FALIHMEDIA.COM | SUMENEP – Musim panen tembakau tahun ini membawa keresahan bagi para petani di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Pasalnya, harga jual tembakau turun drastis dan dianggap tidak sebanding dengan tingginya biaya produksi serta risiko yang harus ditanggung di tengah kondisi cuaca yang sulit diprediksi.
Moh. Nurussyafi, petani asal Desa Rajun, Kecamatan Pasongsongan, mengatakan bahwa sebagian petani sudah memulai panen, sementara banyak lainnya justru baru menanam. Ketidaksamaan waktu tanam ini dipicu oleh pola cuaca yang tak menentu.
“Sebagian memang sudah panen, tapi banyak yang baru tanam,” ujarnya, Minggu (10/8/2025).
Menurut Syafi, tahun ini pola tanam tidak seragam seperti biasanya. Meski seharusnya sudah masuk musim kemarau, hujan masih sering turun. Hal ini membuat sebagian petani memilih menunda penanaman untuk menghindari risiko kerusakan tanaman.
“Musim kemarau baru terasa stabil di awal Juli, jadi banyak yang baru berani tanam di pertengahan bulan itu,” jelasnya.
Ironisnya, di tengah musim panen, harga tembakau tetap rendah. Untuk kualitas terbaik, harga tertinggi hanya mencapai Rp 40 ribu per kilogram, angka yang dinilai belum mampu menutup biaya produksi.
“Bukan untung yang kami dapat, malah rugi,” keluh Syafi.
Ia mengungkapkan, harga bibit tembakau pada awal Mei berkisar Rp 40 ribu per seribu batang, namun kini melonjak menjadi Rp 80 ribu–Rp 100 ribu. Untuk lahan seluas 50 meter persegi, petani membutuhkan 8.000–10.000 batang bibit dalam sekali tanam.
Syafi memprediksi harga tembakau akan cenderung turun memasuki bulan September. Di Madura, harga tembakau tegal biasanya berkisar Rp 50 ribu–Rp 65 ribu per kilogram, sedangkan tembakau gunung antara Rp 50 ribu–Rp 75 ribu. Jika cuaca mendukung, kualitas terbaik bisa tembus Rp 80 ribu per kilogram.











