SUMENEP – Desa Tenonan, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep, terus menunjukkan perkembangan sebagai salah satu sentra industri mebel yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Keahlian mengolah kayu yang diwariskan secara turun-temurun menjadikan desa ini dikenal sebagai penghasil berbagai produk furnitur berkualitas dengan pangsa pasar yang terus meluas.
Aktivitas produksi mebel menjadi pemandangan sehari-hari di Desa Tenonan. Mulai dari proses pemotongan kayu, penyerutan, hingga tahap ukiran dan penyelesaian akhir dilakukan oleh para pengrajin yang telah berpengalaman.
Sekretaris Desa Tenonan, Hasan, mengatakan usaha mebel telah menjadi mata pencaharian utama sebagian besar warga dan berkembang dari generasi ke generasi.
“Usaha mebel di sini bukanlah industri yang baru tumbuh. Keterampilan mengolah kayu diwariskan secara turun-temurun. Kekuatan produk mebel Desa Tenonan terletak pada kualitas bahan baku pilihan dan konstruksi yang kokoh,” ujarnya kepada Media Center Diskominfo Kabupaten Sumenep, Selasa (14/7/2026).
Berbagai produk furnitur diproduksi oleh para pengrajin, mulai dari lemari pakaian bergaya minimalis maupun ukiran klasik, set meja dan kursi tamu, tempat tidur, hingga kusen pintu dan jendela yang dikerjakan sesuai kebutuhan konsumen.
Menurut Hasan, berkembangnya industri mebel memberikan dampak positif terhadap perekonomian desa karena mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.
Industri ini menyerap tenaga kerja dari berbagai kalangan, mulai dari pemuda hingga pekerja berpengalaman yang menangani proses penyerutan, pengamplasan, perakitan, hingga tahap finishing menggunakan pelitur maupun cat.
“Sektor ini terbukti mampu menyerap tenaga kerja lokal dan menjadi sumber penghasilan bagi banyak keluarga di Desa Tenonan,” katanya.
Hasan menjelaskan keberhasilan produk mebel Tenonan menembus pasar luar daerah tidak terlepas dari konsistensi para pengrajin dalam menjaga kualitas sekaligus mengikuti perkembangan selera konsumen.
Selain mempertahankan model klasik, para pengrajin kini juga menghadirkan desain minimalis modern dan menerima pesanan furnitur khusus (custom) sesuai permintaan pelanggan.
“Para pengrajin tidak hanya mengandalkan desain konvensional, tetapi juga mulai mengadopsi model modern minimalis dan produk sesuai kebutuhan pasar,” jelasnya.
Di sisi lain, pemasaran produk juga mengalami perkembangan melalui pemanfaatan media sosial dan berbagai platform digital. Strategi tersebut membantu para pelaku usaha memperluas jangkauan pemasaran hingga ke berbagai daerah di luar Kabupaten Sumenep tanpa harus bergantung pada penjualan secara konvensional.
Keberhasilan sentra mebel Desa Tenonan diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi Kecamatan Manding sekaligus menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk mengembangkan potensi lokal berbasis industri kreatif.
Sebagai informasi, Desa Tenonan memiliki luas wilayah sekitar 817,95 hektare. Selain menjadi kawasan pertanian dengan lahan sawah seluas 37,6 hektare dan ladang atau tegalan sekitar 576,6 hektare, desa ini juga memiliki kawasan fasilitas umum yang mendukung aktivitas masyarakat. Perpaduan sektor pertanian dan industri mebel menjadikan Desa Tenonan sebagai salah satu desa dengan potensi ekonomi yang terus berkembang di Kabupaten Sumenep.














