itu,” jelasnya.
Melalui pendekatan tersebut, pembina diharapkan mampu mengembangkan kegiatan Pramuka yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian kecakapan, tetapi juga membekali peserta didik dengan keterampilan hidup, kepedulian terhadap lingkungan, serta semangat produktivitas.
Pembina Pramuka Diminta Terus Belajar dan Tingkatkan Kompetensi
Dalam kesempatan yang sama, Wahyu juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas pembina melalui pendidikan dan pengembangan kompetensi secara berkelanjutan.
Ia mendorong para pembina untuk terus belajar dan memanfaatkan berbagai peluang pengembangan diri yang tersedia.
Menurutnya, kompetensi di bidang kepramukaan juga dapat menjadi nilai tambah bagi peserta didik. Terlebih, terdapat peluang beasiswa di sejumlah perguruan tinggi yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik dengan kompetensi dan prestasi di bidang Pramuka.
Karena itu, pembina diharapkan mampu mengarahkan peserta didik untuk mengembangkan potensi, meraih prestasi, dan mempersiapkan masa depan melalui kegiatan kepramukaan yang berkualitas.
Administrasi Gudep, Safe From Harm, dan Pengujian SKU Jadi Materi Utama
Dalam Karang Pamitran Pembina Penggalang Kwarcab Sumenep 2026, terdapat sejumlah materi utama yang menjadi perhatian peserta.
Selain administrasi Gugus Depan (Gudep), kegiatan ini membahas penerapan Safe From Harm serta tata cara menguji Syarat Kecakapan Umum (SKU).
Materi administrasi Gudep diharapkan dapat meningkatkan ketertiban pengelolaan organisasi kepramukaan di tingkat gugus depan. Sementara itu, pemahaman tentang Safe From Harm menjadi bekal bagi pembina untuk mencegah kekerasan, perundungan, dan berbagai bentuk tindakan yang dapat membahayakan peserta didik.
Adapun materi pengujian SKU diarahkan untuk memperkuat pemahaman pembina dalam menilai pencapaian kecakapan peserta didik secara tepat sesuai ketentuan kepramukaan.
Ketiga materi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi dapat diterapkan secara langsung oleh para pembina di gugus depan masing-masing.
Melalui Karang Pamitran ini, Kwarcab Sumenep berharap lahir pembina Pramuka Penggalang yang semakin kompeten, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap keselamatan dan perlindungan peserta didik.
Kegiatan tersebut sekaligus diharapkan memperkuat peran Gerakan Pramuka dalam membentuk generasi muda yang berkarakter, mandiri, produktif, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.















