JAKARTA – Langit sepanjang Agustus 2026 akan dihiasi sejumlah fenomena astronomi menarik. Ada elongasi Merkurius dan Venus, gerhana Matahari total, hujan meteor Perseid, hingga gerhana Bulan sebagian.
Tidak semua fenomena tersebut dapat diamati dari Indonesia. Namun, sejumlah peristiwa tetap menarik perhatian karena memiliki nilai ilmiah dan menjadi bagian dari kalender astronomi tahunan.
Merkurius Capai Elongasi Barat Maksimum
Fenomena astronomi Agustus 2026 diawali dengan elongasi barat maksimum Merkurius pada 2 Agustus.
Saat itu, Merkurius mencapai jarak sudut sekitar 19,5 derajat dari Matahari. Posisi tersebut membuat Merkurius berada pada jarak tampak terjauh dari Matahari jika dilihat dari Bumi.
Kondisi ini menjadi salah satu waktu yang baik untuk mengamati Merkurius. Pengamat dapat mencarinya di ufuk timur sesaat sebelum Matahari terbit.
Pengamatan akan lebih optimal jika langit cerah dan lokasi bebas dari penghalang pandangan.
Gerhana Matahari Total Terjadi 12 Agustus
Fenomena astronomi yang paling dinantikan terjadi pada 12 Agustus 2026. Pada tanggal tersebut, gerhana Matahari total melintasi sejumlah wilayah dunia.
Gerhana Matahari total terjadi ketika Bulan menutupi seluruh piringan Matahari. Dalam kondisi tersebut, korona atau atmosfer luar Matahari dapat terlihat.
Jalur totalitas akan melintasi Samudra Arktik, wilayah utara Rusia, Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, hingga Spanyol.
Sementara itu, gerhana sebagian dapat diamati dari Alaska, Kanada, sebagian Amerika Serikat bagian utara, Afrika barat, dan sejumlah wilayah Eropa.
Masyarakat Indonesia tidak dapat menyaksikan gerhana Matahari total tersebut secara langsung.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah lintasan gerhana, pengamatan Matahari harus menggunakan kacamata khusus gerhana untuk menghindari risiko kerusakan mata.
Hujan Meteor Perseid Capai Puncak
Pada 12 hingga 13 Agustus 2026, hujan meteor Perseid diperkirakan mencapai puncaknya.
Perseid merupakan salah satu hujan meteor populer. Pada kondisi pengamatan ideal, fenomena ini dapat menghasilkan sekitar 60 meteor per jam.
Hujan meteor Perseid berasal dari sisa material Komet Swift-Tuttle. Material tersebut meninggalkan jejak debu ketika komet mengorbit Matahari.
Aktivitas Perseid berlangsung setiap tahun sejak pertengahan Juli hingga akhir Agustus.
Pada 2026, puncak Perseid bertepatan dengan fase Bulan baru. Kondisi ini membuat langit lebih gelap sehingga mendukung pengamatan meteor.
Waktu terbaik untuk mengamati Perseid adalah setelah tengah malam dari lokasi yang minim polusi cahaya.
Bulan Baru Terjadi 13 Agustus
Fase Bulan baru terjadi pada 13 Agustus 2026 pukul 00.37 WIB.
Pada fase ini, Bulan berada di antara Bumi dan Matahari. Sisi Bulan yang menghadap Bumi pun tidak menerima cahaya Matahari secara langsung.
Kondisi langit yang lebih gelap dapat membantu pengamatan objek langit redup. Beberapa di antaranya adalah galaksi, nebula, gugus bintang, dan hujan meteor.
Venus Capai Elongasi Timur Maksimum
Fenomena berikutnya terjadi pada 15 Agustus 2026. Venus mencapai elongasi timur maksimum dengan jarak sudut sekitar 45,9 derajat dari Matahari.
Posisi tersebut membuat Venus tampak sangat terang di langit barat setelah Matahari terbenam.
Fenomena ini menjadi salah satu waktu yang baik untuk mengamati Venus, yang kerap dijuluki “Bintang Kejora”.
Gerhana Bulan Sebagian Tidak Terlihat dari Indonesia
Gerhana Bulan sebagian berlangsung pada 27–28 Agustus 2026.
Fenomena ini terjadi ketika sebagian permukaan Bulan memasuki bayangan inti atau umbra Bumi. Akibatnya, bagian Bulan tersebut tampak lebih gelap.
Wilayah yang dapat mengamati gerhana ini meliputi Amerika Utara, Amerika Selatan, Meksiko, Amerika Tengah, Eropa, Afrika, dan Samudra Atlantik.
Gerhana Bulan sebagian tersebut tidak dapat disaksikan dari Indonesia.
Sturgeon Moon Tutup Fenomena Astronomi Agustus
Rangkaian fenomena astronomi Agustus 2026 ditutup dengan fase Bulan purnama pada 28 Agustus pukul 11.19 WIB.
Bulan purnama Agustus dikenal dengan nama Sturgeon Moon. Sebutan tersebut berasal dari tradisi masyarakat asli Amerika Utara dan berkaitan dengan musim ikan sturgeon yang lebih mudah ditangkap di danau-danau besar.
Fase Bulan purnama ini juga memiliki sejumlah nama lain. Di antaranya Green Corn Moon dan Grain Moon yang berkaitan dengan musim panen di beberapa wilayah.
Dengan beragam fenomena tersebut, Agustus 2026 menjadi salah satu bulan yang menarik bagi pengamat langit.
Meski sejumlah peristiwa tidak dapat diamati dari Indonesia, elongasi Merkurius, hujan meteor Perseid, dan elongasi Venus tetap dapat menjadi perhatian bagi pecinta astronomi dan pengamat langit.











