FALIHMEDIA.COM | SUMENEP – Musim kemarau kembali membawa dampak serius bagi warga Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Sejak 15 hari terakhir, seluruh sumur dan aliran sungai resapan di desa tersebut mengering, membuat pasokan air bersih semakin langka.
Bagian Pemerintahan Desa Prancak, Naufil Hasbi, mengungkapkan bahwa kekeringan ini sudah menjadi langganan setiap tahun, terutama pada periode Agustus hingga Oktober. “Sekarang kondisinya sudah masuk puncak kekeringan. Kalau tidak ada perubahan dalam seminggu ke depan, banyak warga terpaksa membeli air dari desa lain,” ujarnya, Kamis (14/8/2025).
Dampak kekeringan tak hanya dirasakan di rumah-rumah warga, tetapi juga fasilitas umum. Sejumlah mushala dan masjid mulai kesulitan menyediakan air untuk wudu, bahkan ada yang sudah kehabisan sama sekali. Warga yang biasanya mengandalkan tampungan air hujan kini tak lagi punya cadangan.
Wilayah yang paling terdampak meliputi Dusun Tegal Barat, Pandian Laok, Paojajar, Kembang Suka, Billa Mabuk, dan Dusun Prancak. Akibat keterbatasan air, sebagian warga hanya mandi sekali sehari, tidak mencuci di rumah, atau bahkan harus pergi ke desa tetangga untuk mencuci pakaian.
Saat ini, pasokan air bersih diperoleh dari Desa Lebeng Barat, dijual dalam tangki berkapasitas 5.000 liter dengan harga Rp250.000–Rp300.000, atau ukuran 150 liter seharga Rp180.000–Rp200.000. Air tersebut digunakan untuk seluruh kebutuhan rumah tangga, mulai dari minum, memasak, mandi, hingga mencuci. Naufil memperkirakan pembelian air bersih akan meningkat drastis jika hujan tak kunjung turun.











